Halaman

Minggu, 09 Desember 2012


Air  Sumur dan Air Kemasan
Air adalah sumber kehidupan. Ia menjadi awal pembentuk semesta. Allah menjadikan dunia dengan air sebagai sumber dasarnya, wa ja’alnaaha min kulli syai’in hayy (al-ayat). Melalui air, kita bisa melihat panorama yang hijau, sungai yang mengalir, telaga yang jernih, dan lautan yang luas. Sungguh ini kenikmatan yang luar biasa. Kita mesti bisa memanfaatkannya dengan baik dan seksama.
Namun, apa yang akan saya bicarakan di sini bukan soal manfaat air tadi. Sederhana saja, saya hanya tertarik dengan pertanyaan seorang ustadz waktu saya ikut bimbingan kitabiyah di kelas mumtaz. Beliau bertanya begini, “apa bedanya air sumur dan air kemasan?” bagi kita, tentu pertanyaan ini mudah sekali dijawab.  Salah satu dari kami angkat suara, “air sumur itu belum steril, sedangkan air kemasan steril karena sudah melalui tahapan ujian dari para pakar,” katanya tegas.
“Benar juga. Tetapi yang paling benar, air kemasan dikemas dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan air sumur tidak dikemas dengan ilmu pengetahuan.” Jawaban ini menggugah saya untuk berpikir lebih jauh tentang apa sebenarnya makna tersirat yang ingin disampaikan beliau. Benar memang, air sumur dan air kemasan beda dalam hal kemasan. Lalu apa menariknya dari jawaban itu?
Ternyata, beliau ingin menyampaikan bahwa dengan kemasan ilmu pengetahuan nilai tawar kita lebih mahal. Diibaratkan dengan air sumur dan air kemasan tadi, tentu kita tidak mau membeli air sumur satu ember kendatipun seharga seribu. Beda lagi ketika ditawarkan air kemasan, kita pasti akan tertarik membelinya walaupun harganya dua ribu. Kenapa? Karena ilmu pengetahuan. Nah, ilmu pengetahuan inilah yang memberi dampak begitu signifikan bagi pemiliknya.  
Ustadz itu sebetulnya ingin memberi stimulasi pada kami agar terus belajar tanpa jeda. Dengan memberi analogi konkrit, beliau membedakan orang yang berpengetahuan dan yang tidak. Lebih jauh, al-Quran telah menyinggung tentang hal ini, hal yastawil ladzina ya’lamuuna wa alladzina la ya’lamuun. Redaksi ayat yang berupa pertanyaan ini sejatinya bukan dimaksudkan sebagai tanya yang butuh jawab. Pertanyaan ini merupakan pernyataan bahwasanya ada perbedaan mendasar antara orang pintar dan orang bodoh.
Pengetahuan membuat orang berpikir secara rasional dan kontekstual. Budaya dan tradisi tanpa pengetahuan tak hanya menciptakan kemandekan berpikir dan kemunduran, tetapi juga menenggelamkan jiwa dan meninabobokan kesadaran. (Kompas, 2 Desember 2012). Titah agama untuk para penganutnya agar mencari ilmu sebanyak-banyaknya tentu dirasakan manfaatnya. Semakin berpengetahuan, seseorang akan semakin mudah menjalani hidup, sebab ia lebih siap menghadapi tantangan hidup ke depan dan lebih mudah menyelesaikan tiap persoalan.
Kita yang katakanlah dikemas dengan ilmu pengetahuan berbeda dengan mereka yang tidak berpengetahuan. Ilmu yang kita miliki akan menjadi cahaya dalam gulita dunia yang banal. Agama dan negara butuh orang-orang yang berpengetahuan sebagai pengendalinya. Orang berpengetahuan yang dimaksud bukanlah mereka yang cerdik mengelabuhi orang lain dengan menggunakan ilmu sebagai senjatanya, seperti yang biasa kita lihat pada jajaran birokrat di negeri ini. Melainkan, mereka yang mangakumulasi ilmu lalu mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata.

Annuqayah, 2 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar