Halaman

Sabtu, 17 Agustus 2013



Saya, Kamu, dan Dia
(Sketsa Persahabatan Kita)
Saya dan Kamu
       Saya lupa kapan mulanya saya dekat denganmu. Yang cuma saya ingat, saya pernah sekelas denganmu di dua lembaga pendidikan, formal dan informal. Saya bahkan lupa kapan awalnya kita pernah menyapa yang kemudian menjadi awal kita menyusun keping persahabatan.
       Tak ada yang menduga kita bisa dekat dan bersahabat. Saya pun tak pernah mengira, karena kata banyak orang, kita sama-sama berkepribadian plegmatis dan ekstrovert. Sama-sama pendiam dan sulit berinteraksi. Dulu, kita hanya saling pandang ketika bertemu. Tanpa sapa, tanpa bicara. Saya dan kamu biasa saja dengan keadaan begitu. Padahal, kita sering kali berpapasan.
       Dua tahun kemudian, saat kita sama-sama duduk di kelas XII SLTA, tiba-tiba ada kebersamaan yang berbeda di antara kita. Kali ini, kita tidak hanya bersama karena alasan satu kelas atau satu kos, tapi lebih dari itu, kebersamaan kita lebih disebabkan keterpanggilan hati untuk saling berbagi, bersahabat ibarat merpati. Saya pun tak ragu untuk mengeluarkan segala yang mengendap di hati ini kepadamu, karena saya percaya kamu bisa menjaganya dengan baik, atau paling tidak kamu bisa memberi kesejukan ketika kemelut persolaan itu menggelayuti sisi hidupku.
       Saya bersyukur kamu bersedia hadir mewarnai sketsa hidupku. Bersedia menemaniku dalam kesendirian. Bukan apa-apa, ini karena saya memang sulit berinteraksi dengan orang yang bagi saya tidak “sefaham”. Padahal, itu tidak baik, saya kira. Tapi entah, saya kesulitan sekali untuk mengubah karakter yang demikian. Bukan maksud hati untuk mendiskriminasikan orang lain. Bukan, bukan itu maksud saya. Lagi-lagi, ini karena karakter yang memang sulit diperbaiki. Tapi saya masih tetap berupaya untuk mengubahnya. Dan saat ini, kecocokan itu saya temukan dalam jiwamu yang lapang, sehingga saya merasa tak sungkan atau canggung untuk sekedar mengoceh, mengomel, atau merengek di pangkuanmu. Bebas… dan kamu tentu sangat tahu bagaimana diriku yang sesungguhnya.
       Tatkala saya melihatmu, selalu ada keteduhan yang bertandang di sana. Terpancar dari pesonamu. Itulah barangkali yang membuat semua orang betah berada di sampingmu. Itulah mungkin alasan kenapa banyak orang menjadikanmu sebagai rumah berbagi. Dulu saya sempat mengerling iri pada semua sisi yang ada padamu. Senang sekali rasanya menjadi dirimu, begitulah hati saya selalu berbisik. Semua hal kamu punya; ketulusan, kecerdasan, kasih sayang, paras indah, dan cinta darinya. Rumput di depan rumahmu selalu terlihat lebih hijau daripada rumput di rumahku. Saya berkata begitu bukan mau berapologi atau sekedar beretorika tanpa makna. Inilah memang realita kita.
       Saya menghitung-hitung, ternyata usia persahabatan kita bisa dibilang sudah tua, yaitu sejak kita sama-sama menjadi siswa di jenjang SLTA hingga menjejakkan kaki di kampus tercinta. Usia yang semestinya sudah dapat memberi keterangan lengkap seperti apa dirimu dan bagaimana perjalanan hidupmu. Semua karakter saya, semua kisah hidup saya tentu kamu memahaminya betul. Tak ada waktu yang saya luangkan kecuali bercerita perihal hidupku padamu: tentang ilmu, tentang persahabatan, tentang luka, tentang lelaki itu, tentang cemburu, dan banyak hal yang tidak bisa saya sebut satu-satu. Maka pantas rasanya jika ada orang yang ingin mengetahui sisi hidupku, saya serahkan saja padamu untuk menjawabnya.
       Beda dengan saya, kamu justru lebih ekstrovert. Jarang sekali saya menemukanmu bercerita padaku, yang ada kamu hanya menjadi pendengar yang baik. Meski ada, itu pun tak seberapa. Sempat banyak pertanyaan yang bercokol di pikiran saya, apakah kamu tidak memberi kepercayaan pada saya atau memang tidak ada kisah yang perlu kamu ceritakan. Yang jelas, selama ini saya belum tahu banyak tentang perjalanan hidupmu. Terlebih ketika kamu sudah pergi dan tidak satu kos lagi denganku. Kamu pergi untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan nyata yang malang melintang. Dan perlu kamu tahu, di balik diamku, hal itu sempat membuat saya takut berjalan. Tanpamu.
       Masih tentangmu yang pendiam, ternyata kamu lihai berkamuflase. Buktinya, kamu mampu menyimpan luka dengan tawa dan menyimpan kecewa dengan senyum. Saya bisa membacanya dengan seksama, sebab sudah banyak kekecewaan yang pernah saya cipta, tapi nyaris kamu tak pernah mengeluh dengan semua itu. Semua tampak biasa-biasa saja. Seperti tak ada apa-apa. Tapi saya tahu, jauh di kedalaman hatimu pasti ada kecewa yang juga tergantung dan tercabik. Maafkan saya…
       Saya senang ketika purnama datang, karena saya tak suka gelap. Maka, pada purnamalah saya berharap. Tapi purnama malam itu terasa beda. Kamu kaget mendapati saya dengan wajah bermuram-durja. Tak ada senyum lagi yang biasa terkulum di malam purnama itu. Dengan heran kamu bertanya apa yang tengah terjadi, tapi saya tak bisa berkata-kata apa-apa. Jawaban saya hanyalah isak tangis tak berkesudahan. Saya kehabisan kata-kata untuk bercerita. Perlahan, dengan caramu yang tulus akhirnya saya menemukan ketenangan. Belaian tanganmu di ubun-ubunku menyumbangkan segenggam kekuatan. Adamu sungguh sangat berjasa. Saya tak tahu harus membalas apa. Hanya ucapan terimakasih yang tiada tara…    

Saya dan Dia
       “Lebih memilih hidup dengan orang yang kita cintai atau yang mencintai kita?” sms dari no. tak dikenal tiba-tiba masuk dalam ponsel saya malam itu, 23 Ramadhan 1431 H. Aneh, orang tak dikenal kok malah menanyakan hal sedalam itu? Siapa dia? Tanpa salam, tanpa permisi, berani-beraninya bertanya seperti itu. Kesal sekali saya malam itu. Dia semakin memperkeruh suasana di tengah kemelut persoalan yang tak sederhana saya hadapi. Tentang hati yang katanya sepi.
       Sebentar, sebelum saya jawab, saya harus tahu dulu siapa pemilik sms ini. Saya bertanya identitasnya. Sms balasan masuk. Tidak seperti kebanyakan no. asing yang suka usil, tanpa keberatan dia membuka tentang dirinya yang anonim: namanya, statusnya, lembaga pendidikannya, dan sebagainya. Tidak asing saya dengar nama orang itu. Oh, ini orang baik-baik. Saya temukan itu dari kejujurannya memperkenalkan diri. Tapi saya tetap bertanya-tanya, kami yang tidak saling kenal sebelumnya, kenapa harus muncul tanya yang filosofis itu? 
       Usut diusut, ternyata ini ada hubungannya dengan persoalan yang saya hadapi. Katanya, ia datang untuk menjadi penolong. Ia ingin menebar aroma kebaikan. Hampir semua problem yang saya hadapi waktu itu ada dalam rekaman otaknya. Ia mengetahui semua. Mudah saja baginya untuk menyerangku yang berada di pihak “lawan”. Ah, ada-ada saja nih orang. Hanya semalam saja bertukar pikiran, ia sudah mampu menaklukkan.
       Saya semakin merasa berada di pihak yang salah karena petuahnya yang sejernih telaga. Cukup cerdas ia memperalat kata untuk memberi penyadaran pada saya, tentang pilihan hidup dan tentang semuanya. Tapi tetap  saja saya bertahan pada pendirian sebelumnya.
       Beberapa lama kemudian, tak dirasa bertukar pikiran perihal hidup dengannya menjadikan kami semakin dekat. Mengalir, persahabatan itu mulai terjalin bagai air. 
       Beruntung, dia satu-satunya orang yang saya percayai kala itu. Nyaris setelah menghadapi kepelikan itu, saya kehilangan kepercayaan pada siapapun. Maka dirinyalah yang akhirnya saya lantik sebagai orang yang “bebas” mengetahui segala hal yang mengintai hidupku. Dengan gayanya yang humoris plus narsis, saya diajari untuk menghadapi kenyataan dengan santai dan positif. Beban saya semakin ringan. Berton-ton masalah di pundak perlahan meregang.
       Dalam perjalanannya yang cukup lama, persahabatan kami tak jarang didatangi belati tajam. Sebagian orang berkomentar, katanya kedekatan kami menyimpan “sesuatu” yang berbeda. Ada kedekatan lain yang tercipta di sana. Di lingkungannya, di lingkungan saya, semua orang nyaris membicarakan hal yang sama. Wajar, apapun namanya, kedekatan laki-laki dan perempuan selalu mengundang tanya curiga meski tidak demikian faktanya. Kami abaikan itu. Tak ada guna menggubrisnya. Toh kami baik-baik saja. Bahkan tidak ada apa-apa sebagaimana yang mereka duga. Kenapa mereka tak percaya?

Saya, Kamu, dan Dia
Berawal dari keinginan saya untuk mengenalkanmu padanya, kita bertiga akhirnya bisa bersama layaknya keluarga. Kedekatan saya dengannya, membuatmu juga  dekat dengannya. Lautan cerita hidup kita kayuh bersama. karakter kita yang berbeda: saya yang melankolis, kamu yang plegmatis, dan dia yang sanguinis menjadikan lukisan persahabatan kita semakin lengkap dengan perpaduan warna beragam.
                Cerita-cerita  kita mengenai dirinya selalu saja mengundang tawa. Cara dia bersahabat sungguh berbeda. Banyak pertolongan yang sering ia tawarkan. Saling mengingatkan, saling berbagi ilmu, dan saling mendukung kreativitas,  itulah misi persahabatan kita. Komitmen untuk terus bersahabat membuat kapas persahabatan kita tidak direcoki noda-noda artifisialitas. Putih dan bebas kepentingan. Semua ini berjalan murni tanpa direncanakan.
Sketsa saya, kamu, dan dia yang diberikan pada 6 April  masih tersimpan rapi di lemari kita. Akan saya abadikan hingga kelak saya bisa ingat kalau kita pernah bersama menyusun kata.  
            Saat ini, masing-masing kita sudah mengambil jalan hidup yang berbeda. Menetapkan pilihan tersendiri untuk kebaikan masa depan kita. Kamu telah mengarungi kehidupan yang sebenarnya dan bahagia bersamanya, dan dia masih setia dengan cintanya dan berjuang menjadi “penjaga” kalam Allah.  Sementara saya, saya juga purna menetapkan pilihan untuk masa depan. Pilihan inilah yang mestinya membuat kita sadar bahwa adakalanya persahabatan harus berubah.
            Saya bersyukur, Tuhan memberikan kenyamanan dan keyakinan atas  pilihan kita masing-masing. Bagaimanapun, kita mesti tahu bahwa hidup ini tak selamanya menampilkan kenyataan seperti yang kita inginkan. Teruslah berjalan menuju pilihan yang kalian tetapkan. Di sana ada mutiara yang akan kalian dapatkan. Insya Allah….
Untuk Januari-mu, Sanah Hilwa, Shob… jadilah istri yang shalihah, yang bisa membuatnya nyaman.
Untuk Maret-mu, Happy Milad, El… yakinilah dengan pilihanmu sendiri. Allah tak pernah alpa untuk memberi yang terbaik bagi hamba yang bersedia menjaga kalamNya.

Gubuk LPM, 14 Januari 2013



Pengalaman Cinta Para Filsuf Dunia
“Aku tidak mau berpisah.”
“Aku juga.”
“Aku tidak mau.”
“Aku juga tidak mau.”
“Tidak mau. Pokoknya tidak mau.”
“Jangan mau. Pokoknya jangan mau.”
            Cuplikan dialog yang bernada agresif di atas adalah potongan kisah Seperseribu Detik Sebelum Pukul 16.00 yang ditulis Seno Gumira Ajidarma (SGA) di harian Kompas edisi 9 Desember 2012. Lalu pada dialog selanjutnya, SGA menulis:
“Kenapa kamu menghilang begitu saja, ketika aku selalu menantimu sebelumnya?”
“Aku tak tahu kamu selalu menantiku, tak pernah tahu. Dan tidak akan pernah pergi kalau tahu kamu selalu menantiku, tak akan pernah…”
“Bagaimana kamu bisa tidak tahu aku selalu menantimu seperti itu?”
“Bagaimana aku bisa tahu kamu selalu menantiku seperti itu?”
“Aku selalu menantimu, menunggu seperti perempuan dalam dogeng, sampai aku tahu harus menghadapi kenyataan dan melupakanmu…”
“Tidak. Tidak mungkin. Tidak mau…”
Saya tidak akan berbicara panjang lebar perihal cerpen di atas. Apa yang saya cuplik tersebut hanyalah untuk membuktikan bahwa kekuatan cinta memang luar biasa dampaknya. Ada sikap agresif, posesif, dan protektif terhadap seseorang ketika cinta sudah memenjara jiwa. Seperti kisah di atas, sepasang kekasih yang sudah mencapai usia senja masih sempat-sempat saling berbagi rasa di tengah-tengah sempitnya waktu yang akan memisahkan mereka. Bahkan karena tidak mau kehilangan, mereka berhasil memasung waktu agar berhenti bergerak sehingga kebersamaan tetap selalu mengalir di antara keduanya. Aneh memang. Tapi begitulah sketsanya..… ada-ada saja, kan?
Persoalan cinta sangat beragam macam dan coraknya. Saya sendiri bingung ketika bercakap tentang term yang satu ini. Bingung harus menyikapi bagaimana, toh hakikat cinta yang sebenarnya hanya dapat dirasakan dan dinikmati saja. Tampaknya tidak ada bahasa atau definisi yang tepat untuk mengidentifikasikannya. Apalagi, pengalaman bercinta setiap orang tidak mungkin sama. Maka, mendefinisikannya pun pasti akan berbeda. Banyak kemudian yang muncul definisi beragam, bahwa cinta itu luka, cinta itu nestapa, cinta itu bahagia, cinta itu nikmat, cinta itu laknat, dan masih banyak lagi yang tentunya sesuai dengan pengalaman cinta yang mereka hadapi.
Pernah suatu ketika Plato dengan wajah bersungguh-sungguh bertanya pada gurunya, “apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?” Dengan bijak sang guru menjawab, “Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah lurus kamu ke sana tanpa boleh mundur sedikitpun. Kemudian, ambil satu saja ranting itu. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta.” Dari jawaban itu tiba-tiba muncul pertanyaan di benak saya, apa sebenarnya makna filosofis yang ingin disampaikan sang guru tentang cinta pada muridnya itu? Jawabannya, biar saya serahkan pada masing-masing orang saja. Biarlah masing-masing kita menafsirkannya secara berbeda.
Saya menyadari, tidak ada hal menarik dari tulisan ini, karena cinta memang lumrah dan lazim dibicarakan di mana saja dan oleh siapa saja. Lalu apa yang sekarang membuat saya tertarik untuk menulis tema cinta? Kisah-Kisah Cinta Penuh Drama Para Filsuf Dunia sempat menyita banyak waktu saya akhir-akhir ini. Buku inilah yang memancing gairah menulis saya untuk mengintroduksikan sejumlah kisah cinta yang mengharu biru pada diri filsuf terkemuka. Setelah membaca buku itu saya jadi tahu ternyata para filsuf yang selalu dikonotasikan dengan logika tidak mesti melupakan cinta. Mereka tidak melulu berkutat dengan ide dan pemikiran-pemikiran progresif. Jauh di kedalaman hatinya, ada cinta yang selalu menuntut untuk diekspresikan. Tak dinyana, perjalanan kisah cinta mereka justru lebih dramatis, mengharukan, dan menggetarkan.
Cobalah sekali-kali kita intip kisah cinta  Karl Marx yang dirinya telah dibaptis sebagai nabi orang-orang komunis. Dalam aktivitasnya, kelakuan Marx membuat resah sebagian besar kalangan pemerintah. Ia tidak hanya mengkritik pemerintah melalui tulisan, melainkan juga memiliki kontak dengan organisasi kiri Prancis, kaum sosialis, komunis, dan kalangan politikus Rusia atau sebangsanya yang sefaham. Gerakan yang dibangunnya itu makar terhadap sistem pemerintah, gereja, dan kalangan borjuis. Namun siapa sangka, di balik sikap keras Marx ternyata ada sisi kelembutan yang ia simpan untuk perempuan yang dicintainya. Untuk mengekspresikan cintanya itu, ia menuliskan sejumlah puisi retoris untuk pujaan hatinya, Jenny Von Westphalen. Perempuan yang usianya empat tahun lebih tua dari Marx itu sukses menggetarkan hatinya karena memiliki sejuta pesona. 
Perjalanan cinta mereka penuh tantangan dan sempat tersandung restu orangtua Jenny yang merupakan kalangan aristokrat. Mereka tidak ingin menyatukan putrinya dengan lelaki yang berbeda secara kelas sosial. Alasan inilah yang disinyalir menjadi embrio lahirnya gagasan antikelas yang diusung Marx karena rasa sakit hatinya pada golongan aristokrat, di samping juga memberi jarak pada hubungannya dengan Jenny. Namun, ia tidak patah arang untuk mencapai keinginan hidup bersama kekasihnya itu sehingga restu orangtua Jenny benar-benar akan ia dapatkan. Sikap ambisius Marx ini membenarkan adagium pemuda sekarang yang terjebak jaring-jaring asmara, dunia akan kukelilingi, puncak gunung akan kudaki, lautan akan kuseberangi, untuk memenjarakanmu di sini, bersamaku. Atau, apapun, akan aku lakukan, hanya karenamu. Hingga  akhirnya, cinta mereka bersatu karena restu.
Kita tinggalkan Marx, mari tilik juga kisah cinta filsuf dari Jerman yang lebih “menggila.” Namanya Martin Heidegger. Siapa yang tidak kenal tokoh yang sangat familiar ini? Pamornya sempat menggelembung ketika ia berhasil menyumbangkan ide fenomenologi, hermeneutika, eksistensialisme, dekonstruksi, dan postmodernisme.
Kisah cintanya bermula saat ia menjadi profesor dan dosen di Universitas Marburg. Kepiawaiannya menyampaikan gagasan-gagasan brilian diam-diam menarik hati Hannah Arendt yang waktu itu menjadi mahasiswa cerdas dan kelak juga menjadi filsuf kesohor. Cinta buta Arendt pada Heidegger tidak jarang memunculkan tindakan-tindakan konyol dari Arendt untuk patuh pada kekasihnya itu. Bayangkan saja, karena dimabuk cinta, Arendt bersedia menjadi selingkuhan Heidegger yang sudah berkeluarga itu. Ia mau saja disubordinasi oleh Heidegger. Yang lebih memprihatinkan, Heidegger tidak hanya selingkuh dengan satu dua perempuan saja, tetapi banyak perempuan. Meski demikian, Arendt tetap membela dan menyelamatkan sang kekasih dari beberapa persoalan yang membelenggunya tanpa mempersoalkan tindakan Heidegger yang semena-mena padanya. Kenapa? Lagi-lagi ini karena satu alasan, cinta.
Saya sendiri merasa risih dengan tindakan Heidegger yang sangat despotis itu. Ah, sudahlah, tidak perlu mempersoalkan itu. Mari pindah saja pada kisah cinta yang lebih “unik” dan menyayat hati. Yang ini cerita cinta si “Pembunuh Tuhan” alias Friedrich Nietzsche. Sekuat-kuat mentalnya Nietzsche, ternyata ia masih bisa menumpahkan air mata. Ada apa dengannya? Ia terjebak cinta segi tiga antara dirinya, sahabatnya (Paul Ree), dan kekasihnya (Lou Salome). Sosok Lou Salome memang bukan perempuan biasa. Wajar saja banyak kumbang yang berlomba-lomba ingin menghisap madunya. Selain berparas cantik, ia adalah sosok yang bersahaja dan cerdas. Tidak hanya Nietzsche dan sahabatnya itu yang terpikat, gurunya sendiri rela menceraikan istrinya hanya untuk mempersunting Lou. Untung saja, Lou bukan tipe wanita yang gampang menerima tawaran cinta laki-laki.
Sebagai laki-laki yang punya popularitas cukup tinggi waktu itu, Nietzsche merasa sakit hati ketika tahu cintanya bertepuk sebelah tangan. Si perempuan tidak menaruh hati padanya. Padahal cinta yang ia miliki bukan cinta picisan yang mudah tumbuh dan tumbang. Karena cinta yang mengakar kuat, Nietzsche tidak berhenti begitu saja untuk mengejar Lou. Bahkan tak segan ia mendatangi kediaman Lou sebanyak tiga kali untuk melamarnya dalam kurun waktu tujuh bulan. Tapi upaya itu tak berhasil. Hati Lou masih tertutup rapat untuknya. Dan yang lebih memukul hati Nietzsche, Lou lebih memilih hidup bersama Paul Ree, sahabatnya sendiri. Pada saat itulah, kekecewaan yang bertubi menggelayuti hidupnya.
Beragam kisah cinta tersebut sedikit banyak memberi pemahaman pada kita bahwa cinta berpotensi melahirkan kebahagiaan dan kesengsaraan tergantung bagaimana kita menyikapinya. Ibarat segenggam garam, rasa asin akan sangat terasa ketika garam itu dilarutkan ke dalam segelas air. Tapi akan beda rasanya ketika garam itu kita lemparkan ke dalam luasnya samudera. Apa yang akan dirasakan? Tidak ada. Nah, begitulah cinta. Kendatipun gagal bercita, jika kita mampu menetralisir jiwa, maka hal itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Kita mesti meluaskan hati untuk menerima apapun yang terjadi, termasuk gagalnya menyatukan cinta.
Belajar dari kisah cinta filsuf tadi, ketulusan mencintai kerap kali tidak menuntut banyak terhadap orang yang dicintai. Melihatnya bahagia, itu sudah cukup. Meski banyak orang yang meyakini bahwa cinta selalu menuntut untuk memiliki (bukan menguasai), tetapi saya meyakini cinta platonik itu ada meski hanya terjadi pada beberapa orang saja. Pengalaman seperti itu pernah saya temui. Cinta Hannah Arendt pada Heidegger bisa dijadikan contoh dalam hal ini. Ia rela melakukan apa saja untuk kekasihnya meski balasannya sangat buruk dan membuatnya terpedaya. Ia hanya ingin mencintai saja, hanya ingin melihat kekasihnya bahagia meski ia tidak bisa hidup bersamanya.
Pengalaman kisah cinta kita bisa jadi lebih  menarik dari kisah para filsuf tadi. Saya dan Anda sebenarnya bisa mengabadikannya dalam beragam bentuk tulisan agar bisa terus dikenang. Dan itu, menurut saya, lebih baik karena semakin menjadikan kita produktif menulis. Menurut Ariev Syauqi dalam bukunya, Karena Aku Rindu Kamu, cinta yang mendatangkan kebermanfaatan bagi kita adalah cinta yang produktif, yang menjadikan kita semakin lebih baik. Seperti apa kisah cinta Anda? Saya tunggu. The last, selamat menulis…


Rumah FLP, 12 Januari 2013


Kejutan Tak Terduga
Mengawali tulisan ini, saya teringat perkataan Ustadz Abu Marwa dalam buku 24 Jam Sebelum Menikah: Hikmah Menikah dalam Kisah-Kisah Menggetarkan. Beliau mengatakan begini, “Perjalanan hidup ini tidak selalu dapat dihitung dengan matematika. Ada nilai dan angka yang datang secara tiba-tiba dan tak terduga.” Mendengar itu, saya tersenyum simpul. Betul sekali, adakalanya hal yang menimpa kita datang tanpa terencana dan tidak terprediksi sebelumnya. Tuhan Yang Kuasa tidak kehabisan cara untuk mendatangkan kejutan-kejutan tak terduga pada hambanya yang meminta. The big surprise dariNya, begitu saya mengistilahkannya.
Sejauh perjalanan hidup manusia, kompleksitas persoalan pasti selalu mengintai dan kerap kali datang. Biasanya, mudah sekali saat itu kita kecewa dan mengelus dada ketika yang nyata tak sesuai dengan apa yang kita pinta. Karena kecewa yang sangat, tak jarang kita menyalahkan dan “menghakimi” Tuhan sembari bertanya-tanya, kenapa jadinya harus begini Tuhan? Kenapa harus saya? Apakah saya tidak pantas mengecap bahagia? Apakah saya lebih layak berselimut duka? dan tanya-tanya lain. Jelas sekali, pertanyaan bernada satire ini menandakan keputusasaan seseorang. Putus asa pada rahmat Allah. Merasa dirinyalah yang paling berduka di dunia. …Wa lâ taiasuu min rauhillahi innahû lâ yaiasu min rauhillahi illa al-qaumul kâfirûn. (QS. Yusuf: 87)
Kalau mau berbicara duka, tentu lebih banyak orang yang lebih buruk nasibnya daripada kita. Tapi mereka tampak tenang-tenang saja. Mereka lapang dada menerima apa yang ada. Mereka bahagia. Sementara kita, tak jarang kita langsung protes pada Allah ketika menerima keputusanNya yang tak sesuai harap. Padahal, Allah selalu punya cara yang unik untuk membuat hambaNya bahagia. Di balik kesedihan yang kita hadapi, yakinilah ada kejutan yang tengah menanti. Sederhananya, kebahagiaan itu tidak terdapat di tempat-tempat yang terlihat menyenangkan. Tetapi ia ada di sini, di hati. Selama hati kita lapang, hatipun akan menjadi riang.
Suatu ketika, tanpa sengaja saya menemukan secarik kertas yang terdapat dalam buku yang saya pinjam pada seorang sahabat. Awalnya saya tampak ragu untuk membukanya, mengingat saya belum mendapatkan izin waktu itu. Lama berpikir, akhirnya tak apalah, saya coba baca dulu. Saya yakin dia tidak keberatan. Siapa tahu ada hikmah yang dapat saya pungut dari kertas yang makin lusuh itu.
Saya buka lembar pertama, kurang lebih isinya begini…
Miris memang ketika saya sendiri tidak bisa berbuat adil pada Tuhan. Bersyukur kepadaNya hanya ketika bisa tertawa, memujiNya ketika Dia berada di pihak saya, dan “mencumbuiNya” bila saya ditimpa bahagia. Tapi, keadaan ini akan berubah seketika tatkala kenyataan hidup terasa menghimpit jiwa. Sakitlah yang akan dirasa. Kecewalah yang pasti datang tiba-tiba. Maka, Tuhanpun akan “dihakimi” karena diri ini merasa tidak berarti apa-apa. Padahal, sudah ada kesadaran sebelumnya bahwa ini hanyalah ujian Tuhan untuk menguji seberapa besar kesetiaan cinta kita padaNya. Ah, dasar manusia, selalu saja ingin dimanja.
Sayang…       
Perjalanan yang kita tempuh kali ini hampir purna. Cahaya yang akan kita gapai di ujung jalan itu semakin terlihat jelas di pelupuk mata. Ada yang bahagia; saya, kau, mereka, dan orang-orang yang menyayangi kita. Pada akhirnya, rasa ini menemukan muaranya setelah sekian lama mengembara. Kenapa kau? Kenapa saya? Sesuatu yang barangkali tidak kita inginkan sebelumnya. Tapi ini nyata adanya. Kita berdua sama-sama merasakannya. Sadarkah kau? Inilah kejutan pertama bagi kita.
Saat ini saya menyadari, tidak ada yang perlu disalahkan, tidak dirimu, tidak diriku, tidak pula  Tuhan. Hidup ini adalah proses panjang yang mesti dilalui dengan tenang. Apapun rasanya. Apa yang menimpa manusia tidak akan melebihi batas kemampuan yang mereka miliki. Allah tidak mungkin tega mendhalimi. Semua sandiwara hidup kita sudah dirancang sedemikian rupa oleh Sutradara. Dialah sutradara yang paling handal, Yang begitu lihai membuat ending kehidupan. Hal itu terbukti pada kita sekarang.
           
            Lembar kedua…
            Sayang…
Malam ini saya berteman sepi. Di bawah pendar purnama, temanilah saya untuk berbagi cerita. Saya tak mau menikmati purnama sendiri. Saya perlu kamu untuk merengkuh saya di sini. Walau hanya bayangmu, tak apalah. Duduklah di samping saya. Ini kisah tentang hati saya yang pernah sepi. Tentang hati saya dahulu yang belum menempatkanmu di sini. Dari jejak awal saya menanti cinta yang tepat hingga akhirnya bagaimana petualangan saya menemukanmu.
Sebelumnya, hati ini tak berpenghuni. Sepi sekali. Pintu hati masih tertutup rapat. Belum ada yang berhasil membukanya. Selalu saja ada yang datang menawarkan kunci, tapi kunci itu sering kali tidak mampu membuka. Entah, saya tidak tahu kenapa. Bahkan, saya sendiri bertanya-tanya, kunci seperti apa yang kuasa membuka pintu hati yang masih tertutup ini? Hmm, sudahlah! Saya pasrah saja. Menunggu sang pangeran tiba pada waktunya.
Dulu, ada yang bertanya begini pada saya, “Lebih sakit mana antara dicintai dan mencintai?” saya langsung jawab, “Mencintai.” Dia lalu berkata, “Tapi bagi saya dicintai, yakni ketika yang dicintai tak mampu membalas seperti yang diberi orang yang mencintai.” Saya hanya diam. Tanpa ada respon. Barangkali dia bermaksud menyinggung saya. Dia terus saja berkata-kata, “Sudahlah, kau tak perlu berapologi. Kau tak perlu berkamuflase di balik kata-kata yang nisbi. Katakan saja, kalau kau sebenarnya menginginkan bangunan filantropi, bangunan cinta yang ingin  kau  bangun bersamanya. Kenapa kau tidak menerimanya?” Jelas saja hati saya tak terima dikatakan begitu. Segera saya menjawab, “Ah, mudah sekali kau mengatakan begitu. Siapa yang bisa memaksa hati? Siapa yang bisa mengundang cinta? Cinta akan datang dengan sendirinya tanpa perlu direkayasa. Tentu, hati saya nanti akan berlabuh pada dermaga yang tepat. Tak perlu kau yang memaksa.” Ini cerita dulu, sekitar dua tahun yang lalu. Saat  saya masih dihadapkan dengan orang-orang yang—bagi saya—belum tepat.
Ada cerita lain sebelumnya, saya berani mengambil keputusan untuk  memasang puzzle cinta dengan seseorang, puzzle yang akan menjadi saksi setelah kami berkeluarga nanti.  Tapi entahlah, belum utuh puzzle itu kami pasang, tiba-tiba dia tidak betah untuk menyempurnakan kepingan itu. Dia lebih memilih pergi tanpa ada kehendak untuk tahu bagaimana bentuk sempurna kisah kami. Saya meyakini ini adalah teguran Tuhan. Ia tak menginginkan saya menjadi miliknya, karena Dia sudah menyediakan yang lebih baik untuk saya dan yang lebih baik untuk dirinya.
Anda ingin tahu lanjutan kisahnya? Baiklah, saya bacakan lagi. Lembar ketiga…
Masa berlalu…. Ramadhan 1433 H. benar-benar mendatangkan berkah. Saya merasa cinta itu semakin dekat. Padahal masih belum ada siapa yang terlihat. Barangkali ini telepati dan chemistry yang kuat. Sekedar memberitahu bahwa sang pangeran akan tiba di waktu yang relatif singkat. Saya biarkan waktu yang mengungkap walau ia datang tanpa memberitahu dengan cepat. Saya yakini saja, bahwa cerita cinta akan mengalir dengan sendirinya, dengan bagaimanapun caranya.
            Lalu…. Benar. Ia benar-benar datang. Menawarkan secawan cinta untuk saya teguk bersamanya. Tidak seperti biasanya, saya menerima tawaran itu seketika. Aneh rasanya, cerita ini mengalir begitu cepat seperti kilat. Pintu hati ini terbuka dengan mudah. Ia berhasil menemukan kuncinya. Kunci yang sejak semula saya cari di seantero bumi. Rahasia Tuhan memang terasa sulit diterka. Ternyata, ia memang orang yang begitu dekat. Yang selalu datang menemani di malam yang pekat. Ah, mengejutkan sekali rasanya. Lagi-lagi saya katakan, ini nyata adanya.
            Mencoba bertanya pada diri sendiri, kenapa bisa rebah dalam “pelukan” cintanya? Apa pesona yang dimilikinya hingga membuat saya terpana? Entah, saya hanya mampu diam. Tidak ada jawaban pasti. Yang jelas, cinta datang dengan sendirinya. Dari mana dan bagaimana caranya, itu tidak perlu ditanya. Materi atau apapun namanya tak layak jadi pengukurnya, karena ini adalah anugerah istimewa yang Tuhan berikan pada setiap hambaNya. Malam ini, saya hanya ingin mengatakan begini padanya, terimakasih… kau berhasil menjadi dermaga, untuk layar perahu cintaku. Mengajakku melambai pasti, pada sederet ragam sakit di masa lalu.
            Sayang…       
Perjuangan kita tidak lantas berhenti di situ. Perjalanan kita masih panjang, katamu dahulu. Perjalanan yang kita tempuh amat berliku dan penuh debu. Debu halus itu bisa jadi akan mengempas kita pada jurang yang curam. Kerikil-kerikil tajam juga terlihat bengal menghalangi perjalanan cinta kita. Tinggal bagaimana kita mampu menyingkirkan itu semua. Seperti kemarin, saat kita nyaris putus asa, saat kita hampir positif membuang cinta, saat kita harus rela menahan sakit yang jumawa, tiba-tiba saja keajaiban Tuhan datang tanpa diduga. Kita ditakdirkan untuk bersama. Aah, ingin tersenyum saja kala mengingatnya. Inilah kejutan kedua kita. “Fabiayyi âlâi rabbikumâ tukadzdzibân.” (QS. Ar-Rahman: 13)
            Semua pasti akan terasa indah ketika sudah sampai waktunya. Saya berhasil mendapatkan madu setelah sebelumnya mengecap empedu. Ibrah penting yang  saya dapat adalah selalu positif thinking pada Tuhan pasti akan mendatangkan kebahagiaan. Dia tidak akan salah memberi pasangan pada hambaNya. Semua sudah ada dalam garis aturanNya. Kita sendiri juga belum tahu, siapakah di masa depan yang akan menemani hidup kita. Ini masih menjadi rahasia. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha. Endingnya, biar Tuhan saja yang menjawabnya. Kita  tidak punya kuasa apa-apa.
Sekarang, kita boleh tersenyum bangga. Menikmati bahagia yang menimpa kita. Tapi, ini belum menjadi ujung proses. Apa yang akan terjadi esok masih belum bisa terbaca secara utuh. Sekali lagi, aral pasti akan ada di hadapan kita, seperti apapun motifnya. Mari temani saya melewati ini semua. Semoga Tuhan tetap memberi petunjuk dan rahmatNya untuk kita. Semoga langkah yang kita tetapkan adalah jawaban dari doa-doa yang kita panjatkan. Amien…
Saya tutup lembaran itu dengan rasa haru. Ternyata sahabat saya itu pernah mengalami situasi  yang membuat jiwanya berguncang. Tetapi akhirnya ia menemukan kebahagiaan yang lebih dari sekedar apa yang  ia pikirkan. Lagi-lagi ini persoalan cinta yang acap kali tidak menemukan ujung penyelesaian. Cerita di atas membuat saya malu pada Tuhan. Malu karena sering berburuk sangka padaNya tiap kali saya menyapu air mata. Lalu bagaimana dengan Anda?
Rumah FLP, 8 Oktober 2012