Halaman

Sabtu, 17 Agustus 2013



Saya, Kamu, dan Dia
(Sketsa Persahabatan Kita)
Saya dan Kamu
       Saya lupa kapan mulanya saya dekat denganmu. Yang cuma saya ingat, saya pernah sekelas denganmu di dua lembaga pendidikan, formal dan informal. Saya bahkan lupa kapan awalnya kita pernah menyapa yang kemudian menjadi awal kita menyusun keping persahabatan.
       Tak ada yang menduga kita bisa dekat dan bersahabat. Saya pun tak pernah mengira, karena kata banyak orang, kita sama-sama berkepribadian plegmatis dan ekstrovert. Sama-sama pendiam dan sulit berinteraksi. Dulu, kita hanya saling pandang ketika bertemu. Tanpa sapa, tanpa bicara. Saya dan kamu biasa saja dengan keadaan begitu. Padahal, kita sering kali berpapasan.
       Dua tahun kemudian, saat kita sama-sama duduk di kelas XII SLTA, tiba-tiba ada kebersamaan yang berbeda di antara kita. Kali ini, kita tidak hanya bersama karena alasan satu kelas atau satu kos, tapi lebih dari itu, kebersamaan kita lebih disebabkan keterpanggilan hati untuk saling berbagi, bersahabat ibarat merpati. Saya pun tak ragu untuk mengeluarkan segala yang mengendap di hati ini kepadamu, karena saya percaya kamu bisa menjaganya dengan baik, atau paling tidak kamu bisa memberi kesejukan ketika kemelut persolaan itu menggelayuti sisi hidupku.
       Saya bersyukur kamu bersedia hadir mewarnai sketsa hidupku. Bersedia menemaniku dalam kesendirian. Bukan apa-apa, ini karena saya memang sulit berinteraksi dengan orang yang bagi saya tidak “sefaham”. Padahal, itu tidak baik, saya kira. Tapi entah, saya kesulitan sekali untuk mengubah karakter yang demikian. Bukan maksud hati untuk mendiskriminasikan orang lain. Bukan, bukan itu maksud saya. Lagi-lagi, ini karena karakter yang memang sulit diperbaiki. Tapi saya masih tetap berupaya untuk mengubahnya. Dan saat ini, kecocokan itu saya temukan dalam jiwamu yang lapang, sehingga saya merasa tak sungkan atau canggung untuk sekedar mengoceh, mengomel, atau merengek di pangkuanmu. Bebas… dan kamu tentu sangat tahu bagaimana diriku yang sesungguhnya.
       Tatkala saya melihatmu, selalu ada keteduhan yang bertandang di sana. Terpancar dari pesonamu. Itulah barangkali yang membuat semua orang betah berada di sampingmu. Itulah mungkin alasan kenapa banyak orang menjadikanmu sebagai rumah berbagi. Dulu saya sempat mengerling iri pada semua sisi yang ada padamu. Senang sekali rasanya menjadi dirimu, begitulah hati saya selalu berbisik. Semua hal kamu punya; ketulusan, kecerdasan, kasih sayang, paras indah, dan cinta darinya. Rumput di depan rumahmu selalu terlihat lebih hijau daripada rumput di rumahku. Saya berkata begitu bukan mau berapologi atau sekedar beretorika tanpa makna. Inilah memang realita kita.
       Saya menghitung-hitung, ternyata usia persahabatan kita bisa dibilang sudah tua, yaitu sejak kita sama-sama menjadi siswa di jenjang SLTA hingga menjejakkan kaki di kampus tercinta. Usia yang semestinya sudah dapat memberi keterangan lengkap seperti apa dirimu dan bagaimana perjalanan hidupmu. Semua karakter saya, semua kisah hidup saya tentu kamu memahaminya betul. Tak ada waktu yang saya luangkan kecuali bercerita perihal hidupku padamu: tentang ilmu, tentang persahabatan, tentang luka, tentang lelaki itu, tentang cemburu, dan banyak hal yang tidak bisa saya sebut satu-satu. Maka pantas rasanya jika ada orang yang ingin mengetahui sisi hidupku, saya serahkan saja padamu untuk menjawabnya.
       Beda dengan saya, kamu justru lebih ekstrovert. Jarang sekali saya menemukanmu bercerita padaku, yang ada kamu hanya menjadi pendengar yang baik. Meski ada, itu pun tak seberapa. Sempat banyak pertanyaan yang bercokol di pikiran saya, apakah kamu tidak memberi kepercayaan pada saya atau memang tidak ada kisah yang perlu kamu ceritakan. Yang jelas, selama ini saya belum tahu banyak tentang perjalanan hidupmu. Terlebih ketika kamu sudah pergi dan tidak satu kos lagi denganku. Kamu pergi untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan nyata yang malang melintang. Dan perlu kamu tahu, di balik diamku, hal itu sempat membuat saya takut berjalan. Tanpamu.
       Masih tentangmu yang pendiam, ternyata kamu lihai berkamuflase. Buktinya, kamu mampu menyimpan luka dengan tawa dan menyimpan kecewa dengan senyum. Saya bisa membacanya dengan seksama, sebab sudah banyak kekecewaan yang pernah saya cipta, tapi nyaris kamu tak pernah mengeluh dengan semua itu. Semua tampak biasa-biasa saja. Seperti tak ada apa-apa. Tapi saya tahu, jauh di kedalaman hatimu pasti ada kecewa yang juga tergantung dan tercabik. Maafkan saya…
       Saya senang ketika purnama datang, karena saya tak suka gelap. Maka, pada purnamalah saya berharap. Tapi purnama malam itu terasa beda. Kamu kaget mendapati saya dengan wajah bermuram-durja. Tak ada senyum lagi yang biasa terkulum di malam purnama itu. Dengan heran kamu bertanya apa yang tengah terjadi, tapi saya tak bisa berkata-kata apa-apa. Jawaban saya hanyalah isak tangis tak berkesudahan. Saya kehabisan kata-kata untuk bercerita. Perlahan, dengan caramu yang tulus akhirnya saya menemukan ketenangan. Belaian tanganmu di ubun-ubunku menyumbangkan segenggam kekuatan. Adamu sungguh sangat berjasa. Saya tak tahu harus membalas apa. Hanya ucapan terimakasih yang tiada tara…    

Saya dan Dia
       “Lebih memilih hidup dengan orang yang kita cintai atau yang mencintai kita?” sms dari no. tak dikenal tiba-tiba masuk dalam ponsel saya malam itu, 23 Ramadhan 1431 H. Aneh, orang tak dikenal kok malah menanyakan hal sedalam itu? Siapa dia? Tanpa salam, tanpa permisi, berani-beraninya bertanya seperti itu. Kesal sekali saya malam itu. Dia semakin memperkeruh suasana di tengah kemelut persoalan yang tak sederhana saya hadapi. Tentang hati yang katanya sepi.
       Sebentar, sebelum saya jawab, saya harus tahu dulu siapa pemilik sms ini. Saya bertanya identitasnya. Sms balasan masuk. Tidak seperti kebanyakan no. asing yang suka usil, tanpa keberatan dia membuka tentang dirinya yang anonim: namanya, statusnya, lembaga pendidikannya, dan sebagainya. Tidak asing saya dengar nama orang itu. Oh, ini orang baik-baik. Saya temukan itu dari kejujurannya memperkenalkan diri. Tapi saya tetap bertanya-tanya, kami yang tidak saling kenal sebelumnya, kenapa harus muncul tanya yang filosofis itu? 
       Usut diusut, ternyata ini ada hubungannya dengan persoalan yang saya hadapi. Katanya, ia datang untuk menjadi penolong. Ia ingin menebar aroma kebaikan. Hampir semua problem yang saya hadapi waktu itu ada dalam rekaman otaknya. Ia mengetahui semua. Mudah saja baginya untuk menyerangku yang berada di pihak “lawan”. Ah, ada-ada saja nih orang. Hanya semalam saja bertukar pikiran, ia sudah mampu menaklukkan.
       Saya semakin merasa berada di pihak yang salah karena petuahnya yang sejernih telaga. Cukup cerdas ia memperalat kata untuk memberi penyadaran pada saya, tentang pilihan hidup dan tentang semuanya. Tapi tetap  saja saya bertahan pada pendirian sebelumnya.
       Beberapa lama kemudian, tak dirasa bertukar pikiran perihal hidup dengannya menjadikan kami semakin dekat. Mengalir, persahabatan itu mulai terjalin bagai air. 
       Beruntung, dia satu-satunya orang yang saya percayai kala itu. Nyaris setelah menghadapi kepelikan itu, saya kehilangan kepercayaan pada siapapun. Maka dirinyalah yang akhirnya saya lantik sebagai orang yang “bebas” mengetahui segala hal yang mengintai hidupku. Dengan gayanya yang humoris plus narsis, saya diajari untuk menghadapi kenyataan dengan santai dan positif. Beban saya semakin ringan. Berton-ton masalah di pundak perlahan meregang.
       Dalam perjalanannya yang cukup lama, persahabatan kami tak jarang didatangi belati tajam. Sebagian orang berkomentar, katanya kedekatan kami menyimpan “sesuatu” yang berbeda. Ada kedekatan lain yang tercipta di sana. Di lingkungannya, di lingkungan saya, semua orang nyaris membicarakan hal yang sama. Wajar, apapun namanya, kedekatan laki-laki dan perempuan selalu mengundang tanya curiga meski tidak demikian faktanya. Kami abaikan itu. Tak ada guna menggubrisnya. Toh kami baik-baik saja. Bahkan tidak ada apa-apa sebagaimana yang mereka duga. Kenapa mereka tak percaya?

Saya, Kamu, dan Dia
Berawal dari keinginan saya untuk mengenalkanmu padanya, kita bertiga akhirnya bisa bersama layaknya keluarga. Kedekatan saya dengannya, membuatmu juga  dekat dengannya. Lautan cerita hidup kita kayuh bersama. karakter kita yang berbeda: saya yang melankolis, kamu yang plegmatis, dan dia yang sanguinis menjadikan lukisan persahabatan kita semakin lengkap dengan perpaduan warna beragam.
                Cerita-cerita  kita mengenai dirinya selalu saja mengundang tawa. Cara dia bersahabat sungguh berbeda. Banyak pertolongan yang sering ia tawarkan. Saling mengingatkan, saling berbagi ilmu, dan saling mendukung kreativitas,  itulah misi persahabatan kita. Komitmen untuk terus bersahabat membuat kapas persahabatan kita tidak direcoki noda-noda artifisialitas. Putih dan bebas kepentingan. Semua ini berjalan murni tanpa direncanakan.
Sketsa saya, kamu, dan dia yang diberikan pada 6 April  masih tersimpan rapi di lemari kita. Akan saya abadikan hingga kelak saya bisa ingat kalau kita pernah bersama menyusun kata.  
            Saat ini, masing-masing kita sudah mengambil jalan hidup yang berbeda. Menetapkan pilihan tersendiri untuk kebaikan masa depan kita. Kamu telah mengarungi kehidupan yang sebenarnya dan bahagia bersamanya, dan dia masih setia dengan cintanya dan berjuang menjadi “penjaga” kalam Allah.  Sementara saya, saya juga purna menetapkan pilihan untuk masa depan. Pilihan inilah yang mestinya membuat kita sadar bahwa adakalanya persahabatan harus berubah.
            Saya bersyukur, Tuhan memberikan kenyamanan dan keyakinan atas  pilihan kita masing-masing. Bagaimanapun, kita mesti tahu bahwa hidup ini tak selamanya menampilkan kenyataan seperti yang kita inginkan. Teruslah berjalan menuju pilihan yang kalian tetapkan. Di sana ada mutiara yang akan kalian dapatkan. Insya Allah….
Untuk Januari-mu, Sanah Hilwa, Shob… jadilah istri yang shalihah, yang bisa membuatnya nyaman.
Untuk Maret-mu, Happy Milad, El… yakinilah dengan pilihanmu sendiri. Allah tak pernah alpa untuk memberi yang terbaik bagi hamba yang bersedia menjaga kalamNya.

Gubuk LPM, 14 Januari 2013

2 komentar: