Halaman

Jumat, 11 Oktober 2013

KEDUDUKAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI BUMI (Studi Ayat al-Quran Surat al-Baqarah: 30)

Jauh sebelum manusia diciptakan, Allah telah memberi tahu malaikat tentang rencana penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi untuk membangun dan mengelola dunia. Allah menyebutnya dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 30 dan dipertegas dalam surat al-An’am ayat 165. Informasi Allah tersebut ternyata mendatangkan kekhawatiran malaikat dan dugaan terhadap khalifah yang akan diciptakan Allah Swt. ini adalah makhluk yang akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah karena perselisihan. Dugaan ini berdasarkan pengalaman mereka sebelum terciptanya manusia, di mana ada makhluk yang berlaku demikian, atau bisa juga berdasarkan asumsi bahwa yang akan ditugaskan menjadi khalifah bukan malaikat, maka pasti makhluk tersebut berbeda dengan mereka yang selalu bertasbih dan menyucikan Allah Swt.

Kekhawatiran malaikat ini langsung dijawab oleh Allah pada pernyataan selanjutnya, sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Para ulama’tafsir berbeda pendapat tentang dikeluarkannya pertanyaan tersebut, apakah pertanyaan itu merupakan bentuk protes atau bukan. Muncul juga pertanyaan, mengapa malaikat sudah mengetahui bahwa khalifah (manusia) yang akan diciptakan Allah akan merusak bumi dan menumpahkan darah di bumi tersebut, sementara sang khalifah belum diciptakan? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan kritis lain yang terkait dengan surat al-Baqarah ayat 30 ini. Untuk itulah, penulis merasa perlu untuk meneliti ayat ini dari berbagai sumber kitab tafsir guna mendapatkan keterangan komprehensif dan objektif tentang ayat yang mengandung sejumlah persoalan tersebut, sehingga menemukan jawaban yang bisa dinilai representatif.

Dalam al-Quran Allah Swt. berfirman: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Quraish Shihab dalam al-Mishbah (Lentera hati: 2000) mengatakan, kelompok ayat ini dimulai dengan penyampaian keputusan Allah kepada para malaikat tentang rencanaNya menciptakan manusia di bumi. Penyampaian kepada mereka penting, karena malaikat akan dibebani sekian tugas yang akan terkait dengan manusia. Ada yang bertugas mencatat amal-amal manusia, ada yang bertugas memeliharanya, ada yang membimbingnya, dan lain sebagainya.

Penyampaian itu juga, kelak ketika diketahui manusia, akan mengantarnya bersyukur kepada Allah atas anugerahNya yang tersimpul dalam dialog Allah dengan para malaikat, sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di dunia. Penyampaian ini bisa jadi setelah proses penciptaan alam raya dan kesiapannya untuk dihuni manusia pertama (Adam) dengan nyaman. 

Dalam ayat 28 surat Al-Baqarah, Allah menjelaskan asal-usul manusia beserta alam-alam yang menjadi destinasi-destinasi eksistensialnya, yang berakhir pada: ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ  (kemudian (pada akhirnya) kepada-Nya-lah kalian dikembalikan). Sementara di ayat 29, Allah menjelaskan perjalan ruhani yang sejatinya dilewati oleh tiap individu manusia, yang bermula dari bumi, dari dunia material, dari tubuh biologis, untuk selanjutnya beranjak menuju ke ‘langit’ dengan melintasi tujuh lapis ‘langit’. Seluruh kandungan al-Qur’an bermuara ke kedua jenis perjalanan ini: perjalanan eksistensial (ayat 28) dan perjalanan spiritual (ayat 29). Artinya, seluruh gagasan sosial, ideologi, dan politik manusia harus sejalan (dan sekaligus menjadi bagian) dari kedua jenis perjalanan tersebut. Dan agar tidak menyimpang dan tetap berada pada shirathal mustaqim, manusia mutlak membutuhkan petunjuk.

Dalam rangka memberi petunjuk inilah Allah menciptakan khalifah di bumi untuk membawa risalah-risalahNya. Dalam ayat 30 ini Allah mengemukakan dan sekaligus memaklumatkan ‘gagasan-besar’ ini kepada para malaikat:"Sungguh Aku akan menjadikan di bumi seorang khalifah". Isi maklumat ini sangat jelas, tegas, dan gamblang: seorang khalifah, bukan dua atau banyak orang. Jabatannya juga jelas: khalifah, bukan Nabi bukan Rasul. Tempat dan wilayah kekuasaannya juga jelas: di bumi, dan bukan di planet, di galaksi atau di semesta lain. Hal yang sama juga terjadi pada pelaku yang punya prerogatif mengangkat khalifah tersebut; bentuk katanya jelas dan terang benderang, yaitu إِنِّي (sungguh Aku) dan bukan إِنَّا (sungguh Kami). Semua itu menunjukkan dengan sangat tegas—tanpa membuka peluang lain—bahwa penentuan dan penunjukan khalifah adalah murni otoritas dan prerogatif tunggal Allah.

Ada yang mengatakan bahwa kata khalifah di ayat ini adalah berkenaan dengan manusia secara keseluruhan. Sehingga, bagi mereka, maklumat Allah kepada para malaikat tersebut adalah pemberitahuan tentang akan diciptakannya makhluk baru yang bernama “manusia” yang akan melaksanakan tugas sebagai khalifah Allah di bumi. Tetapi akan berbeda maknanya ketika  dibandingkan dengan dua ayat berikut ini:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُون (الحجر: 28)
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِن طِينٍ (ص: 71)

Pada surat al-Baqarah: 30 objeknya disebut dengan tegas: khalifah; sementara dalam surat al-Hijr: 28 dan Shaat: 71 objeknya juga disebut dengan tegas: basyar. Sedangkan asal-usul basyar dengan gamblang disebut berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan dari tanah. Ayat 30 menyebut keterangan tempat, di bumi, sebagai wilayah efektivitas kekuasaan Sang khalifah, sedangkan dalam surat al-Hijr: 28 dan Shaat: 71 tidak menyebutkannya sama sekali.

Dari perbedaan itu, bisa disimpulkan bahwa keduanya juga mempunyai maksud yang bebeda. Dalam surat al-Hijr: 28  dan Shaat: 70, Allah mendeklarasikan penciptaan manusia, makhluk baru yang berkedudukan lebih tinggi dari malaikat. Sementara dalam al-Baqarah: 30 Allah memaklumatkan pucuk pimpinan dari manusia tersebut agar mereka tidak tersesat. Karena manakala nanti tidak mengakui dan mengikuti khalifah pilihan Allah ini, niscaya mereka (basyar) akan dipimpin oleh pemimpin duniawi yang hanya akan mengejar kepentingan sesaat.

Dari ayat ini bisa dipahami bahwa khalifah adalah bentuk takhsis `(pengkhususan) dari manusia basyar, setelah Allah memilihnya secara ekslusif, dengan tugas yang juga ekslusif, yaitu memandu manusia mengerjakan amal saleh dan menghindarkan mereka dari perbuatan syirik. Al-Qurtubi dalam Tafsir al-Qurthubi menukil dari Zaid Ibnu Ali, yang dimaksud dengan khalifah dalam ayat ini bukan hanya Nabi Adam ‘alaihis salam saja seperti yang dikatakan oleh sejumlah ahli tafsir. Al-Qurtubi menisbatkan pendapat ini kepada Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan semua ahli takwil. Akan tetapi apa yang dikatakan oleh Al-Qurtubi ini masih perlu dipertimbangkan. Bahkan perselisihan dalam masalah ini masih banyak, menurut riwayat ar-Razi dalam kitab tafsirnya, juga oleh yang lainnya.

Lalu para malaikat berkata  . أَتَجۡعَلُ فِيہَا مَن يُفۡسِدُ فِيہَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآء

Ucapan para malaikat ini bukan dimaksudkan untuk menentang atau memprotes Allah, bukan pula karena dorongan dengki terhadap manusia, sebagaimana yang diduga oleh banyak orang. Sesungguhnya Allah Swt. menyifati para malaikat, mereka tidak pernah mendahului firman Allah, yakni tidak pernah menanyakan sesuatu kepada-Nya yang tidak diizinkan bagi mereka mengemukakannya. Ibnu Jarir at-Thabari dalam Tafsirul Bayan berkata, ”Sebagian ulama mengatakan, ’Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal itu setelah diberitahukan kepada mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam.

Dalam ayat ini, ketika Allah Swt. memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan di bumi suatu makhluk, menurut Qatadah, para malaikat telah mengetahui sebelumnya bahwa makhluk-makhluk tersebut gemar menimbulkan kerusakan padanya (di bumi), maka mereka mengatakan :
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah ?" 

Dalam Tafsir Ibnu Katsir (Dar al-Kutub: 2008: halaman 67) dikatakan, sesungguhnya kalimat itu merupakan pertanyaan meminta informasi dan pengetahuan tentang hikmah yang terkandung di dalam penciptaan itu. Mereka mengatakan, “Wahai Tuhan kami, apakah hikmah yang terkandung dalam penciptaan mereka, padahal diantara mereka ada orang-orang yang suka membuat kerusakan di muka bumi dan mengalirkan darah? Jikalau yang dimaksudkan agar Engkau disembah, maka kami selalu bertasbih memuji dan menyucikan Engkau,” yakni kami selalu beribadah kepad-Mu, sebagaimana yang akan disebutkan nanti. Dengan kata lain seakan-akan para malaikat mengatakan), “Kami tidak pernah melakukan sesuatupun dari hal itu (kerusakan dan mengalirkan darah), maka mengapa Engkau tidak cukup hanya dengan kami para malaikat saja?

Allah Swt. berfirman menjawab pertanyaan tersebut: اني أعلم ما لاتعلمون .
Dengan kata lain, seakan-akan Allah bermaksud bahwa sesungguhnya Aku mengetahui hal-hal yang tidak kalian ketahui menyangkut kemaslahatan yang jauh lebih kuat dalam penciptaan jenis makhluk ini daripada kerusakan-kerusakan yang kalian sebut itu. Karena sesungguhnya Aku akan menjadikan dari kalangan mereka nabi-nabi dan rasul-rasul, diantara mereka ada para shiddiqin, para syuhada, orang-orang saleh, ahli ibadah, ahli zuhud, para wali, orang-orang bertaqwa, para muqarrabin, para ulama yang mengamalkan ilmunya, orang-orang yang khusyu’ dan orang-orang yang cinta kepada Allah Swt. dan mengikuti jejak rasul-rasulNya.

Quraish Shihab mengatakan penyampaian Allah kepada malaikat tentang rencana penciptan manusia boleh jadi ketika proses kejadian Adam sedang dimulai, seperti halnya seorang yang sedang menyelesaikan satu karya sambil berkata “ini saya buat untuk si A”. ini menunjukan bahwa Allah tidak meminta pendapat malaikat apakah Dia mencipta atau tidak.

Penyampaian ini, menurut Ibnu Asyur, agaknya untuk mengantar para malaikat bertanya sehingga mengetahui keutaman jenis makhluk yang akan diciptakanNya itu dan dengan demikian dapat juga terkikis kesan ketidakmampuan manusia, yang diketahui Allah terdapat dalam benak para malaikat. Kemudian ia melanjutkan bahwa ayat ini oleh banyak mufassir dipahami sebagai semacam “permintaan pendapat” sehingga ia merupakan pengajaran dalam bentuk penghormatan, seperti halnya keadaan seorang guru yang mengajar muridnya dalam bentuk tanya jawab, dan agar mereka membiasakan diri untuk melakukan dialog menyangkut aneka persoalan.

Setelah menguraikan pendapat banyak mufassir sebagaimana dikutip di atas, Ibnu Asyur mengemukakan pendapatnya bahwa istisyarah/permintaan pendapat itu dijadikan demikian supaya ia menjadi satu substansi yang bersamaan dalam wujudnya dengan penciptaan manusia pertama, agar ia menjadi bawaan dalam jiwa anak cucunya, karena situasi dan ide-ide yang menyertai wujud sesuatu dapat berbekas dan menyatu antara sesuatu yang wujud itu dengan situasi tersebut.

Sabtu, 17 Agustus 2013



Menyusun Mimpi
Berawal dari Mimpi
Meski tidak punya bakat dalam tulis-menulis, saya berani bermimpi menjadi penulis. Mimpi itu saya rangkai ketika masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP). Saya tak tahu pasti kenapa kala itu keinginan untuk menjadi penulis menjulang tinggi di hati saya, padahal di lingkungan tempat saya tinggal tidak mendukung sama sekali untuk menggapai keinginan tersebut. Tapi saya apatis tentang itu. Yang terpenting, saat itu saya tengah memeluk mimpi. Dan mimpi itu harus saya kejar dengan kesungguhan.
Yang bisa saya lakukan sebagai manifestasi mimpi menjadi penulis adalah menulis buku harian. Saya rajin menulis buku harian meski isinya sangat amatiran. Mungkin, saya akan tersenyum simpul bila membacanya kembali saat ini. Orang-orang bilang, terlalu lucu.
Berangkat ke Annuqayah sekitar tahun 2006, saya hempaskan mimpi itu jauh-jauh. Kenapa? Saya punya mimpi lain yang—saat itu—terlihat lebih heroik dan menantang (tak perlu saya sebutkan di sini). Akhirnya, menulis bukan aktifitas yang menarik lagi sehingga tidak menjadi hobi kembali. Selama kurang lebih 2 tahun, saya memilih untuk meninggalkan dunia kepenulisan. Oleh karena pindah haluan, saya jadi jarang menulis walau sekedar buku harian. Buku harian pun saya tak punya.  
Akan tetapi, ceritanya berbeda ketika menduduki kelas akhir XII MAK. Saat itu saya menjadi utusan sekolah untuk mengikuti lomba mading 3 dimensi tingkat Regional di PP. Al-Amin Prenduan. Beruntung, saya bergabung dengan kelompok orang-orang hebat yang tidak diragukan kredibelitas tulisannya. Bergabung dengan mereka, menjadikan tim kami jebol sebagai salah satu juaranya. Tentu saya dan teman-teman sangat girang dengan prestasi tersebut. Sebab prestasi itulah, saya memeluk kembali mimpi yang saya hempaskan tadi, saya kembali gemar menulis.
Menduduki bangku kuliah, semangat menulis saya semakin terpacu. Obor spirit saya disulut oleh seseorang yang belakangan menjadi motivator sekaligus inspirator menulis saya (Ssst… of the record yah J).  Saya makin rajin mengirim-ngirim tulisan ke media. Awalnya saya coba-coba dulu ke media lokal Annuqayah. Setelah itu saya tingkatkan ke media yang nilai gengsinya lebih prestisius. Eits, jangan kira tulisan saya banyak dimuat, yang terjadi justru sebaliknya. Meski tulisan yang ditolak oleh media tak terhitung jumlahnya, saya sendiri tidak begitu peduli. Yah, paling tidak redaksi sudah membaca tulisan-tulisan saya yang serampangan itu.
Pramoedya Ananta Toer pernah menulis begini, “Apapun memang harus dituliskan. Bagaimana pun bentuknya. Dengan demikian Anda telah mengambil satu peran merekam kenyataan di selingkungan. Mestinya anak muda seperti itu, berani menulis! Jangan takut tidak dibaca atau dibuang orang…  yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti akan ada yang membacanya dan menerbitkannya.”
Bergabung Dengan LPM
Setahun saya kuliah, saya mencari network yang lebih luas untuk menunjang kreatifitas menulis saya. Untung saja, di kampus ada salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang dapat mewadahi mahasiswa yang berminat di dunia kepenulisan. Lembaga tersebut adalah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). Beberapa kegiatan LPM saya coba ikuti setiap kali libur kuliah (meski kadang agak malas. Hehe..). Tak lama setelah itu, entah bagaimana ceritanya, saya diangkat menjadi Kru Dinamika, satu-satunya majalah kampus yang ada di bawah koordinasi LPM Putri. Dan  pada akhirnya, saya juga dipercaya menjadi salah satu penggerak lembaga ini.
Ada keberuntungan tersendiri yang saya dapatkan ketika berada di lembaga LPM. Selain menemukan senior-senior yang getol menulis, di sana saya juga dapat melebarkan sayap pengalaman di bidang kepenulisan. Apalagi LPM Instika  bergabung dengan ILP2MI (Ikatan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Mahasiswa Indonesia) yang menawarkan kegiatan-kegiatan bermutu. Di lembaga Nasional itu, saya dipertemukan dengan penulis-penulis andal dari berbagai kampus di Indonesia. Belajar bersama mereka, semakin membuka kesadaran saya bahwa menulis adalah harga mati bagi mahasiswa.
Berkat sejumlah kegiatan yang digelar LPM, saya bisa mengenal penulis-penulis kesohor yang biasa dijadikan fasilitator dalam kegiatan tersebut. Sebut saja misalnya Akhmadi Yasid, Tin Mayya, Ibnu Hajar, Zainul Ubbadi, Ghozi, K. M. Mushthafa, dan penulis-penulis lain yang kerap menjadi wartawan media massa. Lalu siapa yang tak merasa beruntung menjadi bagian organ dari tubuh LPM ini?
Hingga detik terakhir kuliah di kampus putih Instika, saya masih mengabdikan diri di LPM sembari berproses dengan koki-koki cantik di dalamnya. Sebagaimana umumnya penulis, semangat menulis saya pasang-surut bak laut. Benar, di tahun-tahun awal semangat menulis saya meluap sekali, melimpah ruah. Maklum, saya pernah berkomitmen untuk mengabdikan hidup hanya dengan menulis. Tapi jangan tanya untuk tahun terakhir ini. Stok semangat saya kian terkikis perlahan. Tidak tahu  pasti alasannya apa. Tiba-tiba malas begitu saja.
Saya sadar, belakangan saya jarang sekali memberi stimulasi pada kader-kader LPM. Bahkan nyaris tak pernah. Barangkali mereka bertanya-tanya, kenapa saya demikian? Kenapa semangat menulis saya tumbang dari waktu ke waktu? Menanggapi itu, saya sudah sampaikan ketika evaluasi pengurus bahwa ini murni karena saya tengah malas menulis. Buktinya, saya tak pernah menulis kalau tidak karena tuntutan, katakanlah menulis karena untuk lomba, tugas makalah, dan permintaan tulisan. Selain itu, tidak ada. Saya semakin tidak produktif, beda dengan pengurus LPM lain yang belakangan saya lihat sering menulis.   
Namun, penyakit akut ini tidak akan berlangsung lama. Saya akan berusaha mengembalikan eksistensi saya yang nyaris hilang tertelan bumi. Sebab dengan menulis, saya dianggap ada, eksistensi saya semakin nyata. Yah, terus terang untuk menjaga keistiqamahan dalam menulis, terlebih dahulu saya harus berpikir pragmatis. Dengan begitu, semangat menulis saya kian terpacu. Mengkin, bagi kita, tidak layak ketika tugas mulia seperti menulis diintervensi dengan tujuan-tujuan destruktif  karena pola pikir pragmatis. Tapi bagi saya tidak demikian. Siapapun tidak bisa memungkiri bahwa tujuan pragmatis itulah yang memang kita kejar. Manusia (siapa pun itu) memang menyukai kenikmatan-kenikmatan. Tidak apa, awalnya kita memang harus mengecoh setan si pemilik pikiran pragmatis itu untuk akhirnya mencapai tujuan yang idealis.
Passion Itu… Dunia Literasi
Sekian lama, sejak masih berstatus siswa hingga mahasiswa, saya mencari passion yang nantinya akan berjodoh dengan saya. Kerap kali saya bertanya-tanya sendiri, potensi apa yang saya miliki? Kreatifitas apa yang akan saya dalami? Cukup sulit memang untuk menjawab itu, bak mencari jarum dalam jerami. Sulitnya bukan main. Saya pikir, ketika akhirnya saya memilih Instika sebagai tempat saya belajar, saya harus memiliki potensi di luar akademik yang akan menjadi identitas saya. Saya pernah menjelajahi semua lembaga di Latee II (tempat saya menetap di Annuqayah), termasuk Aphrodite English Club (AEC) dan Jam’iyah Qiraatul Kutub (JQK) selama dua tahun berturut-turut. Betul, saya menemukan chemistry di sana, karena saya memang menyukai bahasa Inggris dan gramatika Arab semenjak Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD). Tetapi itu tidak berlangsung lama. Hingga akhirnya, pilihan terakhir, saya jatuhkan di lembaga Forum Lingkar Pena (FLP).
Passion itu akhirnya saya temukan di dunia tulis menulis, dunia literasi. Di lembaga kepenulisan (FLP dan LPM) saya menemukan kenyamanan yang luar biasa, sebab saya mendapatkan apa yang saya cari; saya punya partner untuk berdiskusi, saya punya perpustakaan mini dan harian Kompas di FLP, dan harian Jawa Pos di LPM. Semua saya dapatkan. Aktifitas membaca, menulis, dan berdiskusi yang menjadi hobi saya dapat terwadahi secara simultan.
Memilih untuk menjadi penulis, bukan pilihan sembarangan. Menulis—kata Muhidin M. Dahlan—adalah aktifitas yang luar biasa mulianya. Menulis tak lagi sekedar corat-coret di atas kertas, tetapi ia semacam penanda tugas. Menjadi beban yang harus dipikul untuk tujuan besar. Tujuan agung untuk pencerahan, untuk masa depan kemanusiaan yang lebih bermartabat. Maka tidak salah ketika Sapardi Djoko Damono, Arswendo Atmowiloto, Seno Gumira Adjidarma, dan D. Zawawi Imron hingga di usia senja tetap mengabdikan hidupnya untuk menulis.
Hingga saat ini, saya masih bermimpi menjadi penulis. LPM telah memberikan pengaruh besar untuk mewujudkan mimpi itu. Pengabdian saya untuk LPM selama ini rasanya tidak mampu membayar segala hal yang diberikan LPM untuk saya. Saya ingat betul pleidoi senior saat kali pertama saya diangkat menjadi bagian LPM, “Jangan berpikir, apa yang akan diberikan LPM untuk kita. Tetapi berpikirlah, apa yang akan diberikan kita untuk LPM”. Saya terperangah mendengarkan petuah itu. Memang tidak baik rasanya ketika kita mendapatkan banyak kebaikan dari seseorang, namun kita tidak mampu membalasnya dengan kebaikan pula. Maka, pengabdian saya di LPM bisa dikatakan semacam bentuk balas budi yang sebetulnya tidak seberapa.
Tiga tahun berproses di LPM, menggerakkan jemari saya saat ini untuk menyampaikan pesan terakhir kepada kader-kader LPM, “Mengabdilah dan menulislah karena keterpanggilan hati, bukan karena keterpaksaan! Akhirnya, sebagai pamungkas dari tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan pesan Pramoedya Ananta Toer, “Menulislah! Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari dalam masyarakat dan dari pusaran sejarah.”


Sakit Itu Berkah
Membaca judul ini, mungkin akan ada banyak orang protes. Sakit kok berkah? Tampaknya tidak tepat menyandingkan kata “sakit” dengan kata “berkah”. Yang namanya sakit, ya pasti terluka. Kalau terluka berarti tidak bahagia. Dan itu bukan sebuah keberkahan karena tidak mendatangkan kenyamanan dan kebahagiaan. Yang tepat bagi kebanyakan orang adalah sakit itu nelangsa dan musibah. Hm, benarkah selalu begitu? Eits, tunggu dulu.
            Saya rasa tidak selalu demikian faktanya. Saya sendiri kadang merasakan bahwa sakit itu memang benar-benar berkah. Tanpa melewati momen sakit terlebih dahulu, saya tak yakin bisa mencicipi keberkahan berupa kebahagiaan. Yang dirasakan tentu hanya datar-datar saja dan hambar. Tidak hanya saya, orang lain bisa jadi juga demikian. Sahabat saya juga pernah merasakan hal yang sama. Ia menyadari bahwa keputusan Allah tak pernah salah padanya. Pada awalnya memang sakit ketika apa yang diharapkan selalu tak sejalan dengan kenyataan. Tetapi di balik sakit, ada kebahagiaan yang masih Tuhan sembunyikan. Jika anda tak percaya, buktikan!
Suatu sore, saya bergegas ke kantor pesantren memenuhi panggilan. Tidak seperti biasanya saya dipanggil hari itu. Karena penasaran, saya langsung menuju kantor untuk mengetahui siapa yang membutuhkan saya. Sesampai di pintu, tiba-tiba saya kaget. Perempuan itu, sahabat sekaligus adik saya, tengah duduk manis dengan lelaki yang tidak asing saya lihat. Kemudian saya bertanya padanya, “lho, kok bisa berdua?” tanya saya penasaran. “Kami baru saja akad,” jawabnya dengan santai dan riang. “Berarti kalian sudah… menjadi sepasang suami-istri?” Tanya saya tak percaya. “Hehe… iya,” jawabnya polos. “Huh… dasar!” Lalu di kantor itu berderai tawa.
Semenjak dekat dengan saya, perempuan itu selalu bersikap transparan. Seluruh kisah hidupnya nyaris saya tahu, tak terkecuali tentang kisah cintanya. Sebelum bertunangan pun dia biasa cerita banyak hal terkait calon tunangannya. Namun tak disangka, untuk pernikahannya kali ini dia tidak cerita apa-apa. Tahu-tahunya, saya dikagetkan dengan kedatangan mereka berdua. Saya berpikir positif saja, mungkin mereka ingin membuat surprise untuk saya dengan kabar bahagia ini. Walau bagaimanapun, saya tetap bahagia melihat senyum mereka.
Tidak salah kata banyak orang, dunia ini selalu mengandung misteri yang tidak bisa kita prediksi. Kadang apa yang tak disangka, tiba-tiba menjelma nyata. Termasuk tentang jodoh manusia. Rahasia Tuhan yang satu ini kerapkali mendatangkan tanya, siapa dan dimana. Manusia hanya bisa berikhtiar dan berdo’a. Berharap, jodoh kita kelak dapat membawa kita pada sorgaNya. Seperti sahabat saya itu, siapa sangka dia akan menjadi istri lelaki yang juga kenal baik dengan saya. Padahal, dulu saya tahu mereka tidak pernah akur dan kerap saling “mengejek”. Tapi sekarang, mereka sah tidur seranjang.
Ada pula teman sekelas saya yang dulunya sekedar dijodoh-jodohkan teman-teman di kelas malah jadi beneran. Mereka hanya tersenyum ketika mengingat itu. Adakalanya jodoh kita adalah orang yang tidak disangka sebelumnya. Dari teman dekat misalnya, tiba-tiba dialah orang yang “didaulat” Tuhan sebagai partner yang akan menemani kita mengarungi hidup. Atau musuh sekalipun bisa jadi kelak akan menjadi jodoh kita. Yang tahu rahasia itu hanyalah Tuhan, karena hanya Dialah yang bisa menentukan mana yang terbaik untuk hamba-hambaNya. 
Tuhan tidak akan berhenti memberi kejutan pada hambanya yang meminta. Dia berjanji akan mendengar lengkingan do’a hamba-hambaNya yang bergantung hanya padaNya. Dia tidak akan menyalahi janji itu. Ud’uni istajib lakum, (QS. Al-Mukmin: 60) begitu firmanNya dalam al-Quran. Tapi kenapa masih ada do’a yang tak kunjung dikabulkan padahal tiap waktu sudah meminta? Itu hak otoritatif Tuhan. Siapa sih yang bisa mendikte Tuhan? Tidak ada. Di sekeliling kita, sering ditemukan orang yang berdo’a tapi bernada paksa, misalnya “ya Allah… saya ingin dia menjadi jodoh hamba. Pokoknya dia.. harus dia.. kalau tidak dia, saya tidak mau.” Lho, itu namanya do’a atau memaksa? Dipaksa bagaimanapun, kalau Tuhan tidak berkehendak ya tidak akan terjadi. Mari renungkan kembali ayat ini, wa ‘asa an takrahu sya’ian fahuwa khairun lakum wa ‘asa an tuhibbu syai’an fahuwa syarrun lakum wa allahu ya’lamu wa antum laa ta’lamun. (QS. Al-Baqarah: 216)
Untuk soal jodoh, saya angkat tangan. Sebagai manusia yang terbatas, sebaiknya kita memang serahkan urusan itu pada Dia yang lebih tahu. Tapi ingat, setelah kita berusaha dulu.  Pernah suatu ketika ustadz Fauzil ‘Adhim, penulis buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah, berkelakar begini, “jodoh itu memang ada di tangan Tuhan, kalau tidak diambil-ambil, ya akan tetap di tangan Tuhan,” katanya. Saya tersenyum mendengar itu. Perkataan provokatif itu sebenarnya ingin mengajak kita untuk berusaha dan terlibat aktif dalam memilih jodoh. Hukum kausalitas yang terdapat di alam ini menuntut manusia untuk “bekerja sama” dengan Tuhan. Sunnatullah akan tetap berlaku sepanjang dunia ini belum tutup usia. Kalau boleh saya lanjutkan perkataan ustadz tadi, saya ingin mengatakan begini, “cepat ambil jodoh itu di tangan Tuhan sebelum akhirnya Dia simpan.” Hehehe…
Bicara tentang jodoh memang selalu menarik hati, karena tidak ada seorang pun yang ingin hidup sendiri. Tak ada yang betah dengan sepi. Makanya kita butuh orang untuk berbagi. Sebelum sahabat saya itu berpamitan pulang, saya berbisik di telinganya, ”Selamat menikmati malam zafaf nanti malam.” Lantas dia tersipu-sipu malu. Aah…

Satu Tahun Sebelumnya
            Kebahagiaan itu tidak serta merta ia dapatkan dengan mudah. Tentu ia juga melewati proses “sakit” terlebih dahulu. Sakit yang kata banyak orang relatif sulit untuk  disingkirkan. Yang ada malah terus datang dan membayang. Masih membekas seperti pecahan kaca yang coba untuk disatukan. Saya ingat betul di mana ia harus tertatih meniti hari ketika luka di hatinya semakin menganga karena dikhianati orang yang dicintainya. Tak terbayang, bagaimana ia bisa menumbuhkan sikap optimis di masa depan tanpa didampingi orang yang amat disayanginya itu.
            Bahasanya tercekat waktu menceritakan perih yang menikamnya begitu kejam. Suaranya parau. Seakan tak ada kehidupan lagi ke depan. Ia hanya bisa menangis tersedu menyesali apa yang telah terjadi. Perempuan yang sangat temperamental akan cepat terluka ketika cinta yang dimilikinya tidak diperlakukan sebagaimana mestinya oleh mereka yang menggenggamnya. Sesekali, ia memegang tangan saya erat untuk mencari kekuatan di sana. Sebagai perempuan sekaligus sahabatnya, tentu saya juga merasakan apa yang tengah melukainya. Jika menangis adalah obat mujarab untuk mengempaskan sakit itu, biarlah ia menangis tanpa mengenal waktu.
            Sempat tak ada lagi kepercayaan yang ia miliki untuk laki-laki. Trauma. Takut kembali jatuh di jurang yang sama. Siapa yang mau kembali terluka? Tidak ada. Sebagaimana orang yang trauma pada umumnya, ia sangat berhati-hati berinteraksi dengan laki-laki. Kalau perlu, ia hapus no. laki-laki yang ada di phonebook-nya. Karena ingin tenang dan stabil, untuk sementara waktu ia “menyepi”. Menjauh dari kontak dengan orang-orang yang dikenalnya.
            Beberapa bulan setelah kejadian itu, ia kembali bangkit karena telah menemukan orang yang selama ini ia cari, pemilik sah tulang rusuk yang dulu hilang. Katanya, lelaki itu mampu menghilangkan mindset buruk tentang laki-laki yang selalu ngendon di benaknya. Pada akhirnya, sakit yang dilaluinya dengan tabah berujung dengan senyum sumringah. Saat ini ia menikah dengan orang yang lebih baik dari lelaki sebelumnya. Lelaki yang pemberani dan tidak pengecut. Lelaki yang berani mempertanggungjawabkan cintanya yang tidak sekedar retorika.
Sakit itu memang berkah. Kalau saja ia tidak merasakan sakit yang seperti itu, ia tidak akan tahu seperti apa rasanya bahagia hidup berdampingan dengan orang yang betul-betul mencintainya. Saya akhirnya berkesimpulan, ketika perasaan sakit itu datang, hakikatnya itu adalah permulaan untuk meneguk kebahagiaan yang tertunda. Sakit adalah proses yang mau tidak mau harus dilalui untuk sampai pada kulminasi kebahagiaan yang dituju.


PPA. Latee II, 20 Januari 2013
Untukmu: Berbahagialah, Sayang… :)