Halaman

Jumat, 30 November 2012


Melankolis-Phlegmatis
Masing-masing orang memiliki kepribadian unik yang berbeda-beda. Perbedaan itu diyakini sebagai anugerah yang Tuhan beri agar manusia bisa saling melengkapi. Kalau sama, tentu saja tidak ada yang istimewa. Kesannya, biasa-biasa saja. Berjalan secara stagnan dan monoton. Dan pada akhirnya, tumbuhlah kebosanan. Perbedaan karakter dan kepribadian setiap orang menjadikan perjalanan hidup ini lebih berwarna dan bermakna. Kekurangan yang dimiliki seseorang, bisa ditutupi dengan kelebihan yang orang lain miliki. Demikian seterusnya hingga manusia bisa “melepas” keterbatasan dan kekurangannya dengan bergantung pada orang lain.
Berbicara kepribadian, saya teringat  waktu dimana saya masih duduk di bangku kelas XII Madrasah Aliyah Keagamaan (SLTA). Ketika itu, guru bahasa Indonesia, Zubaidi Mukhtar, memperkenalkan jenis-jenis kepribadian yang orang miliki. Buku Personality Plus karya Florence Littauer yang baru saja beliau baca mengajak hatinya untuk berbagi pengetahuan itu dengan kami, katanya. Lalu beliau menyebut macam-macam kepribadian yang begitu asing di telinga saya. Phlegmatis, Melankolis, Koleris, dan Sanguinis adalah istilah-istilah yang beliau sebutkan waktu itu.
Saya jadi bertanya-tanya, kenapa Pak Zubed –panggilan khas Zubaidi Mukhtar- tiba-tiba berbicara penjang lebar mengenai kepribadian dan lebih memilih meninggalkan materi pelajaran? Saya penasaran. Namun akhirnya, tanya itu terjawab setelah beberapa menit beliau menyampaikan definisi istilah-istilah yang saya sebut tadi. “Mengenali kepribadian kita itu sangat penting. Selain untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang kita miliki, kita juga bisa tahu apa kelebihan yang mungkin belum kita sadari. Dengan begitu, kita tidak selalu menyesali dan mengutuk diri karena kekurangan-kekuranga itu, tapi juga bisa mengapresiasi diri sehingga lebih optimis menjalani hidup ini,” ungkapnya dengan bijaksana.
Ya, apa yang beliau sampaikan benar, mengenali kepribadian diri itu sangat penting. Seringkali kita hanya melihat kekurangan-kekurangan yang melekat pada diri kita dan melupakan kelebihan yang kita miliki. Wajar kemudian jika kebanyakan orang seringkali lupa bersyukur dan malah menyalahkan Tuhan. Puncaknya, kita selalu menyesali dan mengutuk diri dan sama sekali tidak mengapresiasi diri. Padahal, tindakan yang demikian semakin menjadikan kita kerdil dan menjadikan potensi semakin tenggelam. Apresiasi diri itu butuh, lho…  
Setelah itu, pak Zubed memberi kami dua lembar kertas berisi sejumlah soal ganda tentang beberapa hal terkait minat, kesukaan, kemampuan, dan lain-lain. Untuk mengenali kepribadian yang sesungguhnya, beliau menghimbau kami agar  menjawab pertanyaan itu dengan jujur. Setiap jawaban memiliki skor masing-masing untuk kemudian dijumlah guna mengetahui kepribadian apa yang kita miliki. Saya lupa, tiap-tiap jenis kepribadian skornya berapa. Mulailah saat itu teman-teman menfokuskan diri untuk menjawab pertanyaan yang tidak begitu sulit itu. Beberapa menit, suasana kelas terasa hening.
Menit berlalu,  instruksi selanjutnya, kami mesti menjumlah skor yang terdapat dalam jawaban yang kami contreng. Setelah dijumlah keseluruhan, barulah kemudian diketahui apa jenis kepribadian yang kita miliki. Dan…. Ajaib! Jenis kepribadian yang teman-teman miliki setelah menjumlah skor itu hampir keseluruhan sesuai dengan kenyataan yang ada. Pak Zubed kemudian menanyakan salah seorang dari kami untuk menyebut jenis kepribadiannya. Setelah itu, spontan beliau menyebutkan kebiasaan yang sering dia lakukan, bagaimana karakternya, apa yang tidak disukainya, apa kelebihannya, apa kelemahannya, apa minatnya, dan lain sebagainya. Dan itu benar. Haah, untung saja saya tidak diramal waktu itu. Lega, aman. He he he…
