Halaman

Minggu, 25 November 2012


Semangat Membaca Umat Islam yang Kering
(Refleksi atas artikel “Perihal Pengetahuan” dalam buku Musyawarah Buku
karya Khaled Abou el-Fadl tahun 1997)
 Oleh: Husnul Khatimah Arief
Ketika berbicara perihal kejayaan Islam di bidang ilmu pengetahuan, tentu pikiran kita akan terlempar pada masa kepemimpinan daulah Abbasiyah  yang dipimpin Harun ar-Rasyid. Pada masa itu, peradaban Islam tampak gemilang. Buku memiliki andil yang cukup signifikan dalam perjalanan peradabannya. Salah satu kota yang menjadi pusat kebudayaan Islam waktu itu, Cordoba, memiliki kurang lebih 17 perpustakaan yang salah satunya memiliki 400.000 buku. Sementara Baghdad yang termasuk pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah mempunyai Bayt al-Hikmah yang dibangun oleh khalifah al-Makmun. Di dalamnya juga memuat beribu-ribu buku dengan beragam jenis yang dapat dilahap habis oleh masyarakat. Sehingga tak heran ketika itu banyak tokoh-tokoh Muslim bermunculan, seperti al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Jabir, al-Khawarizmi, Ibnu Rusyd, dan tokoh-tokoh lainnya yang kontribusi pengetahuannya amat berharga. Dinasti Abbasiyah berjaya karena masyarakatnya membudayakan membaca. Begitulah kira-kira.
Itu dulu, beberapa abad yang lalu. Beda lagi fenomenanya ketika kita mencoba menilai lebih jauh semangat umat Islam saat ini terhadap ilmu pengetahuan. Umat Islam pernah mengalami situasi di mana stagnasi pemikiran mulai membelenggu akibat dari kokohnya pengaruh taklid. Sehingga kala itu, umat Islam benar-benar tertinggal dari Barat yang sudah menunjukkan taring kemajuannya.  Berlatar belakang ini, kemudian muncul keinginan kuat dari umat Islam untuk mensejajarkan diri dengan Barat dalam aspek kemajuan peradaban. Konsekuensinya, muncullah kemudian trend dalam Islam kontemporer yang membawa semangat reformasi dan revitalisasi terhadap Islam dalam segala aspek, baik aspek teologis maupun hukum. Tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam tataran ini adalah Moh. Abduh, Jalaluddin al-Afghani, Fazlurrahman, dan tokoh lainnya yang berhasil menelurkan trend neo-revivalisme, modernisme klasik, dan neo-modernisme.
Namun sekarang, semangat umat Islam untuk bergumul dengan dunia literasi tampak memudar kembali. Ini bisa dilihat dari sedikitnya buku yang ditulis umat Islam bila dibandingkan dengan buku karya orang Eropa yang relatif banyak. Semangat mereka untuk membaca tampak kering, apalagi untuk menulis. Lalu kemudian muncul pertanyaan yang agak kompleks, mengapa umat Islam terlihat malas untuk mengakumulasi ilmu pengetahuan? Faktanya, jalan umat Islam menuju pengetahuan masih terintangi dogma, sikap apolegetis, dan rasa malas yang akut. Dan kebanyakan diantara mereka sering kali bersikap apatis terhadap peranan akal sebagai sumber pengetahuan setelah wahyu. Kiranya benar pernyataan, kaum muslimin dewasa ini lebih suka membangun gedung yang mentereng ketimbang membangun pikiran yang analitis.
            Mungkin kita dibuat heran dengan semangat orang Eropa yang tampak antusias untuk menulis wacana-wacana tentang Islam dan penganutnya, karena kemajuan peradaban di sana telah menjadikan mereka menang satu langkah dari Islam. Sedangkan umat Islam sendiri hanya sebagai partisipan yang mengadopsi hasil pemikiran-pemikiran yang ditulis orang Eropa tersebut, meski tidak semuanya berbuat demikian. Mestinya disadari bahwa siapa saja yang menguasai arus informasi, dialah yang akan menguasai wacana. Sebagaimana yang dikatakan tadi, umat Islam selalu dijadikan wacana oleh “rival-rival” mereka. Sedangkan mereka sendiri tidak membuat wacana balik yang akan menolak, mengokohkan, mengkritisi, atau melanjutkan wacana tersebut.
            Bila ini terus dibiarkan, bisa jadi umat Islam tidak mandiri dan akan terus mengekor Barat. Bahkan, bila ini mencapai tingkat akut tidak tertutup kemungkinan kelak Islam akan bertekuk lutut di hadapan Barat. Tentu umat Islam tidak ingin ini terjadi. Selagi ada kesempatan, umat Islam harus menggelorakan semangatnya untuk bangun dari keterpurukan dan berlari mengejar ketertinggalan dengan mulai mencintai ilmu pengetahuan, memfungsikan akal, dan bergelut dengan dunia literasi. Ajaran Islam sendiri telah banyak menghimbau umatnya agar senantiasa menggali ilmu pengetahuan dan menjauhi kebodohan, baik yang tertulis dalam al-Quran maupun hadis. Dalam surat al-Zumar misalnya, Allah berfirman yang artinya: samakah orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui? Atau hadis Nabi Saw. yang artinya: barang siapa yang pergi mencari ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar