Saya, Kamu, dan Dia
(Sketsa Persahabatan Kita)
Saya dan Kamu
Saya lupa kapan mulanya saya dekat denganmu. Yang cuma saya
ingat, saya pernah sekelas denganmu di dua lembaga pendidikan, formal dan
informal. Saya bahkan lupa kapan awalnya kita pernah menyapa yang kemudian
menjadi awal kita menyusun keping persahabatan.
Tak ada yang menduga kita bisa dekat dan bersahabat. Saya pun
tak pernah mengira, karena kata banyak orang, kita sama-sama berkepribadian
plegmatis dan ekstrovert. Sama-sama pendiam dan sulit berinteraksi. Dulu, kita
hanya saling pandang ketika bertemu. Tanpa sapa, tanpa bicara. Saya dan kamu
biasa saja dengan keadaan begitu. Padahal, kita sering kali berpapasan.
Dua tahun kemudian, saat kita sama-sama duduk di kelas XII
SLTA, tiba-tiba ada kebersamaan yang berbeda di antara kita. Kali ini, kita
tidak hanya bersama karena alasan satu kelas atau satu kos, tapi lebih dari
itu, kebersamaan kita lebih disebabkan keterpanggilan hati untuk saling
berbagi, bersahabat ibarat merpati. Saya pun tak ragu untuk mengeluarkan segala
yang mengendap di hati ini kepadamu, karena saya percaya kamu bisa menjaganya
dengan baik, atau paling tidak kamu bisa memberi kesejukan ketika kemelut
persolaan itu menggelayuti sisi hidupku.
Saya bersyukur kamu bersedia hadir mewarnai sketsa hidupku.
Bersedia menemaniku dalam kesendirian. Bukan apa-apa, ini karena saya memang
sulit berinteraksi dengan orang yang bagi saya tidak “sefaham”. Padahal, itu
tidak baik, saya kira. Tapi entah, saya kesulitan sekali untuk mengubah
karakter yang demikian. Bukan maksud hati untuk mendiskriminasikan orang lain.
Bukan, bukan itu maksud saya. Lagi-lagi, ini karena karakter yang memang sulit
diperbaiki. Tapi saya masih tetap berupaya untuk mengubahnya. Dan saat ini,
kecocokan itu saya temukan dalam jiwamu yang lapang, sehingga saya merasa tak
sungkan atau canggung untuk sekedar mengoceh, mengomel, atau merengek di
pangkuanmu. Bebas… dan kamu tentu sangat tahu bagaimana diriku yang
sesungguhnya.
Tatkala saya melihatmu, selalu ada keteduhan yang bertandang
di sana. Terpancar dari pesonamu. Itulah barangkali yang membuat semua orang
betah berada di sampingmu. Itulah mungkin alasan kenapa banyak orang
menjadikanmu sebagai rumah berbagi. Dulu saya sempat mengerling iri pada semua
sisi yang ada padamu. Senang sekali rasanya menjadi dirimu, begitulah hati saya
selalu berbisik. Semua hal kamu punya; ketulusan, kecerdasan, kasih sayang,
paras indah, dan cinta darinya. Rumput di depan rumahmu selalu terlihat lebih
hijau daripada rumput di rumahku. Saya berkata begitu bukan mau berapologi atau
sekedar beretorika tanpa makna. Inilah memang realita kita.
Saya menghitung-hitung, ternyata usia persahabatan kita bisa
dibilang sudah tua, yaitu sejak kita sama-sama menjadi siswa di jenjang SLTA
hingga menjejakkan kaki di kampus tercinta. Usia yang semestinya sudah dapat
memberi keterangan lengkap seperti apa dirimu dan bagaimana perjalanan hidupmu.
Semua karakter saya, semua kisah hidup saya tentu kamu memahaminya betul. Tak
ada waktu yang saya luangkan kecuali bercerita perihal hidupku padamu: tentang
ilmu, tentang persahabatan, tentang luka, tentang lelaki itu, tentang cemburu,
dan banyak hal yang tidak bisa saya sebut satu-satu. Maka pantas rasanya jika
ada orang yang ingin mengetahui sisi hidupku, saya serahkan saja padamu untuk
menjawabnya.
Beda dengan saya, kamu justru lebih ekstrovert. Jarang sekali
saya menemukanmu bercerita padaku, yang ada kamu hanya menjadi pendengar yang
baik. Meski ada, itu pun tak seberapa. Sempat banyak pertanyaan yang bercokol
di pikiran saya, apakah kamu tidak memberi kepercayaan pada saya atau memang
tidak ada kisah yang perlu kamu ceritakan. Yang jelas, selama ini saya belum
tahu banyak tentang perjalanan hidupmu. Terlebih ketika kamu sudah pergi dan
tidak satu kos lagi denganku. Kamu pergi untuk menjalani kehidupan yang
sesungguhnya. Kehidupan nyata yang malang melintang. Dan perlu kamu tahu, di
balik diamku, hal itu sempat membuat saya takut berjalan. Tanpamu.
Masih tentangmu yang pendiam, ternyata kamu lihai berkamuflase.
Buktinya, kamu mampu menyimpan luka dengan tawa dan menyimpan kecewa dengan
senyum. Saya bisa membacanya dengan seksama, sebab sudah banyak kekecewaan yang
pernah saya cipta, tapi nyaris kamu tak pernah mengeluh dengan semua itu. Semua
tampak biasa-biasa saja. Seperti tak ada apa-apa. Tapi saya tahu, jauh di
kedalaman hatimu pasti ada kecewa yang juga tergantung dan tercabik. Maafkan saya…
Saya senang ketika purnama datang, karena saya tak suka gelap.
Maka, pada purnamalah saya berharap. Tapi purnama malam itu terasa beda. Kamu
kaget mendapati saya dengan wajah bermuram-durja. Tak ada senyum lagi yang
biasa terkulum di malam purnama itu. Dengan heran kamu bertanya apa yang tengah
terjadi, tapi saya tak bisa berkata-kata apa-apa. Jawaban saya hanyalah isak
tangis tak berkesudahan. Saya kehabisan kata-kata untuk bercerita. Perlahan,
dengan caramu yang tulus akhirnya saya menemukan ketenangan. Belaian tanganmu
di ubun-ubunku menyumbangkan segenggam kekuatan. Adamu sungguh sangat berjasa.
Saya tak tahu harus membalas apa. Hanya ucapan terimakasih yang tiada
tara…
Saya dan Dia
“Lebih memilih hidup dengan orang yang kita cintai atau yang
mencintai kita?” sms dari no. tak dikenal tiba-tiba masuk dalam ponsel saya
malam itu, 23 Ramadhan 1431 H. Aneh, orang tak dikenal kok malah menanyakan hal sedalam itu? Siapa dia? Tanpa salam, tanpa
permisi, berani-beraninya bertanya seperti itu. Kesal sekali saya malam itu.
Dia semakin memperkeruh suasana di tengah kemelut persoalan yang tak sederhana
saya hadapi. Tentang hati yang katanya sepi.
Sebentar, sebelum saya jawab, saya harus tahu dulu siapa
pemilik sms ini. Saya bertanya identitasnya. Sms balasan masuk. Tidak seperti
kebanyakan no. asing yang suka usil, tanpa keberatan dia membuka tentang
dirinya yang anonim: namanya, statusnya, lembaga pendidikannya, dan sebagainya.
Tidak asing saya dengar nama orang itu. Oh, ini orang baik-baik. Saya temukan
itu dari kejujurannya memperkenalkan diri. Tapi saya tetap bertanya-tanya, kami
yang tidak saling kenal sebelumnya, kenapa harus muncul tanya yang filosofis
itu?
Usut diusut, ternyata ini ada hubungannya dengan persoalan
yang saya hadapi. Katanya, ia datang untuk menjadi penolong. Ia ingin menebar
aroma kebaikan. Hampir semua problem yang saya hadapi waktu itu ada dalam
rekaman otaknya. Ia mengetahui semua. Mudah saja baginya untuk menyerangku yang
berada di pihak “lawan”. Ah, ada-ada saja nih
orang. Hanya semalam saja bertukar pikiran, ia sudah mampu menaklukkan.
Saya semakin merasa berada di pihak yang salah karena
petuahnya yang sejernih telaga. Cukup cerdas ia memperalat kata untuk memberi
penyadaran pada saya, tentang pilihan hidup dan tentang semuanya. Tapi
tetap saja saya bertahan pada pendirian
sebelumnya.
Beberapa lama kemudian, tak dirasa bertukar pikiran perihal
hidup dengannya menjadikan kami semakin dekat. Mengalir, persahabatan itu mulai
terjalin bagai air.
Beruntung, dia satu-satunya orang yang saya percayai kala itu.
Nyaris setelah menghadapi kepelikan itu, saya kehilangan kepercayaan pada siapapun.
Maka dirinyalah yang akhirnya saya lantik sebagai orang yang “bebas” mengetahui
segala hal yang mengintai hidupku. Dengan gayanya yang humoris plus narsis, saya diajari untuk
menghadapi kenyataan dengan santai dan positif. Beban saya semakin ringan.
Berton-ton masalah di pundak perlahan meregang.
Dalam perjalanannya yang cukup lama, persahabatan kami tak
jarang didatangi belati tajam. Sebagian orang berkomentar, katanya kedekatan
kami menyimpan “sesuatu” yang berbeda. Ada kedekatan lain yang tercipta di
sana. Di lingkungannya, di lingkungan saya, semua orang nyaris membicarakan hal
yang sama. Wajar, apapun namanya, kedekatan laki-laki dan perempuan selalu
mengundang tanya curiga meski tidak demikian faktanya. Kami abaikan itu. Tak
ada guna menggubrisnya. Toh kami
baik-baik saja. Bahkan tidak ada apa-apa sebagaimana yang mereka duga. Kenapa
mereka tak percaya?
Saya, Kamu, dan Dia
Berawal dari keinginan saya
untuk mengenalkanmu padanya, kita bertiga akhirnya bisa bersama layaknya
keluarga. Kedekatan saya dengannya, membuatmu juga dekat dengannya. Lautan cerita hidup kita
kayuh bersama. karakter kita yang berbeda: saya yang melankolis, kamu yang
plegmatis, dan dia yang sanguinis menjadikan lukisan persahabatan kita semakin
lengkap dengan perpaduan warna beragam.
Cerita-cerita kita mengenai dirinya selalu saja mengundang
tawa. Cara dia bersahabat sungguh berbeda. Banyak pertolongan yang sering ia
tawarkan. Saling mengingatkan, saling berbagi ilmu, dan saling mendukung
kreativitas, itulah misi persahabatan
kita. Komitmen untuk terus bersahabat membuat kapas persahabatan kita tidak
direcoki noda-noda artifisialitas. Putih dan bebas kepentingan. Semua ini
berjalan murni tanpa direncanakan.
Sketsa saya, kamu, dan dia
yang diberikan pada 6 April masih
tersimpan rapi di lemari kita. Akan saya abadikan hingga kelak saya bisa ingat
kalau kita pernah bersama menyusun kata.
Saat ini, masing-masing kita sudah mengambil jalan hidup
yang berbeda. Menetapkan pilihan tersendiri untuk kebaikan masa depan kita.
Kamu telah mengarungi kehidupan yang sebenarnya dan bahagia bersamanya, dan dia
masih setia dengan cintanya dan berjuang menjadi “penjaga” kalam Allah. Sementara saya, saya juga purna menetapkan
pilihan untuk masa depan. Pilihan inilah yang mestinya membuat kita sadar bahwa
adakalanya persahabatan harus berubah.
Saya bersyukur, Tuhan memberikan kenyamanan dan keyakinan
atas pilihan kita masing-masing.
Bagaimanapun, kita mesti tahu bahwa hidup ini tak selamanya menampilkan
kenyataan seperti yang kita inginkan. Teruslah berjalan menuju pilihan yang
kalian tetapkan. Di sana ada mutiara yang akan kalian dapatkan. Insya Allah….
Untuk
Januari-mu, Sanah Hilwa, Shob… jadilah istri yang shalihah, yang bisa
membuatnya nyaman.
Untuk
Maret-mu, Happy Milad, El… yakinilah dengan pilihanmu sendiri. Allah tak pernah
alpa untuk memberi yang terbaik bagi hamba yang bersedia menjaga kalamNya.
Gubuk LPM, 14 Januari 2013
El Sanie :-)
BalasHapusIni tulisan yang nggak jadi diantologikan. :D
BalasHapus