Kenapa saya katakan sesuai? Sebut saja misalnya Raudhatul Jannah, teman sebangku saya, yang menurut skor berkepribadian Phlegmatis. Ternyata, itu betul. Dia memang pendiam, damai, tenang, rileks, terkendali, dan tidak terlalu reaktif menghadapi masalah. Beda lagi dengan Sab’atul Qamariyah yang katanya berkepribadian Koleris. Sosok ini memang begitu ambisius, sekali berkeinginan, harus tercapai. Bahkan ia ingin meraih bintang yang berada di luar jangkauannya. Benar kan, Mar?
Lalu, Qurratul Aini dan Nur Hasanatul Hafshaniyah, dua “rival” saya ini berkepribadian Melankolis setelah menjumlah skor jawabannya. Kalau dipikir-pikir, tampaknya iya. Mereka memang memiliki kemampuan analisa yang tajam, berbakat, serius, tekun, jenius, penuh pertimbangan sebelum bertindak, perfeksionis-standar tinggi, ideal, dan terorganisasi. Jelas berbeda dengan Muthmainnah Zaini yang Sanguinis. Teman yang paling kocak di kelas ini benar-benar pelipur lara. Suka bercerita, mudah berteman, menyenangkan, penuh rasa ingin tahu, antusias, ekspresif, memukau pendengar, lugu, dan polos adalah beberapa ciri orang Sanguinis. Coba saja tanyakan pada teman sekelas saya, siapa siswa di kelas yang ceriwis dan suka menghibur? Iin, kali ya. Hehe… tentunya tidak bosan berteman dengan orang macam ini. Berada di sampingnya, membuat orang tidak bisa menghentikan tawa. Peace, In. J
Selain kelebihan, empat jenis kepribadian itu juga memiliki kelemahan masing-masing. Phlegmatis yang damai biasanya tidak memiliki rasa antusiasme yang tinggi, pemalas, suka menunda-nunda waktu, sulit mengungkapkan perasaan, tidak berpendirian, perlu didorong untuk bertindak, dan melawan perubahan (konservatif). Lalu, Melankolis yang sempurna kerapkali tertekan ketika mendapatkan masalah, sentimen, merendahkan diri, suka menunda-nunda karena terlalu banyak pertimbangan, mengajukan tuntutan yang tidak realistis kepada orang lain (over perfeksionis), dan mudah sakit hati.
Beda dengan dua jenis kepribadian itu, kekurangan Koleris yang kuat adalah pekerja keras yang tidak santai, tidak terkendali, manipulatif, tidak tahu bagaimana cara menangani orang lain, merasa paling benar, kurang lunak, sulit mengakui kesalahan, senang berdebat kusir, dan sulit minta maaf. Sedangkan Sanguinis yang populer adalah sosok yang suka berbicara banyak padahal kadang tidak penting, mementingkan diri sendiri, ingatannya tidak tajam, membesar-besarkan kabar, tidak tertib, tidak dewasa, suka menyela pembicaraan dan menjawab untuk orang lain.
Kekurangan yang terdapat pada satu jenis kepribadian sebenarnya bisa ditutupi dan dilengkapi oleh jenis kepribadian yang lain. Sosok Melankolis, misalnya. Sosok yang seringkali merasa tertekan dan terlalu reaktif ini, bisa dikendalikan oleh Phlegmatis yang damai. Sebaliknya, sosok Phlegmatis yang nyaris tidak memiliki semangat dan pemalas bisa dimotivasi oleh Melankolis yang tekun dan memiliki suplai semangat yang berjibun.
Atau Koleris yang kuat, ia bisa bersanding dengan Sanguinis yang populer. Koleris yang pekerja keras dan serius bisa rileks ketika berada di samping Sanguinis. Orang Koleris nyaris tidak punya waktu untuk menghibur diri, ia lebih senang pada hal-hal yang serius. Biar imbang, maka ia butuh Sanguinis. Demikian pula sebaliknya, sanguinis yang terlalu suka pada hiburan, paling tidak bisa memikirkan hal-hal penting dan serius bersama Koleris. Ah, betapa indahnya dunia bila semua orang bisa saling melengkapi.
Setelah melalui tes menjawab soal-soal ganda, ternyata saya berkepribadian Melankolis. Terlepas dari benar-salahnya, saya berharap teman hidup saya kelak adalah Phlegmatis, agar saya merasa tenang dan damai berada di sisinya. Semoga saja!

FLP PP Annuqayah Latee II, 27 November 2012


1 komentar:

  1. haha... khatim mengingatkan sy ke proses awal sy mengenali diri sendiri dan orang lain. tengkyu tim mash menyimpan memori kita d MAK. :)

    BalasHapus