Halaman

Sabtu, 26 Oktober 2013

“Kegenitan” Intelektual



                        Sore itu, saya dan teman-teman FLP Latee II mendatangi kediaman salah satu pengasuh Annuqayah, Nyai Fadhilah Hunnaini, untuk mengikuti kegiatan FLP berupa Bookholic. Secara umum, istilah bookholic sering digunakan untuk orang yang mencintai buku. Maka kegiatan ini bisa dikatakan sebagai komunitas sekumpulan orang yang mencintai buku. Setiap anggota FLP, dalam kegiatan ini, diwajibkan membaca minimal satu buku, baik fiksi maupun non-fiksi, setiap minggunya untuk kemudian dipresentasikan di depan pembimbing. Usai melakukan presentasi, sesi berikutnya, peserta yang lain berhak angkat suara untuk menyanggah, mengkritisi, menguatkan, atau membenarkan  hasil presentasi tadi.  
            Kamis, di putaran kalender 21 Maret 2013, saya menemukan hal menarik saat menghadiri kegiatan Bookholic itu. Apa menariknya? Saya menemukan istilah baru sebagaimana yang sudah dijadikan judul tulisan ini. Kali pertama saya mengikuti kegiatan Bookholic ini, tiba-tiba saya ditunjuk oleh pembimbing untuk menyampaikan isi buku yang saya baca. Untung saja saya membawa buku yang telah saya baca—walaupun tidak keseluruhan—untuk dibagikan pengetahuannya. Buku berjudul Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel buah tangan salah seorang pengasuh muda Annuqayah, K. M. Mushthafa, membuat saya percaya diri untuk berbagi wawasan dan pengetahuan kepada teman-teman yang lain.
            Karena mutu buku tersebut—menurut saya—bagus, saya kemudian bergairah untuk menyampaikan secara oral pembahasan apa saja yang termuat dalam buku tersebut. Lebih tepatnya, saya menyampaikan salah satu tulisan berjudul Tradisi Membaca di Kalangan Masyarakat Madura: Antara Kemiskinan, Peran Pesantren, dan Komunitas Ilmiah yang Rapuh. Bagi saya, tema semacam ini selalu hangat dan menarik didiskusikan. Sebab saya yakin, persoalan membaca dan menulis yang tampak sekarat di Indonesia pada umumnya dan di Madura pada khususnya selalu mengundang pro-kontra. Titik kontroversi dari hal itu biasanya tak jauh dari seputar siapa yang harus bertanggung jawab dalam problem akut ini.  
            Namun, di ruang ini, saya tidak ingin bicara panjang lebar mengenai itu. Isu tersebut sudah mempunyai ruang tersendiri untuk diperdebatkan. Sesuai dengan judul tulisan ini, saya hanya ingin mentransformasikan apa yang saya dapat dari hasil dialog saya dengan pembimbing setelah saya memaparkan isi tulisan dalam buku tersebut.
            Setelah saya membahas cukup lama, pembimbing kemudian menyinggung perihal “kegenitan” intelektual di tengah tanggapannya terhadap hasil presentasi saya. “Kegenitan” intelektual? Memang janggal kedengarannya. Baru kali ini istilah tersebut saya dengar. Yang saya tahu sebelumnya, kata “genit” lumrah dilekatkan pada perilaku seseorang. Lalu kenapa pembimbing saya itu lebih memilih “kegenitan” sebelum kata “intelektual”? Kenapa bukan kosakata lain yang lebih relevan? Dalam perenungan yang lama, saya pikir pemilihan kata genit tersebut  ada benarnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata genit diartikan bergaya-gaya (tingkah lakunya), banyak tingkahnya, dan liar. Kalau diasosiasikan dengan kata intelektual tadi, “kegenitan” intelektual dapat berarti berpikir liar, keterlaluan, berlebihan, dan di luar batas. Atau bisa juga didefinisikan sebagai cara berpikir yang dangkal akibat dari pemahaman yang tidak komprehensif atau separuh-separuh. “Kegenitan” intelektual ini bisa saja dimiliki oleh tiap person. Masing-masing orang berpotensi untuk melakukan hal demikian.  
Sudah sering kita temui beberapa orang (kebanyakan?) dengan pengetahuan yang dimilikinya berlagak seperti orang yang “pamer” wawasan. Kehidupan global yang makin berkembang ini meniscayakan tumbuhnya pengetahuan-pengetahuan baru yang progresif. Hal ini, pada kesempatan berikutnya, akan membuat banyak orang latah lalu berkompetisi untuk menguasai pengetahuan tersebut tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu efek apa yang akan ditimbulkan dari pengetahuan (ilmu) tersebut. Sebab, memiliki pengetahuan baru yang dialektis membuat mereka merasa prestise intelektualnya naik satu tingkat. Dan ini, bagi kebanyakan orang, merupakan suatu kebanggaan.
Maka lumrah jadinya bila ada seseorang di depan orang lain mentransformasikan secara verbal wawasan baru yang dimilikinya dengan cara yang pongah, seolah mereka mengantongi secara penuh pengetahuan yang dibagikannya tersebut. Padahal hakikatnya apa yang telah mereka sampaikan tak lebih dari sekedar permukaannya saja. Maksud saya, ilmu yang mereka dapatkan hanya setengah-setengah, belum mendalam, meluas, dan holistik. Analoginya begini, ada orang yang ingin mengetahui laut tetapi hanya memperhatikannya dari bibir pantai saja. Maka yang ia tahu, laut itu ya hanya air. Padahal, kalau saja berusaha menyelaminya lebih dalam, tentu ia akan menemukan jawaban bahwa laut itu tak sekedar air. Laut adalah fenomena alam yang di dalamnya menyimpan kekayaan berupa permata, terumbu karang, berbagai macam jenis ikan, rumput laut, dan lain sebagainya.
Dengan pengetahuan yang ala kadarnya, orang yang terjangkit virus “kegenitan” intelektual kerap kali memproduksi logikanya dengan nalar yang keliru dan salah kaprah. Pemahaman yang destruktif sekaligus distortif dalam wilayah ini sangat mendominasi. Akibatnya, pengetahuan tersebut memungkinkan untuk mengancam stabilitas intelektual mereka sendiri dan tak luput juga orang lain. Dikatakan mengancam, sebab pemahaman mereka yang parsial melahirkan sikap melebih-lebihkan persepsi yang nantinya akan berujung pada tindakan dan prilaku yang salah pula. Tentu ini berbahaya.  
Orang yang biasa berpikir dengan berlebihan dan bebas (memelihara “kegenitan” intelektual) sering mendapatkan stereotipe liberal, ekstrem, dan sebutan-sebutan buruk lainnya. Paradigma yang mereka munculkan selalu jauh dari pemahaman yang sebenarnya. Sekali lagi, ini karena faktor pemahaman mereka yang hanya menyentuh kulit luarnya saja. Mereka boleh saja berbangga hati. Namun orang lain akan menatap mereka dengan sinis.
Orang yang merasa tertarik untuk menguasai pengetahuan dan wawasan baru memang patut diacungi jempol. Hal demikian memang perlu. Selain agar kita dapat meng-update pengetahuan, kita juga tidak mudah dikelabuhi orang. Artinya, orang yang memiliki pengetahuan pasti bisa menyelamatkan diri dari perangkap orang lain yang berniat buruk terhadapnya karena ia sudah punya ilmunya. Tetapi yang perlu digarisbawahi, menggali pengetahuan itu janganlah dangkal-dangkal. Sekali basah, langsung mandi saja. Kalau hanya setengah-setengah, mending jangan saja agar tidak menimbulkan riskan bagi dirinya dan orang lain.
Sebagai penutup, akhirnya saya berharap semoga kita tak sedikit pun berkeinginan untuk melakukan “kegenitan”  intelektual.

Guluk-Guluk, 24 Maret 2013

Sabtu, 19 Oktober 2013

Sepenggal Kisah dari Bilik FLP



Tim Sepuluh

Awalnya adalah Tim Sepuluh. Tim Sepuluh? Ya, Tim Sepuluh inilah yang merupakan cikal bakal terbentuknya Forum Lingkar Pena PP Annuqayah Latee II, Guluk-Guluk, Sumenep. Tim ini dibentuk oleh pengurus PPA Latee II bagian Pendidikan dan Pengembangan Intelektual, Ummayyatun El-Jimmy, periode 2009-2010. Sebagai koordinator, Mbak Ummay, panggilan akrab Ummayyatun El-Jimmy, berupaya meningkatkan kualitas santri Latee II di bidang akademik dengan cara, salah satunya, membentuk Tim Sepuluh. Sebutan Tim Sepuluh ini mungkin karena forum ini  beranggotakan sepuluh orang yang terdiri dari siswa dan mahasiswa terpilih.
Malam itu, saya dan sembilan orang lainnya dipanggil ke kantor oleh pengurus untuk menghadiri sosialisasi pengenalan Tim Sepuluh. Bersama Mbak Ummay, saat itu kami memperbincangkan banyak hal terkait peningkatan mutu santri Latee II di bidang akademik, utamanya di bidang tulis-menulis. Saya tidak tahu pasti alasannya kenapa Mbak Ummay waktu itu sangat memprioritaskan bidang tulis-menulis. Ada banyak dugaan di benak saya, mungkin saja karena Mbak Ummay menyukai dunia literasi sejak dulu, atau karena salah satu bukti kemajuan intelektual santri dapat diukur dari kemampuannya menyampaikan gagasan dalam bentuk tulisan. Entahlah…
Karena prioritasnya adalah menulis, membaca, dan berdiskusi, maka wajar saja anggota Tim Sepuluh ini terdiri dari beberapa orang yang memang bergelut di dunia kepenulisan, baik sebagai kru aktif Majalah Iltizam maupun kru Buletin Variez. Tiada henti-hentinya Mbak Ummay memompa semangat juang kami untuk terus menulis, membaca, dan berdiskusi. Kami pun menyambut semangat beliau dengan semangat yang tak kalah membara. Tentu saya beruntung sekali menjadi salah satu anggota Tim Sepuluh ini. Selain karena saya bisa mengembangkan minat saya di dunia literasi, saya juga memiliki sembilan teman yang sama-sama memiliki semangat untuk bergerak maju.
Biasanya, kami selalu menghabiskan waktu di Mushalla untuk sekedar bincang-bincang ringan. Pagi itu, di sela-sela pembicaraan, Mbak Ummay memberi kabar baik yang membuat kami tidak berhenti bahagia. Dia memberi tahu kami bahwa Latee II akan bergabung dengan FLP Cabang tidak lama lagi. Benar-benar surprise! Mbak Ummay semakin memanjakan potensi menulis kami dengan menyediakan wadah kepenulisan. Mendengar organisasi kepenulisan seperti FLP, tentu membuat kami bangga. Mengapa tidak? FLP adalah organisasi kepenulisan yang mendunia, tidak hanya di tingkat nasional, tapi juga internasional.
Kepengurusan FLP pun terbentuk, yang diambil dari anggota Tim Sepuluh dan santri lainnya. Setelah kepengurusan lengkap, kami dipertemukan dengan pengurus FLP Cabang di kantor PPA Latee II dalam rangka silaturrahmi dan sharing seputar FLP. Nun Urnoto yang kala itu menjabat sebagai ketua FLP Cabang menceritakan secara mendetail sejarah berdirinya FLP, pengelolanya, penamaan FLP, dan lain sebagainya. Alhamdulillah, kala itu juga kami mendapatkan SK kepengurusan FLP Ranting.   

FLP Dulu
Sebagaimana lazimnya kepengurusan baru, FLP yang waktu itu masih seumuran jagung dihadapkan dengan ragam masalah dan keterbatasan-keterbatasan dalam perkembangannya. Namun hal itu tidak lantas menjadikan kami berpangku tangan dan menyerah,  justru keterbatasan-keterbatasan itulah yang menjadi pemicu kami untuk kian bangkit dan berdiri kokoh. Benar kata orang, semakin besar tantangannya, maka semakin besar pula perjuangannya.
Keterbatasan yang kami hadapi waktu itu, salah satunya, tidak adanya tempat khusus untuk para anggota FLP sehingga menyulitkan kami untuk berkumpul. Selain itu, fasilitas seperti komputer, buku bacaan, dan fasilitas lainnya juga belum ada. Kami menjalankan semuanya apa adanya. Namun hal itu tidak lantas menjadikan peminat-peminat FLP patah arang. Malah calon anggota baru justru makin membludak dari waktu ke waktu. Kami pun menggelar kegiatan orientasi untuk para anggota baru.
Kegiatan-kegiatan FLP waktu itu masih sangat sederhana, seperti pemberian materi dari pembimbing, menulis, dan membaca. Para anggota dihimbau agar menulis untuk kemudian dikirimkan ke media cetak. Dan hasilnya? Karya-karya anggota FLP tak jarang ditemui di media lokal maupun nasional. Alhamdulillah… Kami cukup bangga dengan prestasi itu. 
Dari waktu ke waktu, bersama para senior, FLP melakukan pembenahan-pembenahan. Awalnya, kami meminta pengurus pesantren PPA Latee II untuk melokalisasikan anggota FLP di tempat yang khusus. Tujuannya, agar kami mudah menjalankan program. Syukurlah… Pengurus mengapresiasi positif permohonan tersebut. Hingga akhirnya FLP mendapatkan satu kamar khusus yang terletak di depan Mushalla Lantai III sebelah selatan.

Situasi Paling Dilematik
Perjalanan saya bersama anggota FLP pernah diterpa badai. Rintangan demi rintangan datang kembali untuk menyurutkan semangat saya berproses menjadi penulis. Berat sekali waktu itu saya melawan badai yang datang secara tiba-tiba tersebut. Tapi walau bagaimanapun, tetap harus saya hadapi. Bukan malah lari dan menghindar begitu saja.
Belakangan ada kekhawatiran di hati ketua pengurus pesantren terhadap kinerja bawahannya. Katanya, beberapa pengurus tidak menjalankan tugasnya dengan maksimal akibat dari multi-job yang menjadi tanggungannya. Karena terlalu sibuk, pengurus yang multi-job kerap meninggalkan tugas yang satu karena mengerjakan tugas lainnya. Oleh sebab itulah, ketua pengurus akhirnya mengeluarkan ultimatum bahwa pengurus tidak boleh memiliki dua jabatan di pondok pesantren Latee II.
Hal itu juga berlaku untuk pengurus FLP. FLP yang merupakan lembaga semi independen dinilai memerlukan perhatian khusus karena banyaknya program yang harus direalisasikan. Karena itu, pengurus FLP juga dilarang memiliki dua jabatan di Latee II. Jika memang memiliki dua jabatan atau lebih, maka konsekuensinya harus memilih salah satunya.
Nah, inilah yang saya hadapi waktu itu. Saya menduduki jabatan di salah satu kepengurusan Latee II. Sebut saja kepungurusan di lembaga “A”.  Bersamaan itu pula, saya menjadi pengurus FLP di bagian Penerbitan sekaligus Pemimpin Redaksi Buletin Variez. Jabatan yang bisa dibilang strategis dan cukup mengurus tenaga. Mau tak mau, saya harus memilih agar saya bisa menjalankan tugas secara maksimal. Dan benar, malam itu saya diharuskan untuk memilih. Hmm, berat sekali rasanya melepaskan FLP dan kepengurusan di lembaga “A” itu. Saya benar-benar berada di posisi dilematik.
Apa yang saya pilih? Ternyata dengan berat hati saya harus merelakan FLP. Saya lepas dari FLP. Saya lebih memilih kepengurusan di lembaga “A” itu. Entah, apakah pilihan saya itu berdasarkan suara hati nurani atau tidak. Yang jelas, malam itu suara saya menyatakan lepas dari FLP. Pilihan saya itu nyatanya tidak sederhana. Saya menangis karena meninggalkan FLP. Momentum perjuangan bersama senior dan sahabat-sahabat FLP berkelebat kembali dalam memori otak saya. Ah, saya tak tahu, kenapa saya tidak teguh pada pendirian sebelumnya.

FLP Saat Ini
Entah apa yang Tuhan rencanakan untuk garis hidup saya. Kecintaan saya pada dunia kepenulisan ternyata tak putus di tengah jalan. Tuhan selalu memberi jalan agar saya tetap mengembangkan potensi di dunia tulis-menulis. Singkat cerita, saya kembali lagi ke dunia FLP. Saya berkumpul kembali dengan para pejuang pena Latee II. Bahagia rasanya. Saya telah kembali pada dunia saya yang sebenarnya. Saya tak merasa terpaksa berproses bersama mereka. Saya menikmati kegiatan-kegiatan FLP; mulai dari membaca, berdiskusi, menghapal, dan tentu juga menulis.
FLP saat ini bisa dibilang lebih maju dari sebelum-sebelumnya. Kami sudah punya kamar khusus dan fasilitas-fasilitas yang kami butuhkan juga mulai terpenuhi. Kami sudah tidak perlu duduk di rental lagi untuk mengetik buletin atau majalah, karena di sana sudah disediakan komputer khusus untuk FLP. Kami juga tidak perlu susah-susah memanggil para anggota untuk menggelar kegiatan, karena kami saat ini berada dalam satu atap.
Selain itu, di FLP juga dilengkapi dengan perpustakaan mini yang lumayan bisa dijadikan tempat untuk membaca meski bukunya hanya beberapa saja. Namun tidak hanya buku, anggota FLP juga bisa meng-up date pengetahuan dan wawasannya dengan membaca Koran harian yang menjadi langganannya tiap bulan. Setiap hari, anggota dihimbau untuk membaca kabar di harian Kompas.
Kegiatan-kegiatan yang kami canangkan semakin beragam. Anggota tidak hanya diwajibkan menulis saja. Mereka juga dibekali dengan teori-teori kepenulisan dalam bimbingan Bapak Maimun Syamsuddin, Bapak Asy’ari Khatib, Bapak Warits Ilham, Nyai Fadhilah Hunnaini, dan Bapak M. Zamiel al-Muttaqien. Merekalah yang bersedia meluangkan waktu dan bersabar dalam memberikan arahan-arahan terhadap tulisan anggota FLP.
Agar tulisan terasa makin nikmat, penulis harus memiliki perbendaharaan kata yang cukup banyak. Oleh sebab itu, anggota FLP diberi kosakata ilmiah setiap hari untuk dihapalkan, sehingga mereka tidak kesulitan nantinya untuk memahami kalimat yang mengandung bahasa-bahasa ilmiah.
Satu hal yang saya banggakan dari anggota FLP adalah kekompakan mereka untuk memajukan FLP tercinta. Meski kadang merasa lelah untuk menulis dan mengerjakan tugas-tugas dari pembimbing, namun tetap saja mereka selesaikan tugas tersebut dengan sabar. Kekompakan mereka juga terlihat ketika merampungkan Buletin Variez dan Majalah Iltizam serta ketika menggelar acara Great Show. Saya ingat betul saat di mana mereka saling “bertengkar” dan menangis ketika memperjuangkan kegemilangan acara Great Show tersebut. Akan tetapi di akhir acara, tangis itu terbalas dengan senyum bangga.
Kini semuanya hanya bisa saya kenang. Tangisan itu menganak sungai ketika di antara kami harus memilih pergi untuk mengejar mimpi masing-masing. Benar kata orang, semua akan terasa berharga ketika sudah tiada. Kepergian mereka membuat banyak hati basah. Kini tak ada lagi canda tawa seperti dulu, tak ada lagi yang marah-marah untuk meminta tugas, tak ada lagi yang terburu-buru menulis beberapa kalimat untuk diletakkan di Bank Karya, tak ada lagi lagu-lagu yang biasa dinyanyikan. Semuanya sudah tak ada lagi. Yang ada hanyalah kenangan.
Saya ingin mengabadikan kenangan itu melalui catatan sederhana ini. Sebagai bukti bahwa  kalian sangatlah berharga. Begitu berharga. Dan tahukah kalian? Saya telah menyediakan tempat khusus di salah satu sudut hati saya untuk kalian tempati kapan saja.


Lenteng Barat, Sabtu, 19 Oktober 2013

Jumat, 11 Oktober 2013

KEDUDUKAN MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH DI BUMI (Studi Ayat al-Quran Surat al-Baqarah: 30)

Jauh sebelum manusia diciptakan, Allah telah memberi tahu malaikat tentang rencana penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi untuk membangun dan mengelola dunia. Allah menyebutnya dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 30 dan dipertegas dalam surat al-An’am ayat 165. Informasi Allah tersebut ternyata mendatangkan kekhawatiran malaikat dan dugaan terhadap khalifah yang akan diciptakan Allah Swt. ini adalah makhluk yang akan membuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah karena perselisihan. Dugaan ini berdasarkan pengalaman mereka sebelum terciptanya manusia, di mana ada makhluk yang berlaku demikian, atau bisa juga berdasarkan asumsi bahwa yang akan ditugaskan menjadi khalifah bukan malaikat, maka pasti makhluk tersebut berbeda dengan mereka yang selalu bertasbih dan menyucikan Allah Swt.

Kekhawatiran malaikat ini langsung dijawab oleh Allah pada pernyataan selanjutnya, sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Para ulama’tafsir berbeda pendapat tentang dikeluarkannya pertanyaan tersebut, apakah pertanyaan itu merupakan bentuk protes atau bukan. Muncul juga pertanyaan, mengapa malaikat sudah mengetahui bahwa khalifah (manusia) yang akan diciptakan Allah akan merusak bumi dan menumpahkan darah di bumi tersebut, sementara sang khalifah belum diciptakan? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan kritis lain yang terkait dengan surat al-Baqarah ayat 30 ini. Untuk itulah, penulis merasa perlu untuk meneliti ayat ini dari berbagai sumber kitab tafsir guna mendapatkan keterangan komprehensif dan objektif tentang ayat yang mengandung sejumlah persoalan tersebut, sehingga menemukan jawaban yang bisa dinilai representatif.

Dalam al-Quran Allah Swt. berfirman: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Quraish Shihab dalam al-Mishbah (Lentera hati: 2000) mengatakan, kelompok ayat ini dimulai dengan penyampaian keputusan Allah kepada para malaikat tentang rencanaNya menciptakan manusia di bumi. Penyampaian kepada mereka penting, karena malaikat akan dibebani sekian tugas yang akan terkait dengan manusia. Ada yang bertugas mencatat amal-amal manusia, ada yang bertugas memeliharanya, ada yang membimbingnya, dan lain sebagainya.

Penyampaian itu juga, kelak ketika diketahui manusia, akan mengantarnya bersyukur kepada Allah atas anugerahNya yang tersimpul dalam dialog Allah dengan para malaikat, sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di dunia. Penyampaian ini bisa jadi setelah proses penciptaan alam raya dan kesiapannya untuk dihuni manusia pertama (Adam) dengan nyaman. 

Dalam ayat 28 surat Al-Baqarah, Allah menjelaskan asal-usul manusia beserta alam-alam yang menjadi destinasi-destinasi eksistensialnya, yang berakhir pada: ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ  (kemudian (pada akhirnya) kepada-Nya-lah kalian dikembalikan). Sementara di ayat 29, Allah menjelaskan perjalan ruhani yang sejatinya dilewati oleh tiap individu manusia, yang bermula dari bumi, dari dunia material, dari tubuh biologis, untuk selanjutnya beranjak menuju ke ‘langit’ dengan melintasi tujuh lapis ‘langit’. Seluruh kandungan al-Qur’an bermuara ke kedua jenis perjalanan ini: perjalanan eksistensial (ayat 28) dan perjalanan spiritual (ayat 29). Artinya, seluruh gagasan sosial, ideologi, dan politik manusia harus sejalan (dan sekaligus menjadi bagian) dari kedua jenis perjalanan tersebut. Dan agar tidak menyimpang dan tetap berada pada shirathal mustaqim, manusia mutlak membutuhkan petunjuk.

Dalam rangka memberi petunjuk inilah Allah menciptakan khalifah di bumi untuk membawa risalah-risalahNya. Dalam ayat 30 ini Allah mengemukakan dan sekaligus memaklumatkan ‘gagasan-besar’ ini kepada para malaikat:"Sungguh Aku akan menjadikan di bumi seorang khalifah". Isi maklumat ini sangat jelas, tegas, dan gamblang: seorang khalifah, bukan dua atau banyak orang. Jabatannya juga jelas: khalifah, bukan Nabi bukan Rasul. Tempat dan wilayah kekuasaannya juga jelas: di bumi, dan bukan di planet, di galaksi atau di semesta lain. Hal yang sama juga terjadi pada pelaku yang punya prerogatif mengangkat khalifah tersebut; bentuk katanya jelas dan terang benderang, yaitu إِنِّي (sungguh Aku) dan bukan إِنَّا (sungguh Kami). Semua itu menunjukkan dengan sangat tegas—tanpa membuka peluang lain—bahwa penentuan dan penunjukan khalifah adalah murni otoritas dan prerogatif tunggal Allah.

Ada yang mengatakan bahwa kata khalifah di ayat ini adalah berkenaan dengan manusia secara keseluruhan. Sehingga, bagi mereka, maklumat Allah kepada para malaikat tersebut adalah pemberitahuan tentang akan diciptakannya makhluk baru yang bernama “manusia” yang akan melaksanakan tugas sebagai khalifah Allah di bumi. Tetapi akan berbeda maknanya ketika  dibandingkan dengan dua ayat berikut ini:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُون (الحجر: 28)
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِن طِينٍ (ص: 71)

Pada surat al-Baqarah: 30 objeknya disebut dengan tegas: khalifah; sementara dalam surat al-Hijr: 28 dan Shaat: 71 objeknya juga disebut dengan tegas: basyar. Sedangkan asal-usul basyar dengan gamblang disebut berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk dan dari tanah. Ayat 30 menyebut keterangan tempat, di bumi, sebagai wilayah efektivitas kekuasaan Sang khalifah, sedangkan dalam surat al-Hijr: 28 dan Shaat: 71 tidak menyebutkannya sama sekali.

Dari perbedaan itu, bisa disimpulkan bahwa keduanya juga mempunyai maksud yang bebeda. Dalam surat al-Hijr: 28  dan Shaat: 70, Allah mendeklarasikan penciptaan manusia, makhluk baru yang berkedudukan lebih tinggi dari malaikat. Sementara dalam al-Baqarah: 30 Allah memaklumatkan pucuk pimpinan dari manusia tersebut agar mereka tidak tersesat. Karena manakala nanti tidak mengakui dan mengikuti khalifah pilihan Allah ini, niscaya mereka (basyar) akan dipimpin oleh pemimpin duniawi yang hanya akan mengejar kepentingan sesaat.

Dari ayat ini bisa dipahami bahwa khalifah adalah bentuk takhsis `(pengkhususan) dari manusia basyar, setelah Allah memilihnya secara ekslusif, dengan tugas yang juga ekslusif, yaitu memandu manusia mengerjakan amal saleh dan menghindarkan mereka dari perbuatan syirik. Al-Qurtubi dalam Tafsir al-Qurthubi menukil dari Zaid Ibnu Ali, yang dimaksud dengan khalifah dalam ayat ini bukan hanya Nabi Adam ‘alaihis salam saja seperti yang dikatakan oleh sejumlah ahli tafsir. Al-Qurtubi menisbatkan pendapat ini kepada Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan semua ahli takwil. Akan tetapi apa yang dikatakan oleh Al-Qurtubi ini masih perlu dipertimbangkan. Bahkan perselisihan dalam masalah ini masih banyak, menurut riwayat ar-Razi dalam kitab tafsirnya, juga oleh yang lainnya.

Lalu para malaikat berkata  . أَتَجۡعَلُ فِيہَا مَن يُفۡسِدُ فِيہَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآء

Ucapan para malaikat ini bukan dimaksudkan untuk menentang atau memprotes Allah, bukan pula karena dorongan dengki terhadap manusia, sebagaimana yang diduga oleh banyak orang. Sesungguhnya Allah Swt. menyifati para malaikat, mereka tidak pernah mendahului firman Allah, yakni tidak pernah menanyakan sesuatu kepada-Nya yang tidak diizinkan bagi mereka mengemukakannya. Ibnu Jarir at-Thabari dalam Tafsirul Bayan berkata, ”Sebagian ulama mengatakan, ’Sesungguhnya malaikat mengatakan hal seperti itu, karena Allah mengizinkan mereka untuk bertanya ihwal itu setelah diberitahukan kepada mereka bahwa khalifah itu terdiri atas keturunan Adam.

Dalam ayat ini, ketika Allah Swt. memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan di bumi suatu makhluk, menurut Qatadah, para malaikat telah mengetahui sebelumnya bahwa makhluk-makhluk tersebut gemar menimbulkan kerusakan padanya (di bumi), maka mereka mengatakan :
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah ?" 

Dalam Tafsir Ibnu Katsir (Dar al-Kutub: 2008: halaman 67) dikatakan, sesungguhnya kalimat itu merupakan pertanyaan meminta informasi dan pengetahuan tentang hikmah yang terkandung di dalam penciptaan itu. Mereka mengatakan, “Wahai Tuhan kami, apakah hikmah yang terkandung dalam penciptaan mereka, padahal diantara mereka ada orang-orang yang suka membuat kerusakan di muka bumi dan mengalirkan darah? Jikalau yang dimaksudkan agar Engkau disembah, maka kami selalu bertasbih memuji dan menyucikan Engkau,” yakni kami selalu beribadah kepad-Mu, sebagaimana yang akan disebutkan nanti. Dengan kata lain seakan-akan para malaikat mengatakan), “Kami tidak pernah melakukan sesuatupun dari hal itu (kerusakan dan mengalirkan darah), maka mengapa Engkau tidak cukup hanya dengan kami para malaikat saja?

Allah Swt. berfirman menjawab pertanyaan tersebut: اني أعلم ما لاتعلمون .
Dengan kata lain, seakan-akan Allah bermaksud bahwa sesungguhnya Aku mengetahui hal-hal yang tidak kalian ketahui menyangkut kemaslahatan yang jauh lebih kuat dalam penciptaan jenis makhluk ini daripada kerusakan-kerusakan yang kalian sebut itu. Karena sesungguhnya Aku akan menjadikan dari kalangan mereka nabi-nabi dan rasul-rasul, diantara mereka ada para shiddiqin, para syuhada, orang-orang saleh, ahli ibadah, ahli zuhud, para wali, orang-orang bertaqwa, para muqarrabin, para ulama yang mengamalkan ilmunya, orang-orang yang khusyu’ dan orang-orang yang cinta kepada Allah Swt. dan mengikuti jejak rasul-rasulNya.

Quraish Shihab mengatakan penyampaian Allah kepada malaikat tentang rencana penciptan manusia boleh jadi ketika proses kejadian Adam sedang dimulai, seperti halnya seorang yang sedang menyelesaikan satu karya sambil berkata “ini saya buat untuk si A”. ini menunjukan bahwa Allah tidak meminta pendapat malaikat apakah Dia mencipta atau tidak.

Penyampaian ini, menurut Ibnu Asyur, agaknya untuk mengantar para malaikat bertanya sehingga mengetahui keutaman jenis makhluk yang akan diciptakanNya itu dan dengan demikian dapat juga terkikis kesan ketidakmampuan manusia, yang diketahui Allah terdapat dalam benak para malaikat. Kemudian ia melanjutkan bahwa ayat ini oleh banyak mufassir dipahami sebagai semacam “permintaan pendapat” sehingga ia merupakan pengajaran dalam bentuk penghormatan, seperti halnya keadaan seorang guru yang mengajar muridnya dalam bentuk tanya jawab, dan agar mereka membiasakan diri untuk melakukan dialog menyangkut aneka persoalan.

Setelah menguraikan pendapat banyak mufassir sebagaimana dikutip di atas, Ibnu Asyur mengemukakan pendapatnya bahwa istisyarah/permintaan pendapat itu dijadikan demikian supaya ia menjadi satu substansi yang bersamaan dalam wujudnya dengan penciptaan manusia pertama, agar ia menjadi bawaan dalam jiwa anak cucunya, karena situasi dan ide-ide yang menyertai wujud sesuatu dapat berbekas dan menyatu antara sesuatu yang wujud itu dengan situasi tersebut.