Halaman

Minggu, 03 November 2013

Menjadi Ibu Rumah Tangga itu Susah (?)



Berbicara soal ibu rumah tangga, sebenarnya saya tak tahu banyak. Maklum, saya masih belum berkeluarga. Keinginan menulis tentang tema ini berawal dari saran orang terdekat saya agar menulis tentang bayang-bayang menjadi ibu rumah tangga. Saya respon positif ide tersebut. Tampaknya menarik. Ada perasaan berbeda ketika saya membicarakan soal ibu rumah tangga. Mungkin karena saya perempuan dan sebentar lagi akan menjadi ibu rumah tangga. 

Perempuan yang belum berkeluarga seperti saya biasanya bertanya-tanya begini, susah gak sih menjadi ibu rumah tangga? Kalau melihat tugas-tugas domestik seorang istri, tampaknya menjadi istri itu sibuknya bukan main. Selain ngurus anak, juga harus ngurus suami. Mulai dari menyiapkan sarapan, mencuci, menanak, mengantarkan anak ke sekolah, mendidik anak, dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebut satu-satu. Ribet kan ya? Kalau urusan domestik saja sudah terlihat begitu sibuk, lalu bagaimana wanita karier membagi waktunya antara kesibukan dan keluarganya? 

Kelak, saya ingin menjadi wanita karier. Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Wanita karier yang saya maksud di sini adalah wanita yang dinamis, bergerak, bekerja, tidak hanya diam di rumah, dan bisa membagi ilmunya dengan orang lain. Melihat kesibukan urusan domestik, tampaknya saya harus berpikir beberapa kali lagi untuk menjadi wanita karier. Selain harus pintar membagi waktu, saya harus siap mendahulukan urusan domestik, karena urusan domestik adalah tugas yang harus diutamakan. Setelah urusan domestik kelar, saya boleh beraktifitas. 

Saya melihat jelas bagaimana sibuknya saudara saya mengurus urusan domestiknya. Bisa dibilang ia juga termasuk wanita karier. Setiap jam 07.00 pagi ia harus meninggalkan rumah untuk urusan pekerjaannya. Belum lagi ia harus menyiapkan sarapan dan mengurus anaknya untuk pergi ke sekolah. Untunglah, jika ada kesempatan, urusan domestik tersebut masih bisa dibantu saya dan ibu sehingga bebannya sedikit lebih ringan. Melihat kesibukannya, saya jadi berpikir kembali, bisakah saya menjadi wanita karier di saat menjadi ibu rumah tangga yang tugasnya sederet itu?

Setelah saya tanyakan pada beberapa teman yang sudah berkeluarga, bagaimana sih perasaannya menjadi ibu rumah tangga? Benarkah menyibukkan atau justru menyenangkan? Salah satu jawaban mereka begini, sebenarnya ribet tidaknya menjadi ibu rumah tangga bergantung pada suasana hati. Jika keadaan hati tidak enak dan tidak stabil, maka urusan domestik bisa terasa berat meski hanya persoalan sepele. Begitu juga sebaliknya, jika dilewati dengan perasaan yang stabil, santai, dan dengan emosi normal, maka semuanya menjadi mudah dan nyaman. 

Ya, saya sepakat dengan asumsi tersebut. Enak tidaknya menjadi ibu rumah tangga sangat bergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Suasana hati kita yang akan menentukan hal tersebut. Menganggap semuanya mudah dan biasa-biasa saja, menjadikan urusan rumah tangga terasa menyenangkan.  Perasaan capek memang pasti ada. Namun, dari perasaan capek itulah istri akan merasakan ketentraman dan kenyamanan yang luar biasa ketika semuanya selesai dikerjakan. Rasa lelah yang berkelindan akan terobati ketika melihat senyum anak dan suami. 

Peran perempuan sebagai istri tentu tidak sekedar melayani saja. Lebih dari itu, istri adalah tempat berteduh bagi suami dari segala ragam kepenatan, seperti Aisyah yang selalu ada untuk Nabi di saat kejenuhan itu datang. Ia akan menjadi motivator bagi setiap langkah positif yang suami jalani, seperti Fatimah yang selalu mendukung Ali untuk membela Islam. Menjadi penguat hati bila suami mendapatkan musibah yang tak diharapkan, seperti Khadijah yang selalu menguatkan hati Nabi ketika aral melintang dalam masa-masa perjuangan menegakkan Islam. 

Menjadi istri itu tak cukup bermodalkan pintar dan berpengetahuan lho. Satu hal yang sangat penting dimiliki istri adalah kesabaran. Ya, sabar. Kemampuan mengelola hati dan perasaan itulah yang mampu membuat bangunan rumah tangga kokoh bertahan. Bisa dibayangkan, bagaimana sibuknya istri mengurusi tugas-tugas domestiknya. Belum lagi kalau ia memiliki anak. Satu anak mungkin tidak begitu sibuk diurusi. Bagaimana kalau dua, tiga, atau bahkan lebih? Betapa repotnya mengurusi mereka. Maka, memiliki kesabaran adalah harga mati bagi istri. Hehe…

Waktu di pesantren, saya pernah “diramal” oleh sahabat saya yang bisa dibilang sudah mukasyafah. Dia melihat telapak tangan saya. Setelah lama berpikir, ia berkata, “Ishbiri, Mbak”. Saya bertanya, “Kenapa, Neng?” “Bersabarlah nanti ketika berkeluarga,” jawabnya. Saya heran saja, kenapa tiba-tiba dia mengatakan seperti itu? Apa yang akan terjadi dalam rumah tangga saya nanti? Begitu pikir saya kala itu. Khawatir? Tentu saja ada. Namun, terlepas dari itu, tidak  diramal pun saya percaya, bahwa jalan dalam berumah tangga itu tak selamanya lurus. Ada tikungan, tanjakan, bebatuan, dan banyak lagi rintangan-rintangan lain yang menghadang. Dan untuk menghadapi semua itu tentu butuh kesabaran. Sabar dan terus bersabar.

Menjalani bahtera rumah tangga itu memang tak mudah. Beberapa orang (kebanyakan?) mengakui bahwa kehidupan keluarga kadang sulit dan susah. Menyatukan karakter antara laki-laki dan perempuan itulah salah satu kesulitannya. Laki-laki yang rasional dan perempuan yang temperamental biasanya akan sulit bertemu dalam satu muara. Apabila keduanya saling membenarkan pendapat masing-masing atau saling menonjolkan ego diri, bisa jadi akan berujung pada pertikaian. Maka tidak ada salahnya jika salah satunya mengalah, mencoba menjadi embun di saat suasananya “gerah”.

Terlebih lagi jika dihadapkan dengan persoalan ekonomi. Uang punya peran penting dalam keluarga. Bisa dilihat sendiri berapa banyak anggota keluarga yang bercerai gara-gara persoalan ekonomi. Keadaan ekonomi yang menghimpit biasanya memicu timbulnya pertengkaran antara suami-istri. Dalam hal ini, istri-lah yang kerap kali mempersoalkan keuangan keluarga. Saya tidak tahu pasti kenapa begitu, apakah itu memang tabi’at seorang istri atau karena istri yang banyak tahu tentang kebutuhan-kebutuhan keluarga sehingga ia harus memperhatikan keuangan? “Yang pasti, urusan uang, istri itu paling cerewet,” kata seorang teman. Untuk urusan seperti ini, saya pikir, suami-istri sebaiknya saling mengoreksi diri. Saling menerima kekurangan masing-masing. Pegang prinsip seperti ini saja, “Taka ada uang, tak masalah. Yang penting happy dan berkah.” Hidup kok dibikin susah? 

Saat ini saya hanya bisa berbicara. Mereka-reka seperti apa gambaran menjadi istri sekaligus ibu rumah tangga. Apa yang saya bicarakan di atas mungkin validitasnya masih dipertanyakan karena saya belum berpengalaman di bidang itu. Namun, komentar saya tersebut bukanlah tanpa referensi, saya berbicara berdasarkan pada fenomena sekitar yang saya lihat atau pengalaman teman saya yang sudah berkeluarga. Paling tidak, itu sudah cukup bagi saya untuk berani berbicara tentang tema ini. 


Lenteng Barat, 02 November 2013/ 11: 44 WIB

Sabtu, 26 Oktober 2013

Ternyata, Cerdas itu Tak Cukup



Sebagaimana orangtua pada umumnya, ayah-ibu saya menginginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang  cerdas. Sejak kecil saya dididik menjadi pribadi yang suka membaca, menghapal, dan menulis materi-materi pelajaran. Bahkan, untuk meningkatkan prestasi saya, orangtua kerap kali mengiming-imingi saya hadiah jika saya bisa mendapatkan juara. Mungkin, mereka berpikir bahwa kesuksesan seseorang diukur dari setinggi apa kecerdasan dan kepintaran yang dimilikinya. Asumsi tersebut juga didukung oleh pemahaman masyarakat pada umumnya bahwa kesuksesan itu hanya bisa didapatkan orang yang pintar, cerdas, dan berpengetahuan.
Selama ini masyarakat Indonesia masih meyakini bahwa kecerdasan intelektual sangat menentukan terhadap kesuksesan seseorang. Karena itulah sistem pendidikan kita saat ini masih menekankan pada kurikulum yang memprioritaskan aspek kognitif. Wajar jika kemudian kebanyakan guru di negeri ini lebih memberikan pengetahuan daripada pendidikan terhadap anak didiknya. Bagi mereka, yang penting anak didik paham dan hapal, itu sudah cukup.
Benarkah demikian? Tampaknya saya harus berpikir seribu kali untuk membenarkan asumsi tersebut. Ada banyak alasan kenapa saya menolak pendapat bahwa kecerdasan intelektual harus menjadi prioritas. Memang, awalnya saya juga berpikir begitu, bahwa walau bagaimanapun kecerdasan intelektual harus menjadi prioritas yang diutamakan, karena sulit rasanya diterima akal, orang bodoh dapat mencapai kesuksesan. Begitulah persepsi saya awalnya. Untuk mencapai keinginan tersebut, maka saya harus sering-sering memberi asupan gizi pada otak untuk meningkatkan daya kecerdasannya.
Namun, tampaknya ada yang keliru dari pemahaman saya tersebut. Kesalahan itu terlihat ketika saya berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Saya melupakan kecerdasan emosional yang justru menjadi hal terpenting dalam membangun relasi dengan orang lain. Sebagai mahluk zoon politicon, tak ditampik bahwa kita saling membutuhkan satu sama lain. Kita butuh orang lain untuk bekerja sama, untuk berbagi cinta, untuk mendengarkan keluh kesah kita, yang muaranya adalah untuk mencipta kehidupan.
Kita tidak bisa mengenyampingkan orang lain dalam hal kesuksesan. Dalam artian, orang lain juga turut andil dalam menyukseskan impian-impian kita. Lihat saja orang yang tengah berbisnis. Pembisnis sangat memerlukan kecakapan berbicara ketika mempengaruhi konsumen  agar tertarik pada bisnis yang digelutinya. Saya percaya bahwa kesuksesan itu sangat ditentukan oleh sejauh mana kita bisa berinteraksi dengan orang lain. Bahkan ada pernyataan satir, orang yang tidak mengenyam pendidikan sekalipun bisa lebih sukses daripada orang yang menyandang banyak gelar. Alasannya, orang pintar kadang tidak memiliki kecakapan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Sementara orang bodoh terkadang bisa melakukan hal sebaliknya.
Terlepas dari obrolan tentang kesuksesan sebagaimana di atas, orang yang loyal dan punya kemampuan berinteraksi yang baik ternyata lebih dicintai daripada orang yang sebaliknya. Biasanya, orang yang memiliki kecerdasan emosional lebih memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Kepedulian tersebut akan menggerakkan hatinya untuk menolong orang lain. Ia bisa membuat hati orang lain senang dan merasa nyaman sehingga nantinya ia bisa dicintai.
Saya ingat waktu saya masih di pesantren.  Teman-teman saya bilang, saya tipe orang yang kurang peduli lingkungan dan terkesan cuek. Kata mereka, saya sibuk dengan dunia sendiri. Saya kerap kali ditegur ketika hanya sibuk membaca buku tanpa peduli apa yang sedang terjadi di sekeliling. Saya menyadari, itu adalah sebuah kekurangan, di mana saya malah sibuk mencerdaskan otak daripada meningkatkan kepedulian (kecerdasan emosional) yang justru lebih penting. Akibatnya, jika kepedulian kita kurang pada orang lain, orang lain pun juga akan bersikap kurang peduli pada kita. Orang bilang, “sikapmu akan menentukan sikap orang lain terhadapmu”.
Saya juga menyadari akan pentingnya kecerdasan emosional waktu saya kembali ke masyarakat. Masyarakat desa tentu akan memperhatikan tingkah laku dan tindakan kita sehari-hari. Dalam Ta’limul Muta’allim memang disebutkan bahwa Ilmul Hal (Madura: elmo tengka) sangat penting dipelajari. Hal itu dirasakan pentingnya ketika nanti bermasyarakat. Kadang saya merasa teori-teori “elitis” yang saya pelajari di bangku pendidikan tidak ada apa-apanya ketika sampai di masyarakat. Yang sangat diperlukan ketika bermasyarakat adalah kecerdasan emosional, kemampuan berinteraksi yang dapat mengantarkan kita pada kecintaan mereka.
Dalam bincang-bincang santai dengan tetangga, saya merasa malu ketika mereka mengatakan kalau mahasiswa saat ini hanya bisa berteori dan saling menunjukkan kemampuan berorasi. Tapi dalam hal tengka dan berafiliasi dengan masyarakat, bisa dibilang mereka masih kurang. Tak apalah saya tersinggung, toh, kenyataannya memang seperti itu.
Coba saja perhatikan bagaimana gaya bicara mahasiswa dalam sebuah forum atau dalam kelas kuliah. Sebagai mahasiswa, saya tahu betul tentang itu. Akan tetapi ketika terjun ke dunia yang “sebenarnya” di masyarakat, mereka malah merasakan ada sekat antara dirinya dan masyarakat. Ada tabir penghalang yang sepertinya menghalangi interaksi di antara mereka. Sekat ini boleh jadi disebabkan karena teori-teori yang selama ini dipelajari tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sebab demikian, penilaian masyarakat terhadap mahasiswa menjadi “min” walaupun mereka memiliki kecerdasan yang luar biasa.
Namun bukan berarti saya menampik kalau kecerdasan intelektual itu juga penting. Hanya saja, jika kecerdasan intelektual tidak berjalan seiring dengan kecerdasan-kecerdasan yang lain, maka cerdas otak itu tidak bernilai apa-apa. Hanya omong kosong belaka. Contoh konkritnya adalah pejabat-pejabat kita. Mereka memang pintar-pintar, cerdas-cerdas, dan punya banyak gelar. Tapi, kenapa mereka biasa bersinggungan dengan KPK? Kenapa mereka selalu dipandang sinis oleh rakyatnya? Kenapa mereka sering terjerat mafia hukum? Ya, kenapa? Kenapa? Nah, hal inilah yang mengindikasikan bahwa kecerdasan intelektual saja tak cukup. Ada kecerdasan lain yang mereka lupakan, yakni kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.
Saya kemudian berkesimpulan bahwa kecerdasan emosional itu lebih dibutuhkan daripada kecerdasan intelektual dalam kehidupan kita sehari-hari. Kesimpulan ini saya dapatkan ketika sudah sama-sama merasakan menjadi seorang pelajar dan bagian dari masyarakat.
Akhirnya saya katakan, catatan ini hanyalah buah kegelisahan saya terhadap pelajar yang hanya bisa berlomba-lomba menonjolkan kemampuan intelektual, namun di waktu yang bersamaan mereka malah melupakan kecerdasan-kecerdasan lain yang juga dinilai penting. Bisa juga, catatan ini dikatakan sebagai teguran dan peringatan untuk saya sendiri agar lebih memperhatikan kecerdasan emosional ketimbang kecerdasan intelektual, agar lebih peka dan peduli terhadap lingkungan masyarakat daripada menyibukkan diri untuk mencerdaskan otak dan abai sekitar.

Lenteng Barat, 22 Oktober 2013

“Kegenitan” Intelektual



                        Sore itu, saya dan teman-teman FLP Latee II mendatangi kediaman salah satu pengasuh Annuqayah, Nyai Fadhilah Hunnaini, untuk mengikuti kegiatan FLP berupa Bookholic. Secara umum, istilah bookholic sering digunakan untuk orang yang mencintai buku. Maka kegiatan ini bisa dikatakan sebagai komunitas sekumpulan orang yang mencintai buku. Setiap anggota FLP, dalam kegiatan ini, diwajibkan membaca minimal satu buku, baik fiksi maupun non-fiksi, setiap minggunya untuk kemudian dipresentasikan di depan pembimbing. Usai melakukan presentasi, sesi berikutnya, peserta yang lain berhak angkat suara untuk menyanggah, mengkritisi, menguatkan, atau membenarkan  hasil presentasi tadi.  
            Kamis, di putaran kalender 21 Maret 2013, saya menemukan hal menarik saat menghadiri kegiatan Bookholic itu. Apa menariknya? Saya menemukan istilah baru sebagaimana yang sudah dijadikan judul tulisan ini. Kali pertama saya mengikuti kegiatan Bookholic ini, tiba-tiba saya ditunjuk oleh pembimbing untuk menyampaikan isi buku yang saya baca. Untung saja saya membawa buku yang telah saya baca—walaupun tidak keseluruhan—untuk dibagikan pengetahuannya. Buku berjudul Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel buah tangan salah seorang pengasuh muda Annuqayah, K. M. Mushthafa, membuat saya percaya diri untuk berbagi wawasan dan pengetahuan kepada teman-teman yang lain.
            Karena mutu buku tersebut—menurut saya—bagus, saya kemudian bergairah untuk menyampaikan secara oral pembahasan apa saja yang termuat dalam buku tersebut. Lebih tepatnya, saya menyampaikan salah satu tulisan berjudul Tradisi Membaca di Kalangan Masyarakat Madura: Antara Kemiskinan, Peran Pesantren, dan Komunitas Ilmiah yang Rapuh. Bagi saya, tema semacam ini selalu hangat dan menarik didiskusikan. Sebab saya yakin, persoalan membaca dan menulis yang tampak sekarat di Indonesia pada umumnya dan di Madura pada khususnya selalu mengundang pro-kontra. Titik kontroversi dari hal itu biasanya tak jauh dari seputar siapa yang harus bertanggung jawab dalam problem akut ini.  
            Namun, di ruang ini, saya tidak ingin bicara panjang lebar mengenai itu. Isu tersebut sudah mempunyai ruang tersendiri untuk diperdebatkan. Sesuai dengan judul tulisan ini, saya hanya ingin mentransformasikan apa yang saya dapat dari hasil dialog saya dengan pembimbing setelah saya memaparkan isi tulisan dalam buku tersebut.
            Setelah saya membahas cukup lama, pembimbing kemudian menyinggung perihal “kegenitan” intelektual di tengah tanggapannya terhadap hasil presentasi saya. “Kegenitan” intelektual? Memang janggal kedengarannya. Baru kali ini istilah tersebut saya dengar. Yang saya tahu sebelumnya, kata “genit” lumrah dilekatkan pada perilaku seseorang. Lalu kenapa pembimbing saya itu lebih memilih “kegenitan” sebelum kata “intelektual”? Kenapa bukan kosakata lain yang lebih relevan? Dalam perenungan yang lama, saya pikir pemilihan kata genit tersebut  ada benarnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata genit diartikan bergaya-gaya (tingkah lakunya), banyak tingkahnya, dan liar. Kalau diasosiasikan dengan kata intelektual tadi, “kegenitan” intelektual dapat berarti berpikir liar, keterlaluan, berlebihan, dan di luar batas. Atau bisa juga didefinisikan sebagai cara berpikir yang dangkal akibat dari pemahaman yang tidak komprehensif atau separuh-separuh. “Kegenitan” intelektual ini bisa saja dimiliki oleh tiap person. Masing-masing orang berpotensi untuk melakukan hal demikian.  
Sudah sering kita temui beberapa orang (kebanyakan?) dengan pengetahuan yang dimilikinya berlagak seperti orang yang “pamer” wawasan. Kehidupan global yang makin berkembang ini meniscayakan tumbuhnya pengetahuan-pengetahuan baru yang progresif. Hal ini, pada kesempatan berikutnya, akan membuat banyak orang latah lalu berkompetisi untuk menguasai pengetahuan tersebut tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu efek apa yang akan ditimbulkan dari pengetahuan (ilmu) tersebut. Sebab, memiliki pengetahuan baru yang dialektis membuat mereka merasa prestise intelektualnya naik satu tingkat. Dan ini, bagi kebanyakan orang, merupakan suatu kebanggaan.
Maka lumrah jadinya bila ada seseorang di depan orang lain mentransformasikan secara verbal wawasan baru yang dimilikinya dengan cara yang pongah, seolah mereka mengantongi secara penuh pengetahuan yang dibagikannya tersebut. Padahal hakikatnya apa yang telah mereka sampaikan tak lebih dari sekedar permukaannya saja. Maksud saya, ilmu yang mereka dapatkan hanya setengah-setengah, belum mendalam, meluas, dan holistik. Analoginya begini, ada orang yang ingin mengetahui laut tetapi hanya memperhatikannya dari bibir pantai saja. Maka yang ia tahu, laut itu ya hanya air. Padahal, kalau saja berusaha menyelaminya lebih dalam, tentu ia akan menemukan jawaban bahwa laut itu tak sekedar air. Laut adalah fenomena alam yang di dalamnya menyimpan kekayaan berupa permata, terumbu karang, berbagai macam jenis ikan, rumput laut, dan lain sebagainya.
Dengan pengetahuan yang ala kadarnya, orang yang terjangkit virus “kegenitan” intelektual kerap kali memproduksi logikanya dengan nalar yang keliru dan salah kaprah. Pemahaman yang destruktif sekaligus distortif dalam wilayah ini sangat mendominasi. Akibatnya, pengetahuan tersebut memungkinkan untuk mengancam stabilitas intelektual mereka sendiri dan tak luput juga orang lain. Dikatakan mengancam, sebab pemahaman mereka yang parsial melahirkan sikap melebih-lebihkan persepsi yang nantinya akan berujung pada tindakan dan prilaku yang salah pula. Tentu ini berbahaya.  
Orang yang biasa berpikir dengan berlebihan dan bebas (memelihara “kegenitan” intelektual) sering mendapatkan stereotipe liberal, ekstrem, dan sebutan-sebutan buruk lainnya. Paradigma yang mereka munculkan selalu jauh dari pemahaman yang sebenarnya. Sekali lagi, ini karena faktor pemahaman mereka yang hanya menyentuh kulit luarnya saja. Mereka boleh saja berbangga hati. Namun orang lain akan menatap mereka dengan sinis.
Orang yang merasa tertarik untuk menguasai pengetahuan dan wawasan baru memang patut diacungi jempol. Hal demikian memang perlu. Selain agar kita dapat meng-update pengetahuan, kita juga tidak mudah dikelabuhi orang. Artinya, orang yang memiliki pengetahuan pasti bisa menyelamatkan diri dari perangkap orang lain yang berniat buruk terhadapnya karena ia sudah punya ilmunya. Tetapi yang perlu digarisbawahi, menggali pengetahuan itu janganlah dangkal-dangkal. Sekali basah, langsung mandi saja. Kalau hanya setengah-setengah, mending jangan saja agar tidak menimbulkan riskan bagi dirinya dan orang lain.
Sebagai penutup, akhirnya saya berharap semoga kita tak sedikit pun berkeinginan untuk melakukan “kegenitan”  intelektual.

Guluk-Guluk, 24 Maret 2013

Sabtu, 19 Oktober 2013

Sepenggal Kisah dari Bilik FLP



Tim Sepuluh

Awalnya adalah Tim Sepuluh. Tim Sepuluh? Ya, Tim Sepuluh inilah yang merupakan cikal bakal terbentuknya Forum Lingkar Pena PP Annuqayah Latee II, Guluk-Guluk, Sumenep. Tim ini dibentuk oleh pengurus PPA Latee II bagian Pendidikan dan Pengembangan Intelektual, Ummayyatun El-Jimmy, periode 2009-2010. Sebagai koordinator, Mbak Ummay, panggilan akrab Ummayyatun El-Jimmy, berupaya meningkatkan kualitas santri Latee II di bidang akademik dengan cara, salah satunya, membentuk Tim Sepuluh. Sebutan Tim Sepuluh ini mungkin karena forum ini  beranggotakan sepuluh orang yang terdiri dari siswa dan mahasiswa terpilih.
Malam itu, saya dan sembilan orang lainnya dipanggil ke kantor oleh pengurus untuk menghadiri sosialisasi pengenalan Tim Sepuluh. Bersama Mbak Ummay, saat itu kami memperbincangkan banyak hal terkait peningkatan mutu santri Latee II di bidang akademik, utamanya di bidang tulis-menulis. Saya tidak tahu pasti alasannya kenapa Mbak Ummay waktu itu sangat memprioritaskan bidang tulis-menulis. Ada banyak dugaan di benak saya, mungkin saja karena Mbak Ummay menyukai dunia literasi sejak dulu, atau karena salah satu bukti kemajuan intelektual santri dapat diukur dari kemampuannya menyampaikan gagasan dalam bentuk tulisan. Entahlah…
Karena prioritasnya adalah menulis, membaca, dan berdiskusi, maka wajar saja anggota Tim Sepuluh ini terdiri dari beberapa orang yang memang bergelut di dunia kepenulisan, baik sebagai kru aktif Majalah Iltizam maupun kru Buletin Variez. Tiada henti-hentinya Mbak Ummay memompa semangat juang kami untuk terus menulis, membaca, dan berdiskusi. Kami pun menyambut semangat beliau dengan semangat yang tak kalah membara. Tentu saya beruntung sekali menjadi salah satu anggota Tim Sepuluh ini. Selain karena saya bisa mengembangkan minat saya di dunia literasi, saya juga memiliki sembilan teman yang sama-sama memiliki semangat untuk bergerak maju.
Biasanya, kami selalu menghabiskan waktu di Mushalla untuk sekedar bincang-bincang ringan. Pagi itu, di sela-sela pembicaraan, Mbak Ummay memberi kabar baik yang membuat kami tidak berhenti bahagia. Dia memberi tahu kami bahwa Latee II akan bergabung dengan FLP Cabang tidak lama lagi. Benar-benar surprise! Mbak Ummay semakin memanjakan potensi menulis kami dengan menyediakan wadah kepenulisan. Mendengar organisasi kepenulisan seperti FLP, tentu membuat kami bangga. Mengapa tidak? FLP adalah organisasi kepenulisan yang mendunia, tidak hanya di tingkat nasional, tapi juga internasional.
Kepengurusan FLP pun terbentuk, yang diambil dari anggota Tim Sepuluh dan santri lainnya. Setelah kepengurusan lengkap, kami dipertemukan dengan pengurus FLP Cabang di kantor PPA Latee II dalam rangka silaturrahmi dan sharing seputar FLP. Nun Urnoto yang kala itu menjabat sebagai ketua FLP Cabang menceritakan secara mendetail sejarah berdirinya FLP, pengelolanya, penamaan FLP, dan lain sebagainya. Alhamdulillah, kala itu juga kami mendapatkan SK kepengurusan FLP Ranting.   

FLP Dulu
Sebagaimana lazimnya kepengurusan baru, FLP yang waktu itu masih seumuran jagung dihadapkan dengan ragam masalah dan keterbatasan-keterbatasan dalam perkembangannya. Namun hal itu tidak lantas menjadikan kami berpangku tangan dan menyerah,  justru keterbatasan-keterbatasan itulah yang menjadi pemicu kami untuk kian bangkit dan berdiri kokoh. Benar kata orang, semakin besar tantangannya, maka semakin besar pula perjuangannya.
Keterbatasan yang kami hadapi waktu itu, salah satunya, tidak adanya tempat khusus untuk para anggota FLP sehingga menyulitkan kami untuk berkumpul. Selain itu, fasilitas seperti komputer, buku bacaan, dan fasilitas lainnya juga belum ada. Kami menjalankan semuanya apa adanya. Namun hal itu tidak lantas menjadikan peminat-peminat FLP patah arang. Malah calon anggota baru justru makin membludak dari waktu ke waktu. Kami pun menggelar kegiatan orientasi untuk para anggota baru.
Kegiatan-kegiatan FLP waktu itu masih sangat sederhana, seperti pemberian materi dari pembimbing, menulis, dan membaca. Para anggota dihimbau agar menulis untuk kemudian dikirimkan ke media cetak. Dan hasilnya? Karya-karya anggota FLP tak jarang ditemui di media lokal maupun nasional. Alhamdulillah… Kami cukup bangga dengan prestasi itu. 
Dari waktu ke waktu, bersama para senior, FLP melakukan pembenahan-pembenahan. Awalnya, kami meminta pengurus pesantren PPA Latee II untuk melokalisasikan anggota FLP di tempat yang khusus. Tujuannya, agar kami mudah menjalankan program. Syukurlah… Pengurus mengapresiasi positif permohonan tersebut. Hingga akhirnya FLP mendapatkan satu kamar khusus yang terletak di depan Mushalla Lantai III sebelah selatan.

Situasi Paling Dilematik
Perjalanan saya bersama anggota FLP pernah diterpa badai. Rintangan demi rintangan datang kembali untuk menyurutkan semangat saya berproses menjadi penulis. Berat sekali waktu itu saya melawan badai yang datang secara tiba-tiba tersebut. Tapi walau bagaimanapun, tetap harus saya hadapi. Bukan malah lari dan menghindar begitu saja.
Belakangan ada kekhawatiran di hati ketua pengurus pesantren terhadap kinerja bawahannya. Katanya, beberapa pengurus tidak menjalankan tugasnya dengan maksimal akibat dari multi-job yang menjadi tanggungannya. Karena terlalu sibuk, pengurus yang multi-job kerap meninggalkan tugas yang satu karena mengerjakan tugas lainnya. Oleh sebab itulah, ketua pengurus akhirnya mengeluarkan ultimatum bahwa pengurus tidak boleh memiliki dua jabatan di pondok pesantren Latee II.
Hal itu juga berlaku untuk pengurus FLP. FLP yang merupakan lembaga semi independen dinilai memerlukan perhatian khusus karena banyaknya program yang harus direalisasikan. Karena itu, pengurus FLP juga dilarang memiliki dua jabatan di Latee II. Jika memang memiliki dua jabatan atau lebih, maka konsekuensinya harus memilih salah satunya.
Nah, inilah yang saya hadapi waktu itu. Saya menduduki jabatan di salah satu kepengurusan Latee II. Sebut saja kepungurusan di lembaga “A”.  Bersamaan itu pula, saya menjadi pengurus FLP di bagian Penerbitan sekaligus Pemimpin Redaksi Buletin Variez. Jabatan yang bisa dibilang strategis dan cukup mengurus tenaga. Mau tak mau, saya harus memilih agar saya bisa menjalankan tugas secara maksimal. Dan benar, malam itu saya diharuskan untuk memilih. Hmm, berat sekali rasanya melepaskan FLP dan kepengurusan di lembaga “A” itu. Saya benar-benar berada di posisi dilematik.
Apa yang saya pilih? Ternyata dengan berat hati saya harus merelakan FLP. Saya lepas dari FLP. Saya lebih memilih kepengurusan di lembaga “A” itu. Entah, apakah pilihan saya itu berdasarkan suara hati nurani atau tidak. Yang jelas, malam itu suara saya menyatakan lepas dari FLP. Pilihan saya itu nyatanya tidak sederhana. Saya menangis karena meninggalkan FLP. Momentum perjuangan bersama senior dan sahabat-sahabat FLP berkelebat kembali dalam memori otak saya. Ah, saya tak tahu, kenapa saya tidak teguh pada pendirian sebelumnya.

FLP Saat Ini
Entah apa yang Tuhan rencanakan untuk garis hidup saya. Kecintaan saya pada dunia kepenulisan ternyata tak putus di tengah jalan. Tuhan selalu memberi jalan agar saya tetap mengembangkan potensi di dunia tulis-menulis. Singkat cerita, saya kembali lagi ke dunia FLP. Saya berkumpul kembali dengan para pejuang pena Latee II. Bahagia rasanya. Saya telah kembali pada dunia saya yang sebenarnya. Saya tak merasa terpaksa berproses bersama mereka. Saya menikmati kegiatan-kegiatan FLP; mulai dari membaca, berdiskusi, menghapal, dan tentu juga menulis.
FLP saat ini bisa dibilang lebih maju dari sebelum-sebelumnya. Kami sudah punya kamar khusus dan fasilitas-fasilitas yang kami butuhkan juga mulai terpenuhi. Kami sudah tidak perlu duduk di rental lagi untuk mengetik buletin atau majalah, karena di sana sudah disediakan komputer khusus untuk FLP. Kami juga tidak perlu susah-susah memanggil para anggota untuk menggelar kegiatan, karena kami saat ini berada dalam satu atap.
Selain itu, di FLP juga dilengkapi dengan perpustakaan mini yang lumayan bisa dijadikan tempat untuk membaca meski bukunya hanya beberapa saja. Namun tidak hanya buku, anggota FLP juga bisa meng-up date pengetahuan dan wawasannya dengan membaca Koran harian yang menjadi langganannya tiap bulan. Setiap hari, anggota dihimbau untuk membaca kabar di harian Kompas.
Kegiatan-kegiatan yang kami canangkan semakin beragam. Anggota tidak hanya diwajibkan menulis saja. Mereka juga dibekali dengan teori-teori kepenulisan dalam bimbingan Bapak Maimun Syamsuddin, Bapak Asy’ari Khatib, Bapak Warits Ilham, Nyai Fadhilah Hunnaini, dan Bapak M. Zamiel al-Muttaqien. Merekalah yang bersedia meluangkan waktu dan bersabar dalam memberikan arahan-arahan terhadap tulisan anggota FLP.
Agar tulisan terasa makin nikmat, penulis harus memiliki perbendaharaan kata yang cukup banyak. Oleh sebab itu, anggota FLP diberi kosakata ilmiah setiap hari untuk dihapalkan, sehingga mereka tidak kesulitan nantinya untuk memahami kalimat yang mengandung bahasa-bahasa ilmiah.
Satu hal yang saya banggakan dari anggota FLP adalah kekompakan mereka untuk memajukan FLP tercinta. Meski kadang merasa lelah untuk menulis dan mengerjakan tugas-tugas dari pembimbing, namun tetap saja mereka selesaikan tugas tersebut dengan sabar. Kekompakan mereka juga terlihat ketika merampungkan Buletin Variez dan Majalah Iltizam serta ketika menggelar acara Great Show. Saya ingat betul saat di mana mereka saling “bertengkar” dan menangis ketika memperjuangkan kegemilangan acara Great Show tersebut. Akan tetapi di akhir acara, tangis itu terbalas dengan senyum bangga.
Kini semuanya hanya bisa saya kenang. Tangisan itu menganak sungai ketika di antara kami harus memilih pergi untuk mengejar mimpi masing-masing. Benar kata orang, semua akan terasa berharga ketika sudah tiada. Kepergian mereka membuat banyak hati basah. Kini tak ada lagi canda tawa seperti dulu, tak ada lagi yang marah-marah untuk meminta tugas, tak ada lagi yang terburu-buru menulis beberapa kalimat untuk diletakkan di Bank Karya, tak ada lagi lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. Semuanya sudah tak ada lagi. Yang ada hanyalah kenangan.
Saya ingin mengabadikan kenangan itu melalui catatan sederhana ini. Sebagai bukti bahwa  kalian sangatlah berharga. Begitu berharga. Dan tahukah kalian? Saya telah menyediakan tempat khusus di salah satu sudut hati saya untuk kalian tempati kapan saja.


Lenteng Barat, Sabtu, 19 Oktober 2013