Halaman

Minggu, 16 Desember 2012


Perpisahan
            Mendengar kata perpisahan, pasti yang akan muncul di benak kita adalah rasa sakit. Perpisahan memang selalu meninggalkan jejak nestapa dan air mata. Ia menuntut orang yang bertemu untuk merenggangkan jarak. Rasa kehilangan menyeruak dan lalu menyesakkan dada ketika mereka yang berpisah adalah orang-orang yang dicinta. Andai saja waktu bisa ditahan, maka yang demikian akan dilakukan untuk memperpanjang intensitas pertemuan. Tetapi nihil, ternyata waktu tidak bisa dinego. Ia akan terus berjalan, berlari mengikuti rotasi bumi. Dan mereka yang dicintai harus terpaksa direlakan pergi.
            Cobalah bertanya pada diri sendiri sembari merenungi, untuk apa menumpahkan air mata ketika akan berpisah? Apa guna mencipta luka jika perpisahan itu pada dasarnya merupakan proses dari pertemuan itu sendiri? Inilah yang sering kali dilupakan banyak orang, bahwa perpisahan sebenarnya kepingan proses dari pertemuan. Perpisahan akan melahirkan pertemuan, dan pertemuan akan meninggalkan jejak perpisahan. Keduanya terus berjalan secara beriringan, hingga pada akhirnya akan berujung pada pertemuan yang abadi kelak di rumah sorga. Perpisahan mestinya bisa dinikmati dan membuat orang bahagia, karena sebentar lagi pertemuan akan datang kembali.  
            Dan saat ini, perpisahan itulah yang saya rasakan. Ada yang menyembul pekat di sini, di hati ini, ketika mereka tiba-tiba pergi tanpa saya harapkan. Bagi saya, mereka adalah orang-orang yang berpengaruh dan berarti. Bersama mereka, saya diajari untuk mengeja aksara, menyelami lautan logika, membentuk pribadi yang dewasa, dan menerima hidup ini apa adanya. Selama beberapa kesempatan, mereka membuka lebar pengetahuan saya dengan luasnya ilmu yang mereka miliki. Saya menikmati sekali.
Pernah suatu ketika salah seorang dari mereka memberi petuah begini, “anakku, jika kamu hanya duduk di pinggir pantai, maka yang kamu tahu, laut itu hanyalah air. Jika kamu ingin tahu laut yang sebenarnya, menyelamlah. Temukanlah keindahan dan keunikan yang ada di dalamnya dan mungkin saja belum kamu ketahui sebelumnya. Itulah laut yang sebenarnya.” Saya tertegun mendengar petuah itu. Melalui bahasa analogis, mereka mengajak saya untuk menyelam lebih dalam ketika mengeksplorasi ilmu, hingga saya mengetahui lebih komprehensif tentang ilmu yang saya cari itu. Tidak hanya tahu luarnya saja.
Lalu saya semakin berat ditinggal mereka dalam kondisi saya yang belum jauh mengenal ilmu. Kehadiran mereka telah memberi banyak hal yang berarti; menyulut semangat saya dengan nyala semangat yang mereka miliki, menggugah kecerdasan untuk berpikir kritis, dan tak lupa membentengi diri dengan keimanan yang mencukupi. Kalau tidak karena mereka, saya tidak mungkin tahu betapa ilmu itu seperti madu. Manis sekali. Kalau bukan karena stimulasi mereka, saya tak mungkin tahu betapa perjuangan melelahkan dalam mengais butir ilmu itu sangat dibutuhkan. Ah, sebentar lagi saya harus merelakan mereka pergi.
Fitrahnya hati adalah merasakan. Meski saya menyadari perpisahan adalah bagian dari pertemuan, saya tetap tak bisa memaksa hati untuk tidak berduka. Biarkan saya merasakannya agar saya tahu betul bahwa kehadiran mereka sangatlah berharga. Benar apa yang dikatakan guru saya, kita akan tahu keberadaan seseorang sangat berarti ketika kita telah berpisah dengannya. Entah, saya belum sempat berpikir, apakah waktu masih akan bersedia mempertemukan kami dalam kesempatan yang tidak jauh beda, berbagi ilmu, atau tidak. Saya berusaha menggali hikmahnya saja, mungkin dengan ini Tuhan ingin mengajarkan saya tentang arti kemandirian, termasuk kemandirian belajar tanpa ditemani mereka.
Ucapan terimakasih tampaknya belum cukup untuk membalas jasa-jasa yang mereka berikan. Mari beri tahu, apa yang dapat saya berikan sebagai balasan terhadap kebaikan-kebaikan mereka? Jika saya tidak bisa membalasnya, semoga Dia Yang Maha Pembalas yang akan membalas dengan balasan yang lebih baik, jazakumullah khairal jaza. Yang bisa saya lakukan saat ini adalah mengabadikan nama-nama mereka dalam  catatan sederhana ini, agar semua orang tahu bahwa mereka sangatlah berarti dan sebagian besar membantu saya dalam menggapai mimpi dan kesuksesan.
Bapak Fawaid Sjadzili. Kesan pertama bertemu dengannya terasa menegangkan. Bapak terlihat serius dan jarang sekali memunculkan humor-humor segar di tengah menjelaskan materi. Tetapi kesan itu perlahan hilang setelah dua kali semester saya bertatap muka dengan beliau. Ternyata, dugaan saya salah besar. Bapak juga bisa membuat suasana menjadi cair dan aktif, sehingga tercipta komunikasi yang efektif di kelas. Lebih dari itu, yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Bapak menggugah kecerdasan, mengajak saya untuk berpikir kritis, mengenalkan saya dengan beberapa pemikiran yang “mengagumkan”, dan diam-diam membangkitkan semangat membaca saya.
Saya akui, ilmu Bapak sangat dalam, wawasan Bapak sangat luas seperti samudera. Itu terlihat ketika materi yang Bapak sampaikan tidak hanya berpatokan pada silabus. Tentu melebihi itu. Dan saya kagum karenanya. Studi tentang hadis di Instika memang kurang diminati mahasiswa Tafsir Hadis. Sebagian besar mereka lebih concern pada wacana-wacana tafsir. Tetapi materi Studi Hadis Kontemporer dan Studi Hadis Orientalis mengubah semua itu. Kata mereka, yang ini lebih menantang dan tidak membuat pikiran stagnan. Ditambah lagi profesionalitas yang Bapak miliki ketika mengajari saya dan teman-teman.
Bapak Syukron Affani. Semangat Bapak begitu menyala. Cara Bapak menyampaikan materi tidak biasa, lebih agresif. Saya dan teman-teman tanpa sadar terkena cipratan semangat itu. Mereka terlihat berbinar dan antusias mendengar pengetahuan yang Bapak sampaikan. Tak jarang Bapak selalu menelurkan pertanyaan-pertanyaan menggelitik agar saya berpikir lebih “bebas”. Dan pertanyaan itu kadang sengaja tidak dijawab agar saya dan teman-teman tak henti mencari jawaban. Wajar saja banyak yang merasa berat hati ketika Bapak akan pergi meninggalkan kami. Bersama Bapak, saya jadi mengerti bahwa memahami al-Quran itu tak cukup hanya mengandalkan logika saja. Ada yang lebih penting dari itu, yakni melibatkan hati sebagai tempat iman berdiam diri.
Selain itu, rasa pengabdian Bapak juga sangat saya kagumi. Saya masih ingat siang itu waktu hujan deras mengguyur bumi. Saya mengira Bapak tidak akan datang ke kampus. Tapi, ternyata saya salah. Dari arah selatan, saya melihat Bapak datang mengenakan jas hujan dengan kondisi celana yang basah kuyup. Lalu di kelas, Bapak bercerita kalau jalan yang dilewati dibanjiri hujan. Dan ini terjadi tidak hanya sekali. Bapak sering kali kehujanan. Saya tertegun. Bapak masih bersedia datang untuk berbagi ilmu pada mahasiswanya dalam kondisi cuaca yang tidak baik sekalipun. Terimakasih atas semangat yang kerap kali Bapak nyalakan untuk saya. Saya akan tetap mengingat pesan yang Bapak sampaikan di depan kampus siang itu, 11 Desember 2012 “Sekali melangkah, jangan mundur lagi. Lanjutkan… Sukses!”  
Bapak Fathurrasyid. Bapak berhasil menarik hati saya kali pertama memasuki kelas Tafsir Hadis. Mengapa? Bapak sangat friendly, sehingga bisa dekat dengan mahasiswa dalam waktu yang relatif singkat. Saya semakin percaya diri dan optimis melangkah ke depan karena apresiasi yang Bapak berikan untuk saya. Kedekatan Bapak dengan saya dan teman-teman membuat kami lebih terbuka menyampaikan keinginan dan harapan selama dalam proses belajar mengajar.
Yang masih melekat dalam ingatan, Bapak selalu menyelipkan humor-humor segar ketika menyampaikan materi. Rasanya sangat berkesan. Suasana kelas jadi rileks dan nyaman. Ilmu yang sudah Bapak bagikan tidak sedikit. Bapak mengajak saya untuk berkenalan dengan mufassir sekaliber ar-Razi, at-Thabari, al-Baidhawi, al-Alusi, az-Zamahsyari, Moh. Abduh-Rasyid Ridha, beserta kitab-kitabnya. Saya sangat menikmati hal itu. Apalagi, saya memang meminati kajian kitab-kitab tafsir.
Bapak Maimun Syamsuddin. Dingin, santai tapi pasti. Begitulah penilian saya untuk sementara waktu. Semua orang mengakui dalamnya ilmu yang Bapak miliki. Layaknya air, ilmu itu mengalir melewati celah-celah kosong menuju satu titik sumber: muara. Derasnya pengetahuan yang bermuara pada Bapak dialirkan perlahan pada saya untuk ditampung. Tidak terlalu rumit, Bapak menuangkan ilmu itu hanya dalam bentuk-bentuk skema. Sederhana! Meski nyatanya materi itu sangat kompleks. Diamnya memang mengandung misteri. Tetapi sebab diamnya saya bisa mengerti bahwa ada perhatian yang Bapak miliki.
Pengetahuan Bapak sangat komprehensif. Isu tentang Islam dan Barat, modernitas, pemikiran kontemporer, isu tafsir dan hadis, tampak dikuasai. Bapak telah memberi arahan berbeda pada saya tentang prototype modern (kemajuan) yang sebenarnya. Akhirnya saya berkesimpulan kemajuan itu seperti yang dikatakan Habib Ahmad bin Hasan al-Attas dalam kitab Tadzkiratunnas, “man arada an yataqaddama fa’alaihi bil mutaqaddimin wa man arada an yata’akhkhara fa’alaihi bil muta’akhkhirin.”
Ibu Ulya Fikriyati. Lembut, damai, dan anggun. Masihkah Ibu mengingat saya? Pertemuan kita yang hanya satu semester tidak membuat saya lupa jasa Ibu yang tentu berpengaruh besar terhadap pencapaian cita-cita saya. Kesabaran Ibu mendidik saya menjadi pelajaran berharga ketika kelak saya menjadi ibu dari anak-anak. Mestinya saya bisa meniru jejak Ibu. Perempuan memang harus berdaya. Perempuan juga harus berilmu pengetahuan agar turut memberi kontribusi bagi agama dan bangsa, lebih-lebih untuk wilayah domestiknya. Saya melihat semangat belajar yang tak redup itu dari setiap helai kata yang ibu ucapkan. Saya kagum. Saya mendapatkan aliran semangat itu walaupun tak seberapa.
Jujur saja, saya agak “kecewa” ketika tahu bahwa jumlah mufassir perempuan dari dulu hingga sekarang bisa dihitung dengan jari. Perempuan yang mampu menguasai wacana-wacana tafsir, apalagi menjadi mufassir, sangat jarang saya temui. Tetapi, kehadiran Ibu membuat mindset saya itu sedikit berubah. Pengetahuan Ibu tentang dinamika tafsir di Indonesia memberi wawasan baru. Saya jadi tahu siapa saja mufassir-mufassir di Negara kita yang sangat diperhitungkan sampai sekarang. Hm, masih ingatkah Ibu pada surat yang terselip di buku yang saya pinjam? Hehee.. bukan apa-apa, bukan dari siapa-siapa. Hanya kebetulan saja.
Begitulah gambaran sekilas orang-orang yang sempat menjadi inspirator sekaligus motivator hidup saya. Tidak ada apa yang dapat saya balaskan kecuali ucapan terimakasih yang tak berhingga pada segenap jasa yang mereka ikhlaskan. Semoga Allah masih memberi kesempatan lagi pada saya untuk mencicipi manisnya ilmu bersama mereka kembali. Amin…


Annuqayah Latee II, 16 Desember 2012

Rabu, 12 Desember 2012


Judul Skripsi
Tidak ada yang istimewa dari tulisan ini. Saya hanya ingin berbagi. Berbagi tentang cerita saya yang tidak disiplin dan sering kali mengentengkan banyak hal. Ini kebiasaan buruk yang telah saya idap sejak dulu. Tidak mudah mengobati “penyakit” yang telah bertahun-tahun menyerang itu. Di bangku kuliah, “penyakit” itu belum kunjung sembuh, sehingga memberi kesan saya tidak serius kuliah. Ketika jam kuliah misalnya, teman-teman kelas kerap tersenyum mendapati saya yang sering datang telat. Sampai-sampai dosen pun mengenali saya gara-gara sering terlambat. Kadang tanpa sengaja saya mendengar bisikan teman-teman yang duduk di bangku depan, “oh… sudah biasa” atau “sudah pukul berapa sekarang?” Duh, malunya daku. Saya hanya bisa menjawab dengan senyum sekadarnya.
Ketidakdisiplinan itu juga menimpa saya dalam proses pembuatan skripsi tahun ini. Dulu, saya bertekad untuk tidak main-main dalam membuat skripsi, tidak seperti pembuatan paper saya waktu MAK yang tampak awut-awutan. Saya tidak ingin sekedar lulus, sementara penelitian akhir yang merupakan salah satu persyaratan lulus S1 itu sekedar selesai tanpa mempertimbangkan kualitas isinya. Sewaktu semester rendah, saya “takut” melihat skripsi yang dibuat kakak-kakak kelas. Tampaknya “wah”. Sedangkan kemampuan saya di bidang tulis menulis sangat minim. Saya lalu bertanya-tanya, “bisakah saya membuat karya penelitian seperti itu?”  
Dan tibalah saat untuk menghadapi itu: pembuatan skripsi. Sebelum berangkat KKN, saudara saya pernah bercerita kalau dirinya dulu menyelesaikan proposal skripsi waktu masih KKN. Saya kagum, ternyata dia masih bisa menyelesaikan proposal itu di tengah-tengah kesibukannya melayani masyarakat. Dia menghimbau agar saya meniru jejaknya: menyelesaikan proposal secepatnya. Di tempat KKN, saya sempat mengingat pesan saudara saya itu. Tapi ternyata saya tidak bisa membagi waktu. Kegiatan di posko saya terbilang padat hingga melupakan hal lain selain kegiatan KKN. Mulai pagi hingga malam kegiatan tidak pernah diliburkan. Jadilah saya kelimpungan untuk meluangkan waktu guna menyelesaikan proposal skripsi itu. Akhirnya saya pasrah, sudahlah… urusan proposal, nanti belakangan.
Sekarang saya menduduki semester VII. Teman-teman mulai sibuk mengurusi judul skripsinya, mulai dari minta rekomendasi dekan hingga mencari buku bacaan. Dari lima belas mahasiswa Tafsir Hadis VII, hanya tiga orang yang belum menyetor judul, salah satunya adalah saya. Teman-teman yang perhatian kadang bertanya pada saya apakah saya sudah menemukan judul atau belum, “gimana, Shob? Udah selesai menyetor judul?.” Jawaban saya selalu saja menggeleng. Padahal, semester VII sudah hampir saya lewati. Judul yang pas itu belum juga saya temukan.
Jika saya menghubungi keluarga, pembicaraan mereka tidak lepas dari pertanyaan seputar skripsi. Mereka tidak menginginkan saya mengundur-undur waktu sampai tahun depan. Mereka memberi deadline waktu, tahun ini saya harus lulus S1. Ketika ditanya, jawaban saya selalu sama, saya belum menemukan judul. Tak jarang, saudara saya merasa kecewa dan sempat memarahi saya. “Sudah mau semester delapan, kok masih belum menemukan judul?”, katanya suatu ketika. Saya tidak tahu harus menjawab apa. Toh, saya benar-benar kebingungan mencari judul. Jawaban saya hanya membisu.
Sekarang tinggal saya sendiri yang belum menyetor judul, dua teman saya yang belum itu sudah selesai. Sebagian teman kadang menyindir saya, “judul seperti apa yang kamu inginkan? Jangan terlalu idealis lah…” atau “saya gak percaya kamu belum menemukan judul. Banyak kok masalah. Kamu saja yang enggan mengangkat masalah itu” atau “kalau judulnya gak “wah” memang gak mau kamu ambil?” Begitulah celotehan teman-teman mengenai saya yang terkesan enteng. Yah, mereka kok malah berpikir begitu, sih? Berpikir menemukan masalah saja saya kesulitan, apalagi memikirkan judul ideal seperti yang mereka maksud. Nyatanya, mereka malah diam saja ketika saya meminta mereka untuk menawarkan judul. Setelah beberapa lama, akhirnya muncullah judul Sinonimitas Lafadz dalam al-Quran (Analisa Pemikiran Aisyah Abd. Rahman Bintu Syati’) dari tangan saya.
Memang, saat ini saya tidak begitu antusias menyelesaikan skripsi. Bagi kebanyakan mahasiswa, tugas skripsi hanya dijadikan formalitas saja. Mereka hanya mengejar satu kata: lulus. Dengan cara bagaimanapun mereka berusaha menyelesaikan skripsi meski harus menjadi plagiator. Saya banyak menemukan fenomena itu. Dan tidak tanggung-tanggung, bahkan ada mahasiswa yang menjiplak total: meminta skripsi mahasiswa lain di kampus berbeda lalu mengatasnamakan dirinya. Tidak orisinil. Karena yang ada di benak mereka hanyalah lulus dan lulus. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa yang mereka kejar hanya titel  di belakang nama? Mana pertanggungjawaban keilmuannya? Inilah yang membuat saya tidak ngeh menyelesaikan skripsi. Mahasiswa kebanyakan tidak melihat lebih dalam esensi dari skripsi itu sendiri.
Akhirnya, yang ada di benak saya sekarang hanyalah bagaimana saya bisa membaca sebanyak-banyaknya dan menulis sebanyak-banyaknya. Membaca apa saja dan menulis apa saja tanpa mempertimbangkan kualitas tulisan tersebut. Karena dengan membaca dan menulis, saya menemukan kepuasan tersendiri. Untuk urusan skripsi, nanti lah belakangan. Hehehe… (maafkan saya, Ibu. Putrimu lagi malas)


Rinai Hujan, 10 Desember 2012

Jangan Bangga Dulu, Pak Presiden!
Tulisan ini terinspirasi dari artikel Sayidiman Suryohadiprojo berjudul Paradoks Indonesia di harian Kompas, 24 November 2012. Ia menilai ada banyak hal kontradiktif di negeri kita. Kontradiksi itu menimbulkan tanya, kenapa dan bagaimana mengatasinya. Kemarin kita mendapat kabar bahwa presiden kita mendapat pujian dan penghargaan tinggi dari Ratu Elizabeth II berupa bintang The Knight Grand Cross in The Order of The Beth karena sukses menjadikan Indonesia sebagai Negara demokratis, keberhasilannya di bidang ekonomi di tengah krisis Eropa, dan keberhasilan-keberhasilan lainnya. Sebelumnya, pujian itu juga datang dari pemimpin Negara lain seperti AS dan Jepang. Wajar bila kita turut bangga melihat presiden kita dipuji Negara lain yang terbilang maju.
Mari kita dengar pujian lain yang datangnya dari Tim Lindsey dari Universitas Melbourne, Australia, ketika diwawancarai Kompas pada 17 November 2012 kemarin. Katanya, sudah banyak prestasi yang telah Indonesia raih. Prestasi apa yang ia maksud? Pada tahun 1998, banyak pihak pesimistis mengatakan Indonesia tidak akan mampu bangkit disebabkan karena dalamnya keterpurukan. Namun, ternyata Indonesia bisa menyelenggarakan pemilihan umum secara demokratis dan ekonominya terus tumbuh. Bandingkan dengan Thailand yang beberapa kali mengganti perdana menteri atau Singapura dan Malaysia yang masih menganut sistem satu partai atau China yang belum sepenuhnya demokratis.  
Lalu bagaimana dengan kasus korupsi yang merajalela di Indonesia yang justru merusak prestasi itu? Lindsey menjawab, korupsi memang ada dimana-mana, di banyak Negara. India, China, Australia, dan Amerika Serikat juga tidak sepenuhnya bebas korupsi. Masalahnya adalah bukan ada korupsi atau tidak, melainkan apa yang dilakukan untuk menghadapinya dan Indonesia sudah melakukan itu. Indeks persepsi korupsi Indonesia memang masih rendah, yaitu di angka 3,00 pada tahun 2011. Namun jika dibandingkan dengan tahun 2004 yang pada angka 2,00, ada peningkatan 1 poin. Peningkatan itu adalah yang terbesar di Asia Tenggara, nomor lima di Asia, dan nomor delapan di dunia.
Itulah penilaian Lindsey. Namun, lihatlah apa yang sebenarnya terjadi dalam negeri ini. Endemi korupsi sepertinya tidak akan menemukan ujung penyelesaian, banjir terus saja terjadi, tawuran antarsiswa yang berakhir petaka di SMA Jakarta dan antarmahasiswa di Makassar semakin menambah daftar buruk negeri ini. Belum lagi persoalan kemiskinan yang belum teratasi secara maksimal. Saya merasa jengah sendiri membaca media massa yang setiap harinya menyuguhkan berita tentang kebobrokan negeri ini. Seakan semua rakyat bersuara bahwa Negara kita telah gagal. Jelas saya kecewa, hingga tak bergairah lagi mengikuti berita perkembangan negeri ini. Pemimpin yang menjadi tumpuan rakyat tidak mampu memenuhi harapan yang sejak lama berkelindan, kesejahteraan. Jarang sekali terdengar pujian-pujian yang bersumber dari rakyat sendiri. Pujian itu malah datang dari Negara lain yang tidak tahu pasti apa yang sedang kita hadapi. Kesimpulannya, Negara lain menganggap kita maju dan berhasil, sementara kita sendiri merasa gagal dan terbelakang. Aneh, bukan?
Situasi politik di negeri ini juga belum stabil. “Perang” antara KPK dan Polri, kongkalikong di tubuh DPR, kecurangan-kecurangan yang dilakoni panitia KPU, dan massifnya kasus korupsi  yang melibatkan sebagian besar elite partai Demokrat, sempat menjadikan kita mengutuk negeri sendiri. Pujian yang disematkan kepada presiden kita seolah hanya kamuflase belaka, hanya pencitraan bagi seseorang saja. Sementara rakyat dibiarkan menderita. Memang, situasi ini masih lebih baik bila kita bandingkan dengan situasi yang dihadapi Negara Timur Tengah; Mesir yang tengah mengalami krisis politik, Palestina-Israel yang terus berseteru dan menanggalkan perdamaian, serta Suriah yang rakyatnya saling berperang. Tetapi walau bagaimanapun, perbandingan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk berhenti mengentaskan problem akut negeri ini. Uluran perhatian pemerintah tetap amat dibutuhkan dalam situasi begini.
Masih soal korupsi, ada kabar yang sempat membuat saya tercengang setelah membaca harian Kompas edisi Rabu, 5 Desember 2012. Di sana diberitakan bahwa setelah dikalkulasi, jumlah uang yang dirampok pejabat dari tahun 2004 hingga 2011 adalah 39,3 triliun dengan 1.408 kasus korupsi. Siapa yang tidak kaget kalau begitu? Uang yang tidak sedikit itu jika digunakan untuk kepentingan rakyat tentu saja akan lebih meringankan problem mereka. Masyarakat akar rumput yang berekonomi lemah terpaksa bersimbah air mata sebab mencari pengganjal perut, gara-gara ulah pejabat yang telah merampas hak mereka itu. Saya selalu bertanya-tanya dengan nada pesimis, mampukah penegak hukum membumi-hanguskan koruptor yang sangat bandel dari negeri tercinta ini? Kita tunggu saja buktinya.                                     
Salah satu alasan kenapa Indonesia belum menemukan penerangan dan kesejahteraan adalah krisis kepemimpinan. Jika ditanya tentang siapakah pemimpin Indonesia yang patut diteladani, pasti jawaban yang disebutkan adalah pemimpin-pemimpin tempo dulu: ya Soekarno, ya Hatta, atau Tan Malaka. Jajak pendapat yang dilakukan Kompas kemarin pernah menyajikan suara rakyat tentang siapa pemimpin Indonesia saat ini yang patut diteladani. Jawaban yang mendominasi adalah tidak ada. Ada pula sebagian yang menyebut-nyebut nama SBY, Jokowi, dan Dahlan Iskan.  Tapi itu tidak seberapa. Dan ini artinya kepercayaan rakyat pada pemimpin semakin memudar, atau bisa jadi tidak ada sama sekali.
Andai saja pemimpin kita bisa meneladani sosok Sukrasana, tentu negeri ini akan damai sentosa. Sukrasana adalah tokoh utama dalam pewayangan yang buruk secara fisik tapi berwatak mulia dan ksatria. Ia adalah konfigurasi dari substansi dan esensi manusia. Cita-citanya bukanlah untuk meraup keuntungan materi di balik kedudukan yang ditempati. Satu-satunya pamrih yang ada dalam dirinya adalah cita-cita untuk membawa kemaslahatan bagi banyak orang, bukan untuk mengejar pencitraan.  
Sukrasana adalah monumen kesetiaan dan integritas yang menjadi rujukan kolektif. Ia berpikir bahwa dirinya tak lebih sebagai “utusan” Tuhan yang dititahkan untuk membawa kemaslahatan dan mewujudkan nilai ideal kehidupan. Bukan seperti pemimpin umumnya, Sukrasana tidak butuh artifisialitas dan tidak pula bermental kemaruk. Niatnya sebagai pemimpin benar-benar murni untuk menolong kehidupan masyarakat dunia.
Di Indonesia, meski sulit mencari pemimpin bermental Sukrasana, namun bukan berarti menafikannya sama sekali. Tugas seluruh elemen bangsa ini adalah menguatkan sinergisitas dengan bekerja sama mewujudkan pemimpin “Sukrasana”. Salah satu langkahnya adalah memilih pemimpin yang tepat dalam kontestasi Pemilu 2014, karena di tangan pemimpinlah masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Tentu kita tidak menginginkan pemimpin kita bermental kapital dan berjiwa makelar kekuasaan.
Terakhir, saya menyadari bahwa saya tak pantas berbicara panjang lebar tentang hiruk-pikuk politik negeri ini, karena saya memang tidak tahu apa-apa tentang itu. Terlebih, ini bukan bidang saya. Saya hanya ingin berbagi ketika beberapa kali dibuat kecewa oleh pemberitaan media massa. Dengan berbagi, saya bisa sedikit lega. Biarlah semua orang tahu bahwa ada sebagian orang yang bangga dan sebagian besar kecewa dengan kerja pejabat kita. Biarlah mereka tahu bahwa Negara lain tengah memuji kita, sementara kita sendiri menderita. Jangan bangga dulu, Pak Presiden! Lihatlah rakyatmu…


Guluk-guluk, 10 Desember 2012

Minggu, 09 Desember 2012


Lelaki dalam Kotak Impian
Judul di atas saya ambil dari tema salah satu majalah di Annuqayah. Saya tergerak menulis tentang hal ini setelah berangkat dari kebingungan saya terhadap laki-laki.  Barangkali, ada yang menilai tidak ada yang menarik dari tema ini, sebab lumrahnya, yang biasa dijadikan obyek perbincangan di beberapa media adalah perempuan. Terma tentang perempuan seolah tidak pernah habis dibicarakan, baik ditinjau dari sisi psikologisnya, fisiknya, keilmuannya, daya tariknya dan lain sebagainya. Jarang sekali ada orang yang menyinggung perihal laki-laki. Entah, apakah mereka pikir tidak ada hal menarik dari laki-laki yang mesti dibahas atau apakah mereka menilai memang tidak ada yang perlu dipermasalahkan dari sosok laki-laki. Terlepas dari itu, realitanya perempuan sendiri juga merasa perlu untuk mengetahui lebih jauh hal-ihwal pasangan hidupnya ini, karena dengan mengetahui segala hal terkait pasangan kita tentu lebih memudahkan kita kelak untuk memahami karakter masing-masing.
            Sebagian orang mungkin bersikap antipati dengan persoalan lelaki. Mereka berasumsi yang pantas diperbincangkan adalah perempuan, karena hanya perempuanlah yang banyak menuai masalah. Tapi bagi saya tidak demikian seharusnya. Memperbincangkan suatu hal bukan berarti harus membicarakan segala keburukan dan keterbatasannya, melainkan juga mengetahui kelebihan dan keunggulannya. Nah, di sinilah perlunya. Dengan membicarakan sosok lelaki, perempuan bisa menilai lelaki seperti apa yang ideal dan patut diimpikan serta tipe lelaki seperti apa pula yang tidak layak diharapkan. Kalau hanya perempuan yang diperbincangkan, tentu laki-laki tidak tahu seperti apa sosok lelaki yang diinginkan perempuan. Dengan membicarakan keduanya secara simultan, maka mudah tiap-tiap mereka menentukan tipologi pendamping hidupnya.
            Lelaki seperti apa yang diinginkan perempuan? Secara umum, perempuan pasti mengimpikan laki-laki yang baik hati, penyabar, perhatian, setia, romantis, bertanggung jawab, dan terlebih bisa memahami perasaan perempuan. Kriteria yang semacam itu bisa dibilang sudah cukup. Tetapi beberapa perempuan masih ada yang menambah dengan kriteria beragam. Setiap perempuan memiliki selera masing-masing dalam memilih pasangannya. Tidak jarang ditemukan perempuan yang matre alias masih melihat tebal-tipisnya dompet laki-laki dalam memilih pasangan. Ada juga perempuan yang melihat kemampuan  laki-laki dari segi kognitifnya. Mereka tidak mau pada lelaki yang bodoh dan tidak up to date. Yah, semuanya tergantung perempuan lah. Kalau perempuan memang senang bergelut dengan ilmu pengetahuan, tentu menginginkan laki-laki yang pintar dan berwawasan. Kalau perempuan suka menghambur-hamburkan uang, tentu menginginkan laki-laki yang ber-uang.  
            Memangnya lelaki yang layak diimpikan itu yang seperti apa, sih? Kalau ditarik dalam konteks agama, tipe laki-laki ideal tidak jauh beda dengan perempuan ideal sebagaimana yang disinyalir dalam hadis Nabi saw. tunkahul mar’ah liarbai’n; lidiniha wa limaliha wa lijamaliha, wa linasabiha fadzfar bidzati ad-din. Agama memberi kode pada laki-laki agar memilih perempuan karena empat hal, karena agamanya, hartanya, kecantikannya, dan nasabnya. Dan yang lebih diprioritaskan adalah sebab agamanya (baik agamanya). Lelaki ideal pada dasarnya juga begitu, baik agamanya, cukup hartanya, cakep parasnya, dan baik nasabnya. Empat hal itu bagaikan sebuah kotak impian yang ada di setiap sudutnya dan saling menguatkan satu sama lain. Memang ada laki-laki yang memiliki empat kriteria itu secara sekaligus? Ada, meski sangat langka. Yakini saja, salah satunya adalah milik kita. Entah siapa. Kalau memang tidak ada, cukup yang baik agamanya saja.
            Di sekeliling kita, seringkali ada laki-laki yang bilang begini, perempuan itu misterius, sulit rasanya mengerti keinginan dan perasaan mereka. Sebagai perempuan, izinkan saya juga mengatakan hal yang sama, laki-laki itu juga misterius. Perempuan juga tidak mudah memahami kemauan laki-laki. Sebenarnya, kebingungan laki-laki memahami perempuan sama seperti kebingungan perempuan memahami laki-laki. sama-sama bingung! Maka, cara untuk memecah kebingungan itu adalah butuh sikap keterbukaan di antara keduanya, butuh pengetahuan tentang karakter keduanya, butuh pemahaman dari masing-masing keduanya. Di sinilah letak pentingnya membicarakan laki-laki, agar laki-laki juga paham apa kemauan perempuan.
            Tidak perlu jauh-jauh mempersoalkan kebingungan itu, mari kita nilai bersama seperti apa laki-laki saat ini yang berhasil menarik sekian hati perempuan selain kriteria yang disebutkan agama di atas? Good behavior. Perempuan paling alergi pada laki-laki yang banal, tidak beretika, semaunya saja, dan kasar. Perempuan yang lembut akan mengimpikan laki-laki yang juga lembut dan baik hatinya. Perempuan hanya butuh ketenangan di pangkuan laki-laki yang tenang dan damai. Perempuan mana yang tidak terpesona melihat kelembutan Rasulullah ketika bergaul dengan istri-istrinya? Semua perempuan pasti menginginkan hal itu.
Tegas dan berprinsip. Sebagai pemimpin keluarga, laki-laki memang perlu memiliki sikap semacam ini. Bahkan, bagi saya ini harga mati. Lelaki yang tak tegas dan tak berprinsip mudah saja dibawa “aliran sungai” dan “terpaan angin”. Kalau sudah demikian, besar kemungkinan bangunan keluarga akan cepat roboh dan musnah. Pondasi utama yang menjadi pengokoh dalam bangunan rumah tangga adalah suami.  Bila pondasinya rapuh, bangunannya pun akan melepuh.
Berani dan bertanggung jawab. Perempuan kerap kali mengklaim laki-laki sebagai sosok pengecut dan pecundang. Hal ini mereka katakan ketika melihat tingkah laki-laki yang tampak ragu-ragu mengambil keputusan. Inilah yang sering kali dikeluhkan perempuan bahwa laki-laki sulit sekali bersikap berani dan bertanggung jawab. Kata perempuan, sebagian besar laki-laki memang begitu. Tapi ingat, tidak semuanya. Masih ada laki-laki yang berani bertindak dan bertanggung jawab atas tindakannya tersebut. Hanya laki-laki yang berani melangkah serta menatap masa depan dengan optimislah yang mampu membentuk keluarganya layaknya surga. Dan kelak, ia akan menjadi teladan (role model) bagi anak-anaknya.
            Berilmu dan berwawasan. Memang sudah selayaknya laki-laki memiliki ilmu pengetahuan sebagai bekal untuk mendidik istrinya kelak. Apalagi suami merupakan nahkoda yang bertanggungjawab membawa perahu keluarganya berlayar ke pulau “surga”. Tanpa ilmu pengetahuan yang mumpuni, ia akan kebingungan di tengah lautan kemana arah yang tepat menuju pulau tersebut. Selain karena alasan itu, orang yang berilmu tentu beda cara menyikapi kehidupan keluarga dengan orang yang tidak berilmu. Perbedaan itu bisa dilihat ketika mereka memperlakukan istrinya dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Untuk kriteria ini, bagi saya tidak bisa ditawar.
            Setia dan romantis. Coba tebak siapa laki-laki di negeri kita yang bisa dijadikan contoh dalam hal ini? Yup, benar, presiden kita yang ke-3, B. J. Habibi. Dalam kisahnya, perjalanan hidup Habibi dan Ainun (istrinya) dipenuhi dengan bunga-bunga asmara, bahkan hingga ajal menjemput Ainun. Habibi secara tak sadar memanggil-manggil nama Ainun dan mencari istrinya itu di setiap ruangan rumahnya setelah bangun tidur seolah tak sadar bahwa istrinya itu sudah tiada. Kenangan bersama sang istri terus membayang dalam ingatannya sehingga memotivasi dirinya untuk mengabadikan kisah cintanya dalam bentuk tulisan yang kini menjadi buku.
Laki-laki yang setia akan sulit membagi cintanya dengan perempuan selain istrinya. Dan memang ini yang diharapkan semua perempuan. Dalam kasus poligami misalnya, sekalipun istri mengizinkan si suami menikah lagi, saya yakin dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak rela suaminya bercumbu mesra dengan perempuan lain. Dalam keadaan bagaimanapun, perasaan memang tidak bisa kompromi. Perasaan selalu menuntut pemiliknya untuk memiliki orang yang dicintainya secara utuh. Dan soal romantis, perempuan paling suka laki-laki yang romantis. Mereka yang romantis selalu bisa membuat hati yang galau menjadi riang. Meski ini bukan kriteria yang utama, paling tidak laki-laki bisa romantis untuk menyenangkan hati istrinya. Terlebih ketika situasi terasa menghimpit jiwa, laki-laki yang romantis bisa dijadikan penawar sebagai pelipur lara. []


Guluk-guluk, 9 Desember 2012