“Kegenitan” Intelektual
Sore itu, saya dan teman-teman FLP Latee II
mendatangi kediaman salah satu pengasuh Annuqayah untuk mengikuti kegiatan FLP
berupa Bookholic. Secara umum, istilah bookholic sering digunakan
untuk orang yang mencintai buku. Maka kegiatan ini bisa dikatakan sebagai
komunitas sekumpulan orang yang mencintai buku. Setiap anggota FLP, dalam
kegiatan ini, diwajibkan membaca minimal satu buku, baik fiksi maupun
non-fiksi, setiap minggunya untuk kemudian dipresentasikan di depan pembimbing.
Usai melakukan presentasi, sesi berikutnya, peserta yang lain berhak angkat
suara untuk menyanggah, mengkritisi, menguatkan, atau membenarkan hasil presentasi tadi.
Kamis, di putaran kalender 21 Maret
2013, saya menemukan hal menarik saat menghadiri kegiatan Bookholic itu.
Apa menariknya? Saya menemukan istilah baru sebagaimana yang sudah dijadikan
judul tulisan ini. Kali pertama saya mengikuti kegiatan Bookholic ini,
tiba-tiba saya ditunjuk oleh pembimbing untuk menyampaikan isi buku yang saya
baca. Untung saja saya membawa buku yang telah saya baca—walaupun tidak
keseluruhan—untuk dibagikan pengetahuannya. Buku berjudul Sekolah dalam Himpitan
Google dan Bimbel buah tangan salah seorang pengasuh muda Annuqayah, K. M.
Mushthafa, telah membuat saya percaya diri untuk berbagi wawasan dan
pengetahuan dengan teman-teman yang lain.
Karena mutu buku tersebut—menurut
saya—bagus, saya kemudian jadi bergairah untuk menyampaikan secara oral pembahasan
apa saja yang termuat dalam buku tersebut. Lebih tepatnya, saya menyampaikan
salah satu tulisan berjudul Tradisi Membaca di Kalangan Masyarakat Madura:
Antara Kemiskinan, Peran Pesantren, dan Komunitas Ilmiah yang Rapuh. Bagi
saya, tema semacam ini selalu hangat dan menarik didiskusikan. Sebab saya
yakin, persoalan membaca dan menulis yang tampak sekarat di Indonesia pada
umumnya dan di Madura pada khususnya selalu mengundang pro-kontra. Titik
kontroversi dari hal itu biasanya tak jauh dari seputar siapa yang harus
bertanggung jawab dalam problem akut ini.
Namun, di ruang ini, saya tidak
ingin bicara panjang lebar mengenai itu. Isu tersebut sudah mempunyai ruang
tersendiri untuk diperdebatkan. Sesuai dengan judul tulisan ini, saya hanya
ingin mentransformasikan apa yang saya dapat dari hasil dialog saya dengan
pembimbing setelah saya memaparkan isi tulisan dalam buku tersebut.
Setelah saya membahas cukup lama, lalu
pembimbing menyinggung perihal “kegenitan” intelektual di tengah tanggapannya
terhadap hasil presentasi saya. “Kegenitan” intelektual? Memang janggal
kedengarannya. Baru kali ini istilah tersebut saya dengar. Yang saya tahu
sebelumnya, kata “genit” lumrah dilekatkan pada prilaku seseorang. Lalu kenapa pembimbing
saya itu lebih memilih “kegenitan” sebelum kata “intelektual”? Kenapa bukan kosakata
lain yang lebih relevan? Dalam perenungan yang lama, saya pikir pemilihan kata
genit tersebut ada benarnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata
genit diartikan bergaya-gaya (tingkah lakunya), banyak tingkahnya, dan liar. Kalau
diasosiasikan dengan kata intelektual tadi, “kegenitan” intelektual dapat
berarti berpikir liar, keterlaluan, berlebihan, dan di luar batas. Atau bisa
juga didefinisikan sebagai cara berpikir yang dangkal akibat dari pemahaman yang
tidak komprehensif atau separuh-separuh. “Kegenitan” intelektual ini bisa saja dimiliki
oleh tiap person. Masing-masing orang berpotensi untuk melakukan hal demikian.
Sudah sering kita temui beberapa orang (kebanyakan?)
dengan pengetahuan yang dimilikinya berlagak seperti orang yang “pamer”
wawasan. Kehidupan global yang makin berkembang ini meniscayakan tumbuhnya
pengetahuan-pengetahuan baru yang progresif. Hal ini, pada kesempatan
berikutnya, akan membuat banyak orang latah lalu berkompetisi untuk menguasai
pengetahuan tersebut tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu efek apa yang akan
ditimbulkan dari pengetahuan (ilmu) tersebut. Sebab, memiliki pengetahuan baru
yang dialektis membuat mereka merasa prestise intelektualnya naik satu tingkat.
Dan ini, bagi kebanyakan orang, merupakan suatu kebanggaan.
Maka lumrah jadinya bila ada seseorang di depan
orang lain mentransformasikan secara verbal wawasan baru yang dimilikinya
dengan cara yang pongah, seolah mereka mengantongi secara penuh pengetahuan yang
dibagikannya tersebut. Padahal hakikatnya apa yang telah mereka sampaikan tak
lebih dari sekedar permukaannya saja. Maksud saya, ilmu yang mereka dapatkan
hanya setengah-setengah, belum mendalam, meluas, dan holistik. Analoginya
begini, ada orang yang ingin mengetahui laut tetapi hanya memperhatikannya dari
bibir pantai saja. Maka yang ia tahu, laut itu ya hanya air. Padahal, kalau
saja berusaha menyelaminya lebih dalam, tentu ia akan menemukan jawaban bahwa laut
itu tak sekedar air. Laut adalah fenomena alam yang di dalamnya menyimpan
kekayaan berupa permata, terumbu karang, berbagai macam jenis ikan, rumput
laut, dan lain sebagainya.
Dengan pengetahuan yang ala kadarnya, orang
yang terjangkit virus “kegenitan” intelektual kerap kali memproduksi logikanya
dengan nalar yang keliru dan salah kaprah. Pemahaman yang destruktif sekaligus
distortif dalam wilayah ini sangat mendominasi. Akibatnya, pengetahuan tersebut
memungkinkan untuk mengancam stabilitas intelektual mereka sendiri dan tak
luput juga orang lain. Dikatakan mengancam, sebab pemahaman mereka yang parsial
melahirkan sikap melebih-lebihkan persepsi yang nantinya akan berujung pada tindakan
dan prilaku yang salah pula. Jelas ini berbahaya.
Orang yang biasa berpikir dengan berlebihan dan
bebas (memelihara “kegenitan” intelektual) sering mendapatkan stereotipe
liberal, ekstrem, dan sebutan-sebutan buruk lainnya. Paradigma yang mereka
munculkan selalu jauh dari pemahaman yang sebenarnya. Sekali lagi, ini karena faktor
pemahaman mereka yang hanya menyentuh kulit luarnya saja. Mereka boleh saja
merasa bangga. Namun orang lain akan menetap mereka dengan tatapan yang sinis.
Orang yang merasa tertarik untuk menguasai
pengetahuan dan wawasan baru memang patut diacungi jempol. Hal demikian memang perlu.
Selain agar kita update pengetahuan, kita juga tidak gampang dikelabuhi
orang. Artinya, orang yang memiliki pengetahuan pasti bisa menyelamatkan diri
dari perangkap orang lain yang berniat buruk terhadapnya karena ia sudah punya
ilmunya. Tetapi yang perlu digarisbawahi, menggali pengetahuan itu jangan dangkal-dangkal.
Sekali basah, langsung mandi saja. Kalau hanya setengah-setengah, mending
jangan saja agar tidak menimbulkan riskan bagi dirinya dan orang lain.
Sebagai penutup, akhirnya saya berharap semoga kita
tak sedikitpun berkeinginan untuk melakukan “kegenitan” intelektual yang riskan. []
Guluk-Guluk,
24 Maret 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar