Semangat Membaca Umat Islam yang Kering
(Refleksi atas artikel “Perihal Pengetahuan” dalam buku
Musyawarah Buku
karya Khaled Abou el-Fadl tahun 1997)
Oleh: Husnul Khatimah Arief
Ketika berbicara perihal kejayaan Islam di bidang ilmu pengetahuan,
tentu pikiran kita akan terlempar pada masa kepemimpinan daulah Abbasiyah yang dipimpin Harun ar-Rasyid. Pada masa itu, peradaban
Islam tampak gemilang. Buku memiliki andil yang cukup signifikan dalam
perjalanan peradabannya. Salah satu kota yang menjadi pusat kebudayaan Islam
waktu itu, Cordoba, memiliki kurang lebih 17 perpustakaan yang salah satunya
memiliki 400.000 buku. Sementara Baghdad yang termasuk pusat pemerintahan
dinasti Abbasiyah mempunyai Bayt al-Hikmah yang dibangun oleh khalifah
al-Makmun. Di dalamnya juga memuat beribu-ribu buku dengan beragam jenis yang
dapat dilahap habis oleh masyarakat. Sehingga tak heran ketika itu banyak tokoh-tokoh
Muslim bermunculan, seperti al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Jabir, al-Khawarizmi,
Ibnu Rusyd, dan tokoh-tokoh lainnya yang kontribusi pengetahuannya amat
berharga. Dinasti Abbasiyah berjaya karena masyarakatnya membudayakan membaca. Begitulah
kira-kira.
Itu dulu, beberapa abad yang lalu. Beda lagi fenomenanya ketika
kita mencoba menilai lebih jauh semangat umat Islam saat ini terhadap ilmu
pengetahuan. Umat Islam pernah mengalami situasi di mana stagnasi pemikiran mulai
membelenggu akibat dari kokohnya pengaruh taklid. Sehingga kala itu,
umat Islam benar-benar tertinggal dari Barat yang sudah menunjukkan taring kemajuannya.
Berlatar belakang ini, kemudian muncul
keinginan kuat dari umat Islam untuk mensejajarkan diri dengan Barat dalam
aspek kemajuan peradaban. Konsekuensinya, muncullah kemudian trend dalam
Islam kontemporer yang membawa semangat reformasi dan revitalisasi terhadap
Islam dalam segala aspek, baik aspek teologis maupun hukum. Tokoh-tokoh yang
sangat berpengaruh dalam tataran ini adalah Moh. Abduh, Jalaluddin al-Afghani,
Fazlurrahman, dan tokoh lainnya yang berhasil menelurkan trend neo-revivalisme,
modernisme klasik, dan neo-modernisme.
Namun sekarang, semangat umat Islam untuk bergumul dengan dunia
literasi tampak memudar kembali. Ini bisa dilihat dari sedikitnya buku yang
ditulis umat Islam bila dibandingkan dengan buku karya orang Eropa yang relatif
banyak. Semangat mereka untuk membaca tampak kering, apalagi untuk menulis. Lalu
kemudian muncul pertanyaan yang agak kompleks, mengapa umat Islam terlihat
malas untuk mengakumulasi ilmu pengetahuan? Faktanya, jalan umat Islam menuju
pengetahuan masih terintangi dogma, sikap apolegetis, dan rasa malas yang akut.
Dan kebanyakan diantara mereka sering kali bersikap apatis terhadap peranan
akal sebagai sumber pengetahuan setelah wahyu. Kiranya benar pernyataan, kaum
muslimin dewasa ini lebih suka membangun gedung yang mentereng ketimbang
membangun pikiran yang analitis.
Mungkin kita dibuat heran dengan
semangat orang Eropa yang tampak antusias untuk menulis wacana-wacana tentang
Islam dan penganutnya, karena kemajuan peradaban di sana telah menjadikan mereka
menang satu langkah dari Islam. Sedangkan umat Islam sendiri hanya sebagai
partisipan yang mengadopsi hasil pemikiran-pemikiran yang ditulis orang Eropa
tersebut, meski tidak semuanya berbuat demikian. Mestinya disadari bahwa siapa
saja yang menguasai arus informasi, dialah yang akan menguasai wacana.
Sebagaimana yang dikatakan tadi, umat Islam selalu dijadikan wacana oleh “rival-rival”
mereka. Sedangkan mereka sendiri tidak membuat wacana balik yang akan menolak,
mengokohkan, mengkritisi, atau melanjutkan wacana tersebut.
Bila ini terus dibiarkan, bisa jadi
umat Islam tidak mandiri dan akan terus mengekor Barat. Bahkan, bila ini
mencapai tingkat akut tidak tertutup kemungkinan kelak Islam akan bertekuk
lutut di hadapan Barat. Tentu umat Islam tidak ingin ini terjadi. Selagi ada
kesempatan, umat Islam harus menggelorakan semangatnya untuk bangun dari
keterpurukan dan berlari mengejar ketertinggalan dengan mulai mencintai ilmu
pengetahuan, memfungsikan akal, dan bergelut dengan dunia literasi. Ajaran Islam
sendiri telah banyak menghimbau umatnya agar senantiasa menggali ilmu
pengetahuan dan menjauhi kebodohan, baik yang tertulis dalam al-Quran maupun
hadis. Dalam surat al-Zumar misalnya, Allah berfirman yang artinya: samakah
orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui? Atau
hadis Nabi Saw. yang artinya: barang siapa yang pergi mencari ilmu, maka dia
berada di jalan Allah sampai dia kembali pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar