Halaman

Sabtu, 12 Januari 2013



Menghindari Penafsiran yang Sewenang-wenang
Saya mengenalnya tidak begitu lama. Tetapi ia cukup membuat saya kagum karena kecerdasannya menyajikan seperangkat metodologi untuk menafsirkan teks agama. Tokoh ini saya tahu ketika membaca salah satu  jurnal kampus yang di dalamnya mengulas  sepintas pemikiran briliannya.  Dialah pencetus istilah interpretif-despotism (penafsiran yang sewenang-wenang) dalam wilayah penafsiran teks al-Quran.  Sempat terlintas di benak saya sebelumnya untuk mengkaji secara mendalam pemikiran cendekiawan muslim yang menjadi guru besar hukum Islam di UCLA School of Law, Amerika Serikat, itu. Tapi sayang saya belum kunjung berhasil menemukan salah satu karyanya. Beberapa lama kemudian akhirnya saya bersyukur. Baru kemarin saya mendatangi salah satu guru menulis saya, M. Mushthafa, untuk meminjam buku, ternyata buku yang disodorkan ke hadapan saya adalah karya terjemahan dari tokoh yang saya incar tersebut.  
Melawan Tentara-tentara Tuhan dan Atas Nama Tuhan: dari Fikih Otoriter ke Fiqih Otoritatif adalah dua karya Khaled M. Abou el-Fadl yang saat ini sudah ada dalam genggaman saya.  Cukup pelik memang untuk memahami gagasan-gagasannya yang terkandung dalam dua buku tersebut. Entah, apakah ini karena status buku tersebut yang merupakan karya terjemahan karena pada umumnya karya terjemahan relatif rumit dipahami, atau apakah karena ide-ide Khaled memang sulit dijangkau akal saya yang sangat terbatas ini. Yang pasti, saya harus mengerahkan konsentrasi penuh untuk menggali maksud yang hendak disampaikan oleh  author tersebut.
Sebelum memasuki pemikiran Khaled, atas saran M. Mushthafa, terlebih dahulu saya membaca pengantar buku tersebut, Pendekatan Hermeneutik dalam Studi Fatwa-fatwa Keagamaan, yang ditulis  oleh M. Amin Abdullah, guru besar Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga. Pengantar yang ia paparkan cukup padat, sehingga bisa dibilang mewakili keseluruhan pemikiran Khaled yang akan dibahas pada bab-bab berikutnya. Dengan kepiawaiannya, Amin Abdullah memaparkan secara rinci titik persoalan yang telah menyulut semangat Khaled untuk membangun metodologi konstruktif  sebagai kritik atas penafsiran bias gender dalam fatwa-fatwa keagamaan yang dikeluarkan  oleh ahli-ahli hukum agama Islam pada CRLO (Council for Scientific Research and Legal Opinion: Lembaga Pengkajian  dan Fatwa) yang berpusat di Arab Saudi.
Fatwa-fatwa keagamaan Islam tentang perempuan yang dianggap sangat problematis oleh Khaled antara lain fatwa keagamaan tentang pelarangan perempuan mengunjungi makam suaminya, perempuan mengeraskan suara dalam berdo’a, perempuan mengendarai atau mengemudikan kendaraan sendiri, perempuan harus berdo’a atau melakukan shalat di tempat yang tersembunyi dan tak tampak pandangan mata, dan seterusnya. Fatwa tersebut dinilai olehnya sebagai tindakan merendahkan—untuk tidak menyebutnya menindas—perempuan yang tidak dapat ditoleransi pada era sekarang ini. Fatwa yang berlindung di bawah teks (nash) mengklaim bahwa itulah yang sebenarnya “dikehendaki Tuhan.”
Berangkat dari kegelisahan Khaled atas realitas yang dihadapi waktu itu, ia merasa berat hati ketika teks agama (dalam hal ini al-Quran atau hadis) yang terkait dengan fikih ditafsirkan berdasarkan subjektifitas pembaca. Penafsiran semacam itu cenderung menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Tradisi penafsiran demikian sebenarnya tidak lepas dari budaya patriarkhis yang kerap kali menonjolkan superioritas diri dan menganggap inferior pihak lain. Tentu ini tidak fair meski pada dasarnya tak ada seorangpun yang mampu melepaskan diri dari unsur subjektifitasnya.
Khaled menilai, tak ada seorang mufassir pun yang berhak mengakui dirinya sebagai pemilik otoritas penuh dalam menafsirkan suatu teks, sehingga mengklaim produk tafsirnya sebagai hasil paten dan final, karena hal tersebut akan berimbas pada sikap menafikan “kebenaran” penafsiran lain yang bisa jadi lebih representatif. “Siapapun” sejatinya berhak memiliki paradigma yang berbeda ketika membaca dan memahami suatu teks (nash) dalam rangka menyesuaikan dengan situasi dan kondisi zaman yang terus berubah-rubah. Kecenderungan umat beragama, termasuk Islam, terkadang mengambil alih begitu saja otoritas Pengarang (author) untuk membenarkan tindakan (penafsiran) sewenang-wenang dengan mengklaim bahwa pemahaman yang paling relevan dan benar sesuai “keinginan Pengarang” adalah produk tafsirnya sendiri. Maka dengan mudah pembaca menggantikan posisi Pengarang dan menempatkan dirinya sebagai satu-satunya pemilik absolut otoritas kebenaran.
Khaled berulang kali menjelaskan dalam bukunya bahwa hal tersebut sama artinya dengan menggantikan secara halus kekuasan Tuhan yang merupakan tindakan despotisme dan sekaligus bentuk penyelewengan yang tidak bisa dibenarkan begitu saja. Maka untuk menghindari tindakan sewenang-wenang tersebut, Khaled menawarkan solusi metodologi yang mekanismenya tidak jauh beda dengan sistem kerja hermeneutika. Pendekatan hermeneutik yang ia tawarkan berbeda dengan hermeneutika ala Fazlur Rahman, Nashr hamid Abu Zaid, atau bahkan Farid Esack. Kajian hermeneutik yang ia tawarkan bersifat multidisipliner karena melibatkan berbagai pendekatan ilmu: linguistik, sosial, literary criticism, dan ilmu keislaman yang telah baku seperti mushthalah hadis, fiqih, ilmu kalam, ushul fiqh, yang kemudian diintegrasikan dengan kondisi kontemporer.  
Berbicara ihwal penafsiran dalam konteks hermeneutika, tentu tidak akan luput dari tiga komponen yang saling terkait, yakni author, text, dan reader. Di wilayah inilah Khaled menginstruksikan penafsir melibatkan ketiganya secara aktif dan holistik. Pemahaman teks semestinya merupakan produk interaksi yang hidup antara pengarang, teks, dan pembaca. Ijtihad, menurut Amin Abdullah, sebenarnya terkandung arti adanya peran aktif dan interaksi yang hidup dan dinamis antara ketiga elemen tersebut. Jika pembaca mencoba menutup rapat teks dalam pangkuan makna tertentu atau memaksa tafsiran tunggal, maka tindakan ini beresiko untuk melanggar integritas pengarang dan bahkan integritas teks itu sendiri.
Di samping itu, Khaled juga mengusulkan lima persyaratan yang bisa dijadikan pengendali agar tidak melakukan tindakan despotisme dalam menentukan fatwa-fatwa keagaman, pertama, kemampuan dan keharusan seseorang, kelompok, atau lembaga untuk mengontrol dan mengendalikan diri. Kedua, bersungguh-sungguh. Ketiga, mempertimbangkan berbagai aspek yang terkait. Keempat, mendahulukan tindakan yang rasional dan mengesampingkan yang irasional. Kelima, kejujuran. Kelima syarat ini adalah pengaman yang harus dipakai seseorang sebelum akhirnya menyebut penafsiran yang dihasilkannya sebagai produk yang “dikehendaki Tuhan.” Yang mesti kita garisbawahi saat ini adalah pernyataan tegas Allah dalam surat Yusuf ayat 76, wa fauqa kulli dzi ‘ilmin ‘alim, di atas orang yang alim ada yang lebih alim. Kebenaran absolut itu hanyalah milik Allah. Wallahu a’lam…


Annuqayah, 10 Januari 2013

Minggu, 16 Desember 2012


Perpisahan
            Mendengar kata perpisahan, pasti yang akan muncul di benak kita adalah rasa sakit. Perpisahan memang selalu meninggalkan jejak nestapa dan air mata. Ia menuntut orang yang bertemu untuk merenggangkan jarak. Rasa kehilangan menyeruak dan lalu menyesakkan dada ketika mereka yang berpisah adalah orang-orang yang dicinta. Andai saja waktu bisa ditahan, maka yang demikian akan dilakukan untuk memperpanjang intensitas pertemuan. Tetapi nihil, ternyata waktu tidak bisa dinego. Ia akan terus berjalan, berlari mengikuti rotasi bumi. Dan mereka yang dicintai harus terpaksa direlakan pergi.
            Cobalah bertanya pada diri sendiri sembari merenungi, untuk apa menumpahkan air mata ketika akan berpisah? Apa guna mencipta luka jika perpisahan itu pada dasarnya merupakan proses dari pertemuan itu sendiri? Inilah yang sering kali dilupakan banyak orang, bahwa perpisahan sebenarnya kepingan proses dari pertemuan. Perpisahan akan melahirkan pertemuan, dan pertemuan akan meninggalkan jejak perpisahan. Keduanya terus berjalan secara beriringan, hingga pada akhirnya akan berujung pada pertemuan yang abadi kelak di rumah sorga. Perpisahan mestinya bisa dinikmati dan membuat orang bahagia, karena sebentar lagi pertemuan akan datang kembali.  
            Dan saat ini, perpisahan itulah yang saya rasakan. Ada yang menyembul pekat di sini, di hati ini, ketika mereka tiba-tiba pergi tanpa saya harapkan. Bagi saya, mereka adalah orang-orang yang berpengaruh dan berarti. Bersama mereka, saya diajari untuk mengeja aksara, menyelami lautan logika, membentuk pribadi yang dewasa, dan menerima hidup ini apa adanya. Selama beberapa kesempatan, mereka membuka lebar pengetahuan saya dengan luasnya ilmu yang mereka miliki. Saya menikmati sekali.
Pernah suatu ketika salah seorang dari mereka memberi petuah begini, “anakku, jika kamu hanya duduk di pinggir pantai, maka yang kamu tahu, laut itu hanyalah air. Jika kamu ingin tahu laut yang sebenarnya, menyelamlah. Temukanlah keindahan dan keunikan yang ada di dalamnya dan mungkin saja belum kamu ketahui sebelumnya. Itulah laut yang sebenarnya.” Saya tertegun mendengar petuah itu. Melalui bahasa analogis, mereka mengajak saya untuk menyelam lebih dalam ketika mengeksplorasi ilmu, hingga saya mengetahui lebih komprehensif tentang ilmu yang saya cari itu. Tidak hanya tahu luarnya saja.
Lalu saya semakin berat ditinggal mereka dalam kondisi saya yang belum jauh mengenal ilmu. Kehadiran mereka telah memberi banyak hal yang berarti; menyulut semangat saya dengan nyala semangat yang mereka miliki, menggugah kecerdasan untuk berpikir kritis, dan tak lupa membentengi diri dengan keimanan yang mencukupi. Kalau tidak karena mereka, saya tidak mungkin tahu betapa ilmu itu seperti madu. Manis sekali. Kalau bukan karena stimulasi mereka, saya tak mungkin tahu betapa perjuangan melelahkan dalam mengais butir ilmu itu sangat dibutuhkan. Ah, sebentar lagi saya harus merelakan mereka pergi.
Fitrahnya hati adalah merasakan. Meski saya menyadari perpisahan adalah bagian dari pertemuan, saya tetap tak bisa memaksa hati untuk tidak berduka. Biarkan saya merasakannya agar saya tahu betul bahwa kehadiran mereka sangatlah berharga. Benar apa yang dikatakan guru saya, kita akan tahu keberadaan seseorang sangat berarti ketika kita telah berpisah dengannya. Entah, saya belum sempat berpikir, apakah waktu masih akan bersedia mempertemukan kami dalam kesempatan yang tidak jauh beda, berbagi ilmu, atau tidak. Saya berusaha menggali hikmahnya saja, mungkin dengan ini Tuhan ingin mengajarkan saya tentang arti kemandirian, termasuk kemandirian belajar tanpa ditemani mereka.
Ucapan terimakasih tampaknya belum cukup untuk membalas jasa-jasa yang mereka berikan. Mari beri tahu, apa yang dapat saya berikan sebagai balasan terhadap kebaikan-kebaikan mereka? Jika saya tidak bisa membalasnya, semoga Dia Yang Maha Pembalas yang akan membalas dengan balasan yang lebih baik, jazakumullah khairal jaza. Yang bisa saya lakukan saat ini adalah mengabadikan nama-nama mereka dalam  catatan sederhana ini, agar semua orang tahu bahwa mereka sangatlah berarti dan sebagian besar membantu saya dalam menggapai mimpi dan kesuksesan.
Bapak Fawaid Sjadzili. Kesan pertama bertemu dengannya terasa menegangkan. Bapak terlihat serius dan jarang sekali memunculkan humor-humor segar di tengah menjelaskan materi. Tetapi kesan itu perlahan hilang setelah dua kali semester saya bertatap muka dengan beliau. Ternyata, dugaan saya salah besar. Bapak juga bisa membuat suasana menjadi cair dan aktif, sehingga tercipta komunikasi yang efektif di kelas. Lebih dari itu, yang paling berkesan bagi saya adalah ketika Bapak menggugah kecerdasan, mengajak saya untuk berpikir kritis, mengenalkan saya dengan beberapa pemikiran yang “mengagumkan”, dan diam-diam membangkitkan semangat membaca saya.
Saya akui, ilmu Bapak sangat dalam, wawasan Bapak sangat luas seperti samudera. Itu terlihat ketika materi yang Bapak sampaikan tidak hanya berpatokan pada silabus. Tentu melebihi itu. Dan saya kagum karenanya. Studi tentang hadis di Instika memang kurang diminati mahasiswa Tafsir Hadis. Sebagian besar mereka lebih concern pada wacana-wacana tafsir. Tetapi materi Studi Hadis Kontemporer dan Studi Hadis Orientalis mengubah semua itu. Kata mereka, yang ini lebih menantang dan tidak membuat pikiran stagnan. Ditambah lagi profesionalitas yang Bapak miliki ketika mengajari saya dan teman-teman.
Bapak Syukron Affani. Semangat Bapak begitu menyala. Cara Bapak menyampaikan materi tidak biasa, lebih agresif. Saya dan teman-teman tanpa sadar terkena cipratan semangat itu. Mereka terlihat berbinar dan antusias mendengar pengetahuan yang Bapak sampaikan. Tak jarang Bapak selalu menelurkan pertanyaan-pertanyaan menggelitik agar saya berpikir lebih “bebas”. Dan pertanyaan itu kadang sengaja tidak dijawab agar saya dan teman-teman tak henti mencari jawaban. Wajar saja banyak yang merasa berat hati ketika Bapak akan pergi meninggalkan kami. Bersama Bapak, saya jadi mengerti bahwa memahami al-Quran itu tak cukup hanya mengandalkan logika saja. Ada yang lebih penting dari itu, yakni melibatkan hati sebagai tempat iman berdiam diri.
Selain itu, rasa pengabdian Bapak juga sangat saya kagumi. Saya masih ingat siang itu waktu hujan deras mengguyur bumi. Saya mengira Bapak tidak akan datang ke kampus. Tapi, ternyata saya salah. Dari arah selatan, saya melihat Bapak datang mengenakan jas hujan dengan kondisi celana yang basah kuyup. Lalu di kelas, Bapak bercerita kalau jalan yang dilewati dibanjiri hujan. Dan ini terjadi tidak hanya sekali. Bapak sering kali kehujanan. Saya tertegun. Bapak masih bersedia datang untuk berbagi ilmu pada mahasiswanya dalam kondisi cuaca yang tidak baik sekalipun. Terimakasih atas semangat yang kerap kali Bapak nyalakan untuk saya. Saya akan tetap mengingat pesan yang Bapak sampaikan di depan kampus siang itu, 11 Desember 2012 “Sekali melangkah, jangan mundur lagi. Lanjutkan… Sukses!”  
Bapak Fathurrasyid. Bapak berhasil menarik hati saya kali pertama memasuki kelas Tafsir Hadis. Mengapa? Bapak sangat friendly, sehingga bisa dekat dengan mahasiswa dalam waktu yang relatif singkat. Saya semakin percaya diri dan optimis melangkah ke depan karena apresiasi yang Bapak berikan untuk saya. Kedekatan Bapak dengan saya dan teman-teman membuat kami lebih terbuka menyampaikan keinginan dan harapan selama dalam proses belajar mengajar.
Yang masih melekat dalam ingatan, Bapak selalu menyelipkan humor-humor segar ketika menyampaikan materi. Rasanya sangat berkesan. Suasana kelas jadi rileks dan nyaman. Ilmu yang sudah Bapak bagikan tidak sedikit. Bapak mengajak saya untuk berkenalan dengan mufassir sekaliber ar-Razi, at-Thabari, al-Baidhawi, al-Alusi, az-Zamahsyari, Moh. Abduh-Rasyid Ridha, beserta kitab-kitabnya. Saya sangat menikmati hal itu. Apalagi, saya memang meminati kajian kitab-kitab tafsir.
Bapak Maimun Syamsuddin. Dingin, santai tapi pasti. Begitulah penilian saya untuk sementara waktu. Semua orang mengakui dalamnya ilmu yang Bapak miliki. Layaknya air, ilmu itu mengalir melewati celah-celah kosong menuju satu titik sumber: muara. Derasnya pengetahuan yang bermuara pada Bapak dialirkan perlahan pada saya untuk ditampung. Tidak terlalu rumit, Bapak menuangkan ilmu itu hanya dalam bentuk-bentuk skema. Sederhana! Meski nyatanya materi itu sangat kompleks. Diamnya memang mengandung misteri. Tetapi sebab diamnya saya bisa mengerti bahwa ada perhatian yang Bapak miliki.
Pengetahuan Bapak sangat komprehensif. Isu tentang Islam dan Barat, modernitas, pemikiran kontemporer, isu tafsir dan hadis, tampak dikuasai. Bapak telah memberi arahan berbeda pada saya tentang prototype modern (kemajuan) yang sebenarnya. Akhirnya saya berkesimpulan kemajuan itu seperti yang dikatakan Habib Ahmad bin Hasan al-Attas dalam kitab Tadzkiratunnas, “man arada an yataqaddama fa’alaihi bil mutaqaddimin wa man arada an yata’akhkhara fa’alaihi bil muta’akhkhirin.”
Ibu Ulya Fikriyati. Lembut, damai, dan anggun. Masihkah Ibu mengingat saya? Pertemuan kita yang hanya satu semester tidak membuat saya lupa jasa Ibu yang tentu berpengaruh besar terhadap pencapaian cita-cita saya. Kesabaran Ibu mendidik saya menjadi pelajaran berharga ketika kelak saya menjadi ibu dari anak-anak. Mestinya saya bisa meniru jejak Ibu. Perempuan memang harus berdaya. Perempuan juga harus berilmu pengetahuan agar turut memberi kontribusi bagi agama dan bangsa, lebih-lebih untuk wilayah domestiknya. Saya melihat semangat belajar yang tak redup itu dari setiap helai kata yang ibu ucapkan. Saya kagum. Saya mendapatkan aliran semangat itu walaupun tak seberapa.
Jujur saja, saya agak “kecewa” ketika tahu bahwa jumlah mufassir perempuan dari dulu hingga sekarang bisa dihitung dengan jari. Perempuan yang mampu menguasai wacana-wacana tafsir, apalagi menjadi mufassir, sangat jarang saya temui. Tetapi, kehadiran Ibu membuat mindset saya itu sedikit berubah. Pengetahuan Ibu tentang dinamika tafsir di Indonesia memberi wawasan baru. Saya jadi tahu siapa saja mufassir-mufassir di Negara kita yang sangat diperhitungkan sampai sekarang. Hm, masih ingatkah Ibu pada surat yang terselip di buku yang saya pinjam? Hehee.. bukan apa-apa, bukan dari siapa-siapa. Hanya kebetulan saja.
Begitulah gambaran sekilas orang-orang yang sempat menjadi inspirator sekaligus motivator hidup saya. Tidak ada apa yang dapat saya balaskan kecuali ucapan terimakasih yang tak berhingga pada segenap jasa yang mereka ikhlaskan. Semoga Allah masih memberi kesempatan lagi pada saya untuk mencicipi manisnya ilmu bersama mereka kembali. Amin…


Annuqayah Latee II, 16 Desember 2012

Rabu, 12 Desember 2012


Judul Skripsi
Tidak ada yang istimewa dari tulisan ini. Saya hanya ingin berbagi. Berbagi tentang cerita saya yang tidak disiplin dan sering kali mengentengkan banyak hal. Ini kebiasaan buruk yang telah saya idap sejak dulu. Tidak mudah mengobati “penyakit” yang telah bertahun-tahun menyerang itu. Di bangku kuliah, “penyakit” itu belum kunjung sembuh, sehingga memberi kesan saya tidak serius kuliah. Ketika jam kuliah misalnya, teman-teman kelas kerap tersenyum mendapati saya yang sering datang telat. Sampai-sampai dosen pun mengenali saya gara-gara sering terlambat. Kadang tanpa sengaja saya mendengar bisikan teman-teman yang duduk di bangku depan, “oh… sudah biasa” atau “sudah pukul berapa sekarang?” Duh, malunya daku. Saya hanya bisa menjawab dengan senyum sekadarnya.
Ketidakdisiplinan itu juga menimpa saya dalam proses pembuatan skripsi tahun ini. Dulu, saya bertekad untuk tidak main-main dalam membuat skripsi, tidak seperti pembuatan paper saya waktu MAK yang tampak awut-awutan. Saya tidak ingin sekedar lulus, sementara penelitian akhir yang merupakan salah satu persyaratan lulus S1 itu sekedar selesai tanpa mempertimbangkan kualitas isinya. Sewaktu semester rendah, saya “takut” melihat skripsi yang dibuat kakak-kakak kelas. Tampaknya “wah”. Sedangkan kemampuan saya di bidang tulis menulis sangat minim. Saya lalu bertanya-tanya, “bisakah saya membuat karya penelitian seperti itu?”  
Dan tibalah saat untuk menghadapi itu: pembuatan skripsi. Sebelum berangkat KKN, saudara saya pernah bercerita kalau dirinya dulu menyelesaikan proposal skripsi waktu masih KKN. Saya kagum, ternyata dia masih bisa menyelesaikan proposal itu di tengah-tengah kesibukannya melayani masyarakat. Dia menghimbau agar saya meniru jejaknya: menyelesaikan proposal secepatnya. Di tempat KKN, saya sempat mengingat pesan saudara saya itu. Tapi ternyata saya tidak bisa membagi waktu. Kegiatan di posko saya terbilang padat hingga melupakan hal lain selain kegiatan KKN. Mulai pagi hingga malam kegiatan tidak pernah diliburkan. Jadilah saya kelimpungan untuk meluangkan waktu guna menyelesaikan proposal skripsi itu. Akhirnya saya pasrah, sudahlah… urusan proposal, nanti belakangan.
Sekarang saya menduduki semester VII. Teman-teman mulai sibuk mengurusi judul skripsinya, mulai dari minta rekomendasi dekan hingga mencari buku bacaan. Dari lima belas mahasiswa Tafsir Hadis VII, hanya tiga orang yang belum menyetor judul, salah satunya adalah saya. Teman-teman yang perhatian kadang bertanya pada saya apakah saya sudah menemukan judul atau belum, “gimana, Shob? Udah selesai menyetor judul?.” Jawaban saya selalu saja menggeleng. Padahal, semester VII sudah hampir saya lewati. Judul yang pas itu belum juga saya temukan.
Jika saya menghubungi keluarga, pembicaraan mereka tidak lepas dari pertanyaan seputar skripsi. Mereka tidak menginginkan saya mengundur-undur waktu sampai tahun depan. Mereka memberi deadline waktu, tahun ini saya harus lulus S1. Ketika ditanya, jawaban saya selalu sama, saya belum menemukan judul. Tak jarang, saudara saya merasa kecewa dan sempat memarahi saya. “Sudah mau semester delapan, kok masih belum menemukan judul?”, katanya suatu ketika. Saya tidak tahu harus menjawab apa. Toh, saya benar-benar kebingungan mencari judul. Jawaban saya hanya membisu.
Sekarang tinggal saya sendiri yang belum menyetor judul, dua teman saya yang belum itu sudah selesai. Sebagian teman kadang menyindir saya, “judul seperti apa yang kamu inginkan? Jangan terlalu idealis lah…” atau “saya gak percaya kamu belum menemukan judul. Banyak kok masalah. Kamu saja yang enggan mengangkat masalah itu” atau “kalau judulnya gak “wah” memang gak mau kamu ambil?” Begitulah celotehan teman-teman mengenai saya yang terkesan enteng. Yah, mereka kok malah berpikir begitu, sih? Berpikir menemukan masalah saja saya kesulitan, apalagi memikirkan judul ideal seperti yang mereka maksud. Nyatanya, mereka malah diam saja ketika saya meminta mereka untuk menawarkan judul. Setelah beberapa lama, akhirnya muncullah judul Sinonimitas Lafadz dalam al-Quran (Analisa Pemikiran Aisyah Abd. Rahman Bintu Syati’) dari tangan saya.
Memang, saat ini saya tidak begitu antusias menyelesaikan skripsi. Bagi kebanyakan mahasiswa, tugas skripsi hanya dijadikan formalitas saja. Mereka hanya mengejar satu kata: lulus. Dengan cara bagaimanapun mereka berusaha menyelesaikan skripsi meski harus menjadi plagiator. Saya banyak menemukan fenomena itu. Dan tidak tanggung-tanggung, bahkan ada mahasiswa yang menjiplak total: meminta skripsi mahasiswa lain di kampus berbeda lalu mengatasnamakan dirinya. Tidak orisinil. Karena yang ada di benak mereka hanyalah lulus dan lulus. Saya jadi bertanya-tanya, kenapa yang mereka kejar hanya titel  di belakang nama? Mana pertanggungjawaban keilmuannya? Inilah yang membuat saya tidak ngeh menyelesaikan skripsi. Mahasiswa kebanyakan tidak melihat lebih dalam esensi dari skripsi itu sendiri.
Akhirnya, yang ada di benak saya sekarang hanyalah bagaimana saya bisa membaca sebanyak-banyaknya dan menulis sebanyak-banyaknya. Membaca apa saja dan menulis apa saja tanpa mempertimbangkan kualitas tulisan tersebut. Karena dengan membaca dan menulis, saya menemukan kepuasan tersendiri. Untuk urusan skripsi, nanti lah belakangan. Hehehe… (maafkan saya, Ibu. Putrimu lagi malas)


Rinai Hujan, 10 Desember 2012

Jangan Bangga Dulu, Pak Presiden!
Tulisan ini terinspirasi dari artikel Sayidiman Suryohadiprojo berjudul Paradoks Indonesia di harian Kompas, 24 November 2012. Ia menilai ada banyak hal kontradiktif di negeri kita. Kontradiksi itu menimbulkan tanya, kenapa dan bagaimana mengatasinya. Kemarin kita mendapat kabar bahwa presiden kita mendapat pujian dan penghargaan tinggi dari Ratu Elizabeth II berupa bintang The Knight Grand Cross in The Order of The Beth karena sukses menjadikan Indonesia sebagai Negara demokratis, keberhasilannya di bidang ekonomi di tengah krisis Eropa, dan keberhasilan-keberhasilan lainnya. Sebelumnya, pujian itu juga datang dari pemimpin Negara lain seperti AS dan Jepang. Wajar bila kita turut bangga melihat presiden kita dipuji Negara lain yang terbilang maju.
Mari kita dengar pujian lain yang datangnya dari Tim Lindsey dari Universitas Melbourne, Australia, ketika diwawancarai Kompas pada 17 November 2012 kemarin. Katanya, sudah banyak prestasi yang telah Indonesia raih. Prestasi apa yang ia maksud? Pada tahun 1998, banyak pihak pesimistis mengatakan Indonesia tidak akan mampu bangkit disebabkan karena dalamnya keterpurukan. Namun, ternyata Indonesia bisa menyelenggarakan pemilihan umum secara demokratis dan ekonominya terus tumbuh. Bandingkan dengan Thailand yang beberapa kali mengganti perdana menteri atau Singapura dan Malaysia yang masih menganut sistem satu partai atau China yang belum sepenuhnya demokratis.  
Lalu bagaimana dengan kasus korupsi yang merajalela di Indonesia yang justru merusak prestasi itu? Lindsey menjawab, korupsi memang ada dimana-mana, di banyak Negara. India, China, Australia, dan Amerika Serikat juga tidak sepenuhnya bebas korupsi. Masalahnya adalah bukan ada korupsi atau tidak, melainkan apa yang dilakukan untuk menghadapinya dan Indonesia sudah melakukan itu. Indeks persepsi korupsi Indonesia memang masih rendah, yaitu di angka 3,00 pada tahun 2011. Namun jika dibandingkan dengan tahun 2004 yang pada angka 2,00, ada peningkatan 1 poin. Peningkatan itu adalah yang terbesar di Asia Tenggara, nomor lima di Asia, dan nomor delapan di dunia.
Itulah penilaian Lindsey. Namun, lihatlah apa yang sebenarnya terjadi dalam negeri ini. Endemi korupsi sepertinya tidak akan menemukan ujung penyelesaian, banjir terus saja terjadi, tawuran antarsiswa yang berakhir petaka di SMA Jakarta dan antarmahasiswa di Makassar semakin menambah daftar buruk negeri ini. Belum lagi persoalan kemiskinan yang belum teratasi secara maksimal. Saya merasa jengah sendiri membaca media massa yang setiap harinya menyuguhkan berita tentang kebobrokan negeri ini. Seakan semua rakyat bersuara bahwa Negara kita telah gagal. Jelas saya kecewa, hingga tak bergairah lagi mengikuti berita perkembangan negeri ini. Pemimpin yang menjadi tumpuan rakyat tidak mampu memenuhi harapan yang sejak lama berkelindan, kesejahteraan. Jarang sekali terdengar pujian-pujian yang bersumber dari rakyat sendiri. Pujian itu malah datang dari Negara lain yang tidak tahu pasti apa yang sedang kita hadapi. Kesimpulannya, Negara lain menganggap kita maju dan berhasil, sementara kita sendiri merasa gagal dan terbelakang. Aneh, bukan?
Situasi politik di negeri ini juga belum stabil. “Perang” antara KPK dan Polri, kongkalikong di tubuh DPR, kecurangan-kecurangan yang dilakoni panitia KPU, dan massifnya kasus korupsi  yang melibatkan sebagian besar elite partai Demokrat, sempat menjadikan kita mengutuk negeri sendiri. Pujian yang disematkan kepada presiden kita seolah hanya kamuflase belaka, hanya pencitraan bagi seseorang saja. Sementara rakyat dibiarkan menderita. Memang, situasi ini masih lebih baik bila kita bandingkan dengan situasi yang dihadapi Negara Timur Tengah; Mesir yang tengah mengalami krisis politik, Palestina-Israel yang terus berseteru dan menanggalkan perdamaian, serta Suriah yang rakyatnya saling berperang. Tetapi walau bagaimanapun, perbandingan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk berhenti mengentaskan problem akut negeri ini. Uluran perhatian pemerintah tetap amat dibutuhkan dalam situasi begini.
Masih soal korupsi, ada kabar yang sempat membuat saya tercengang setelah membaca harian Kompas edisi Rabu, 5 Desember 2012. Di sana diberitakan bahwa setelah dikalkulasi, jumlah uang yang dirampok pejabat dari tahun 2004 hingga 2011 adalah 39,3 triliun dengan 1.408 kasus korupsi. Siapa yang tidak kaget kalau begitu? Uang yang tidak sedikit itu jika digunakan untuk kepentingan rakyat tentu saja akan lebih meringankan problem mereka. Masyarakat akar rumput yang berekonomi lemah terpaksa bersimbah air mata sebab mencari pengganjal perut, gara-gara ulah pejabat yang telah merampas hak mereka itu. Saya selalu bertanya-tanya dengan nada pesimis, mampukah penegak hukum membumi-hanguskan koruptor yang sangat bandel dari negeri tercinta ini? Kita tunggu saja buktinya.                                     
Salah satu alasan kenapa Indonesia belum menemukan penerangan dan kesejahteraan adalah krisis kepemimpinan. Jika ditanya tentang siapakah pemimpin Indonesia yang patut diteladani, pasti jawaban yang disebutkan adalah pemimpin-pemimpin tempo dulu: ya Soekarno, ya Hatta, atau Tan Malaka. Jajak pendapat yang dilakukan Kompas kemarin pernah menyajikan suara rakyat tentang siapa pemimpin Indonesia saat ini yang patut diteladani. Jawaban yang mendominasi adalah tidak ada. Ada pula sebagian yang menyebut-nyebut nama SBY, Jokowi, dan Dahlan Iskan.  Tapi itu tidak seberapa. Dan ini artinya kepercayaan rakyat pada pemimpin semakin memudar, atau bisa jadi tidak ada sama sekali.
Andai saja pemimpin kita bisa meneladani sosok Sukrasana, tentu negeri ini akan damai sentosa. Sukrasana adalah tokoh utama dalam pewayangan yang buruk secara fisik tapi berwatak mulia dan ksatria. Ia adalah konfigurasi dari substansi dan esensi manusia. Cita-citanya bukanlah untuk meraup keuntungan materi di balik kedudukan yang ditempati. Satu-satunya pamrih yang ada dalam dirinya adalah cita-cita untuk membawa kemaslahatan bagi banyak orang, bukan untuk mengejar pencitraan.  
Sukrasana adalah monumen kesetiaan dan integritas yang menjadi rujukan kolektif. Ia berpikir bahwa dirinya tak lebih sebagai “utusan” Tuhan yang dititahkan untuk membawa kemaslahatan dan mewujudkan nilai ideal kehidupan. Bukan seperti pemimpin umumnya, Sukrasana tidak butuh artifisialitas dan tidak pula bermental kemaruk. Niatnya sebagai pemimpin benar-benar murni untuk menolong kehidupan masyarakat dunia.
Di Indonesia, meski sulit mencari pemimpin bermental Sukrasana, namun bukan berarti menafikannya sama sekali. Tugas seluruh elemen bangsa ini adalah menguatkan sinergisitas dengan bekerja sama mewujudkan pemimpin “Sukrasana”. Salah satu langkahnya adalah memilih pemimpin yang tepat dalam kontestasi Pemilu 2014, karena di tangan pemimpinlah masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Tentu kita tidak menginginkan pemimpin kita bermental kapital dan berjiwa makelar kekuasaan.
Terakhir, saya menyadari bahwa saya tak pantas berbicara panjang lebar tentang hiruk-pikuk politik negeri ini, karena saya memang tidak tahu apa-apa tentang itu. Terlebih, ini bukan bidang saya. Saya hanya ingin berbagi ketika beberapa kali dibuat kecewa oleh pemberitaan media massa. Dengan berbagi, saya bisa sedikit lega. Biarlah semua orang tahu bahwa ada sebagian orang yang bangga dan sebagian besar kecewa dengan kerja pejabat kita. Biarlah mereka tahu bahwa Negara lain tengah memuji kita, sementara kita sendiri menderita. Jangan bangga dulu, Pak Presiden! Lihatlah rakyatmu…


Guluk-guluk, 10 Desember 2012