Air
Sumur dan Air Kemasan
Air adalah sumber kehidupan. Ia menjadi awal pembentuk
semesta. Allah menjadikan dunia dengan air sebagai sumber dasarnya, wa
ja’alnaaha min kulli syai’in hayy (al-ayat). Melalui air, kita bisa
melihat panorama yang hijau, sungai yang mengalir, telaga yang jernih, dan
lautan yang luas. Sungguh ini kenikmatan yang luar biasa. Kita mesti bisa
memanfaatkannya dengan baik dan seksama.
Namun, apa yang akan saya bicarakan di sini bukan soal
manfaat air tadi. Sederhana saja, saya hanya tertarik dengan pertanyaan seorang
ustadz waktu saya ikut bimbingan kitabiyah di kelas mumtaz. Beliau
bertanya begini, “apa bedanya air sumur dan air kemasan?” bagi kita, tentu
pertanyaan ini mudah sekali dijawab. Salah
satu dari kami angkat suara, “air sumur itu belum steril, sedangkan air kemasan
steril karena sudah melalui tahapan ujian dari para pakar,” katanya tegas.
“Benar juga. Tetapi yang paling benar, air kemasan
dikemas dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan air sumur tidak dikemas dengan ilmu
pengetahuan.” Jawaban ini menggugah saya untuk berpikir lebih jauh tentang apa sebenarnya
makna tersirat yang ingin disampaikan beliau. Benar memang, air sumur dan air
kemasan beda dalam hal kemasan. Lalu apa menariknya dari jawaban itu?
Ternyata, beliau ingin menyampaikan bahwa dengan kemasan
ilmu pengetahuan nilai tawar kita lebih mahal. Diibaratkan dengan air sumur dan
air kemasan tadi, tentu kita tidak mau membeli air sumur satu ember kendatipun
seharga seribu. Beda lagi ketika ditawarkan air kemasan, kita pasti akan
tertarik membelinya walaupun harganya dua ribu. Kenapa? Karena ilmu
pengetahuan. Nah, ilmu pengetahuan inilah yang memberi dampak begitu
signifikan bagi pemiliknya.
Ustadz itu sebetulnya ingin memberi stimulasi pada kami
agar terus belajar tanpa jeda. Dengan memberi analogi konkrit, beliau
membedakan orang yang berpengetahuan dan yang tidak. Lebih jauh, al-Quran telah
menyinggung tentang hal ini, hal yastawil ladzina ya’lamuuna wa alladzina la
ya’lamuun. Redaksi ayat yang berupa pertanyaan ini sejatinya bukan
dimaksudkan sebagai tanya yang butuh jawab. Pertanyaan ini merupakan pernyataan
bahwasanya ada perbedaan mendasar antara orang pintar dan orang bodoh.
Pengetahuan membuat orang berpikir secara rasional dan
kontekstual. Budaya dan tradisi tanpa pengetahuan tak hanya menciptakan
kemandekan berpikir dan kemunduran, tetapi juga menenggelamkan jiwa dan
meninabobokan kesadaran. (Kompas, 2 Desember 2012). Titah agama untuk para
penganutnya agar mencari ilmu sebanyak-banyaknya tentu dirasakan manfaatnya.
Semakin berpengetahuan, seseorang akan semakin mudah menjalani hidup, sebab ia
lebih siap menghadapi tantangan hidup ke depan dan lebih mudah menyelesaikan
tiap persoalan.
Kita yang katakanlah dikemas dengan ilmu pengetahuan berbeda
dengan mereka yang tidak berpengetahuan. Ilmu yang kita miliki akan menjadi
cahaya dalam gulita dunia yang banal. Agama dan negara butuh orang-orang yang
berpengetahuan sebagai pengendalinya. Orang berpengetahuan yang dimaksud
bukanlah mereka yang cerdik mengelabuhi orang lain dengan menggunakan ilmu
sebagai senjatanya, seperti yang biasa kita lihat pada jajaran birokrat di
negeri ini. Melainkan, mereka yang mangakumulasi ilmu lalu mengimplementasikannya
dalam kehidupan nyata.
Annuqayah,
2 Desember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar