Halaman

Rabu, 24 April 2013



“Kegenitan” Intelektual

Sore itu, saya dan teman-teman FLP Latee II mendatangi kediaman salah satu pengasuh Annuqayah untuk mengikuti kegiatan FLP berupa Bookholic. Secara umum, istilah bookholic sering digunakan untuk orang yang mencintai buku. Maka kegiatan ini bisa dikatakan sebagai komunitas sekumpulan orang yang mencintai buku. Setiap anggota FLP, dalam kegiatan ini, diwajibkan membaca minimal satu buku, baik fiksi maupun non-fiksi, setiap minggunya untuk kemudian dipresentasikan di depan pembimbing. Usai melakukan presentasi, sesi berikutnya, peserta yang lain berhak angkat suara untuk menyanggah, mengkritisi, menguatkan, atau membenarkan  hasil presentasi tadi.  
            Kamis, di putaran kalender 21 Maret 2013, saya menemukan hal menarik saat menghadiri kegiatan Bookholic itu. Apa menariknya? Saya menemukan istilah baru sebagaimana yang sudah dijadikan judul tulisan ini. Kali pertama saya mengikuti kegiatan Bookholic ini, tiba-tiba saya ditunjuk oleh pembimbing untuk menyampaikan isi buku yang saya baca. Untung saja saya membawa buku yang telah saya baca—walaupun tidak keseluruhan—untuk dibagikan pengetahuannya. Buku berjudul Sekolah dalam Himpitan Google dan Bimbel buah tangan salah seorang pengasuh muda Annuqayah, K. M. Mushthafa, telah membuat saya percaya diri untuk berbagi wawasan dan pengetahuan dengan teman-teman yang lain.
            Karena mutu buku tersebut—menurut saya—bagus, saya kemudian jadi bergairah untuk menyampaikan secara oral pembahasan apa saja yang termuat dalam buku tersebut. Lebih tepatnya, saya menyampaikan salah satu tulisan berjudul Tradisi Membaca di Kalangan Masyarakat Madura: Antara Kemiskinan, Peran Pesantren, dan Komunitas Ilmiah yang Rapuh. Bagi saya, tema semacam ini selalu hangat dan menarik didiskusikan. Sebab saya yakin, persoalan membaca dan menulis yang tampak sekarat di Indonesia pada umumnya dan di Madura pada khususnya selalu mengundang pro-kontra. Titik kontroversi dari hal itu biasanya tak jauh dari seputar siapa yang harus bertanggung jawab dalam problem akut ini.  
            Namun, di ruang ini, saya tidak ingin bicara panjang lebar mengenai itu. Isu tersebut sudah mempunyai ruang tersendiri untuk diperdebatkan. Sesuai dengan judul tulisan ini, saya hanya ingin mentransformasikan apa yang saya dapat dari hasil dialog saya dengan pembimbing setelah saya memaparkan isi tulisan dalam buku tersebut.
            Setelah saya membahas cukup lama, lalu pembimbing menyinggung perihal “kegenitan” intelektual di tengah tanggapannya terhadap hasil presentasi saya. “Kegenitan” intelektual? Memang janggal kedengarannya. Baru kali ini istilah tersebut saya dengar. Yang saya tahu sebelumnya, kata “genit” lumrah dilekatkan pada prilaku seseorang. Lalu kenapa pembimbing saya itu lebih memilih “kegenitan” sebelum kata “intelektual”? Kenapa bukan kosakata lain yang lebih relevan? Dalam perenungan yang lama, saya pikir pemilihan kata genit tersebut  ada benarnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata genit diartikan bergaya-gaya (tingkah lakunya), banyak tingkahnya, dan liar. Kalau diasosiasikan dengan kata intelektual tadi, “kegenitan” intelektual dapat berarti berpikir liar, keterlaluan, berlebihan, dan di luar batas. Atau bisa juga didefinisikan sebagai cara berpikir yang dangkal akibat dari pemahaman yang tidak komprehensif atau separuh-separuh. “Kegenitan” intelektual ini bisa saja dimiliki oleh tiap person. Masing-masing orang berpotensi untuk melakukan hal demikian.  
Sudah sering kita temui beberapa orang (kebanyakan?) dengan pengetahuan yang dimilikinya berlagak seperti orang yang “pamer” wawasan. Kehidupan global yang makin berkembang ini meniscayakan tumbuhnya pengetahuan-pengetahuan baru yang progresif. Hal ini, pada kesempatan berikutnya, akan membuat banyak orang latah lalu berkompetisi untuk menguasai pengetahuan tersebut tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu efek apa yang akan ditimbulkan dari pengetahuan (ilmu) tersebut. Sebab, memiliki pengetahuan baru yang dialektis membuat mereka merasa prestise intelektualnya naik satu tingkat. Dan ini, bagi kebanyakan orang, merupakan suatu kebanggaan.
Maka lumrah jadinya bila ada seseorang di depan orang lain mentransformasikan secara verbal wawasan baru yang dimilikinya dengan cara yang pongah, seolah mereka mengantongi secara penuh pengetahuan yang dibagikannya tersebut. Padahal hakikatnya apa yang telah mereka sampaikan tak lebih dari sekedar permukaannya saja. Maksud saya, ilmu yang mereka dapatkan hanya setengah-setengah, belum mendalam, meluas, dan holistik. Analoginya begini, ada orang yang ingin mengetahui laut tetapi hanya memperhatikannya dari bibir pantai saja. Maka yang ia tahu, laut itu ya hanya air. Padahal, kalau saja berusaha menyelaminya lebih dalam, tentu ia akan menemukan jawaban bahwa laut itu tak sekedar air. Laut adalah fenomena alam yang di dalamnya menyimpan kekayaan berupa permata, terumbu karang, berbagai macam jenis ikan, rumput laut, dan lain sebagainya.
Dengan pengetahuan yang ala kadarnya, orang yang terjangkit virus “kegenitan” intelektual kerap kali memproduksi logikanya dengan nalar yang keliru dan salah kaprah. Pemahaman yang destruktif sekaligus distortif dalam wilayah ini sangat mendominasi. Akibatnya, pengetahuan tersebut memungkinkan untuk mengancam stabilitas intelektual mereka sendiri dan tak luput juga orang lain. Dikatakan mengancam, sebab pemahaman mereka yang parsial melahirkan sikap melebih-lebihkan persepsi yang nantinya akan berujung pada tindakan dan prilaku yang salah pula. Jelas ini berbahaya.  
Orang yang biasa berpikir dengan berlebihan dan bebas (memelihara “kegenitan” intelektual) sering mendapatkan stereotipe liberal, ekstrem, dan sebutan-sebutan buruk lainnya. Paradigma yang mereka munculkan selalu jauh dari pemahaman yang sebenarnya. Sekali lagi, ini karena faktor pemahaman mereka yang hanya menyentuh kulit luarnya saja. Mereka boleh saja merasa bangga. Namun orang lain akan menetap mereka dengan tatapan yang sinis.
Orang yang merasa tertarik untuk menguasai pengetahuan dan wawasan baru memang patut diacungi jempol. Hal demikian memang perlu. Selain agar kita update pengetahuan, kita juga tidak gampang dikelabuhi orang. Artinya, orang yang memiliki pengetahuan pasti bisa menyelamatkan diri dari perangkap orang lain yang berniat buruk terhadapnya karena ia sudah punya ilmunya. Tetapi yang perlu digarisbawahi, menggali pengetahuan itu jangan dangkal-dangkal. Sekali basah, langsung mandi saja. Kalau hanya setengah-setengah, mending jangan saja agar tidak menimbulkan riskan bagi dirinya dan orang lain.
Sebagai penutup, akhirnya saya berharap semoga kita tak sedikitpun berkeinginan untuk melakukan “kegenitan”  intelektual yang riskan. []
Guluk-Guluk, 24 Maret 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar