Halaman

Minggu, 25 November 2012


Tradisional yang Modern
Berada di zaman modern seperti saat ini, tentu semua orang tidak mau disebut katrok, udik, jadul atau sebutan lain yang cenderung konservatif. Mereka akan mengikuti kemana arus zaman ini berjalan agar tidak mudah ketinggalan. Gaya hidup pun akan berubah secara revolutif, mulai dari penggunaan gadget, cara berpakaian, menu makanan, kendaraan, tempat hunian dan lain sebagainya. Sejak inilah semua kebutuhan manusia modern terasa mudah didapatkan tanpa repot-repot menghabiskan tenaga dan waktu yang banyak.
Namun, kebanyakan orang menilai modernitas secara simplifikatif. Bisa jadi sesuatu disebut modern karena itu konkrit dan tidak disebut modern karena itu abstrak. Padahal, terkadang tidak demikian sesungguhnya. Seringkali kita mudah mengklaim orang itu modern ketika berpakain necis padahal bisa jadi pola pikirnya tradisionalis. Sebaliknya, orang yang bersarung cenderung dikatakan tradisional padahal secara akal sangat rasional. Jadi, modern tidaknya seseorang tidak bisa dinilai sesederhana begitu.
Orang desa kerap dikatakan tradisional dan masyarakat urban disebut modern berdasarkan penilaian yang konkrit. Padahal kalau mau jujur, pemikiran orang desa kadang jauh lebih progresif dan modern daripada orang kota. Pakaian dan tempat tinggal yang sederhana tidak lantas mengindikasikan seseorang jauh dari modernitas dalam pengertiannya yang universal. Justru modern yang abstrak itulah yang kadang menyelamatkan. Lalu sekarang terserah kita, mau pilih tradisional yang modern atau modern yang tradisional?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar