Melankolis-Phlegmatis
Masing-masing
orang memiliki kepribadian unik yang berbeda-beda. Perbedaan itu diyakini
sebagai anugerah yang Tuhan beri agar manusia bisa saling melengkapi. Kalau
sama, tentu saja tidak ada yang istimewa. Kesannya, biasa-biasa saja. Berjalan
secara stagnan dan monoton. Dan pada akhirnya, tumbuhlah kebosanan. Perbedaan karakter
dan kepribadian setiap orang menjadikan perjalanan hidup ini lebih berwarna dan
bermakna. Kekurangan yang dimiliki seseorang, bisa ditutupi dengan kelebihan
yang orang lain miliki. Demikian seterusnya hingga manusia bisa “melepas”
keterbatasan dan kekurangannya dengan bergantung pada orang lain.
Berbicara
kepribadian, saya teringat waktu dimana
saya masih duduk di bangku kelas XII Madrasah Aliyah Keagamaan (SLTA). Ketika
itu, guru bahasa Indonesia, Zubaidi Mukhtar, memperkenalkan jenis-jenis
kepribadian yang orang miliki. Buku Personality Plus karya Florence
Littauer yang baru saja beliau baca mengajak hatinya untuk berbagi pengetahuan
itu dengan kami, katanya. Lalu beliau menyebut macam-macam kepribadian yang
begitu asing di telinga saya. Phlegmatis, Melankolis, Koleris, dan Sanguinis adalah
istilah-istilah yang beliau sebutkan waktu itu.
Saya
jadi bertanya-tanya, kenapa Pak Zubed –panggilan khas Zubaidi Mukhtar-
tiba-tiba berbicara penjang lebar mengenai kepribadian dan lebih memilih meninggalkan
materi pelajaran? Saya penasaran. Namun akhirnya, tanya itu terjawab setelah
beberapa menit beliau menyampaikan definisi istilah-istilah yang saya sebut
tadi. “Mengenali kepribadian kita itu sangat penting. Selain untuk mengetahui
kekurangan-kekurangan yang kita miliki, kita juga bisa tahu apa kelebihan yang mungkin
belum kita sadari. Dengan begitu, kita tidak selalu menyesali dan mengutuk diri
karena kekurangan-kekuranga itu, tapi juga bisa mengapresiasi diri sehingga
lebih optimis menjalani hidup ini,” ungkapnya dengan bijaksana.
Ya,
apa yang beliau sampaikan benar, mengenali kepribadian diri itu sangat penting.
Seringkali kita hanya melihat kekurangan-kekurangan yang melekat pada diri kita
dan melupakan kelebihan yang kita miliki. Wajar kemudian jika kebanyakan orang seringkali
lupa bersyukur dan malah menyalahkan Tuhan. Puncaknya, kita selalu menyesali
dan mengutuk diri dan sama sekali tidak mengapresiasi diri. Padahal, tindakan
yang demikian semakin menjadikan kita kerdil dan menjadikan potensi semakin
tenggelam. Apresiasi diri itu butuh, lho…
Setelah
itu, pak Zubed memberi kami dua lembar kertas berisi sejumlah soal ganda tentang
beberapa hal terkait minat, kesukaan, kemampuan, dan lain-lain. Untuk mengenali
kepribadian yang sesungguhnya, beliau menghimbau kami agar menjawab pertanyaan itu dengan jujur. Setiap
jawaban memiliki skor masing-masing untuk kemudian dijumlah guna mengetahui
kepribadian apa yang kita miliki. Saya lupa, tiap-tiap jenis kepribadian
skornya berapa. Mulailah saat itu teman-teman menfokuskan diri untuk menjawab
pertanyaan yang tidak begitu sulit itu. Beberapa menit, suasana kelas terasa hening.
Menit
berlalu, instruksi selanjutnya, kami
mesti menjumlah skor yang terdapat dalam jawaban yang kami contreng. Setelah dijumlah
keseluruhan, barulah kemudian diketahui apa jenis kepribadian yang kita miliki.
Dan…. Ajaib! Jenis kepribadian yang teman-teman miliki setelah menjumlah skor
itu hampir keseluruhan sesuai dengan kenyataan yang ada. Pak Zubed kemudian
menanyakan salah seorang dari kami untuk menyebut jenis kepribadiannya. Setelah
itu, spontan beliau menyebutkan kebiasaan yang sering dia lakukan, bagaimana
karakternya, apa yang tidak disukainya, apa kelebihannya, apa kelemahannya, apa
minatnya, dan lain sebagainya. Dan itu benar. Haah, untung saja saya tidak
diramal waktu itu. Lega, aman. He he he…
Kenapa
saya katakan sesuai? Sebut saja misalnya Raudhatul Jannah, teman sebangku saya,
yang menurut skor berkepribadian Phlegmatis. Ternyata, itu betul. Dia memang
pendiam, damai, tenang, rileks, terkendali, dan tidak terlalu reaktif menghadapi
masalah. Beda lagi dengan Sab’atul Qamariyah yang katanya berkepribadian
Koleris. Sosok ini memang begitu ambisius, sekali berkeinginan, harus tercapai.
Bahkan ia ingin meraih bintang yang berada di luar jangkauannya. Benar kan,
Mar?
Lalu,
Qurratul Aini dan Nur Hasanatul Hafshaniyah, dua “rival” saya ini
berkepribadian Melankolis setelah menjumlah skor jawabannya. Kalau
dipikir-pikir, tampaknya iya. Mereka memang memiliki kemampuan analisa yang
tajam, berbakat, serius, tekun, jenius, penuh pertimbangan sebelum bertindak,
perfeksionis-standar tinggi, ideal, dan terorganisasi. Jelas berbeda dengan
Muthmainnah Zaini yang Sanguinis. Teman yang paling kocak di kelas ini
benar-benar pelipur lara. Suka bercerita, mudah berteman, menyenangkan, penuh
rasa ingin tahu, antusias, ekspresif, memukau pendengar, lugu, dan polos adalah
beberapa ciri orang Sanguinis. Coba saja tanyakan pada teman sekelas saya,
siapa siswa di kelas yang ceriwis dan suka menghibur? Iin, kali ya. Hehe… tentunya
tidak bosan berteman dengan orang macam ini. Berada di sampingnya, membuat
orang tidak bisa menghentikan tawa. Peace, In. J
Selain
kelebihan, empat jenis kepribadian itu juga memiliki kelemahan masing-masing. Phlegmatis
yang damai biasanya tidak memiliki rasa antusiasme yang tinggi, pemalas, suka
menunda-nunda waktu, sulit mengungkapkan perasaan, tidak berpendirian, perlu didorong
untuk bertindak, dan melawan perubahan (konservatif). Lalu, Melankolis yang
sempurna kerapkali tertekan ketika mendapatkan masalah, sentimen, merendahkan
diri, suka menunda-nunda karena terlalu banyak pertimbangan, mengajukan
tuntutan yang tidak realistis kepada orang lain (over perfeksionis), dan mudah
sakit hati.
Beda
dengan dua jenis kepribadian itu, kekurangan Koleris yang kuat adalah pekerja
keras yang tidak santai, tidak terkendali, manipulatif, tidak tahu bagaimana
cara menangani orang lain, merasa paling benar, kurang lunak, sulit mengakui
kesalahan, senang berdebat kusir, dan sulit minta maaf. Sedangkan Sanguinis
yang populer adalah sosok yang suka berbicara banyak padahal kadang tidak
penting, mementingkan diri sendiri, ingatannya tidak tajam, membesar-besarkan
kabar, tidak tertib, tidak dewasa, suka menyela pembicaraan dan menjawab untuk
orang lain.
Kekurangan
yang terdapat pada satu jenis kepribadian sebenarnya bisa ditutupi dan
dilengkapi oleh jenis kepribadian yang lain. Sosok Melankolis, misalnya. Sosok yang
seringkali merasa tertekan dan terlalu reaktif ini, bisa dikendalikan oleh Phlegmatis
yang damai. Sebaliknya, sosok Phlegmatis yang nyaris tidak memiliki semangat dan
pemalas bisa dimotivasi oleh Melankolis yang tekun dan memiliki suplai semangat
yang berjibun.
Atau
Koleris yang kuat, ia bisa bersanding dengan Sanguinis yang populer. Koleris
yang pekerja keras dan serius bisa rileks ketika berada di samping Sanguinis. Orang
Koleris nyaris tidak punya waktu untuk menghibur diri, ia lebih senang pada
hal-hal yang serius. Biar imbang, maka ia butuh Sanguinis. Demikian pula
sebaliknya, sanguinis yang terlalu suka pada hiburan, paling tidak bisa
memikirkan hal-hal penting dan serius bersama Koleris. Ah, betapa indahnya dunia
bila semua orang bisa saling melengkapi.
Setelah
melalui tes menjawab soal-soal ganda, ternyata saya berkepribadian Melankolis.
Terlepas dari benar-salahnya, saya berharap teman hidup saya kelak adalah Phlegmatis,
agar saya merasa tenang dan damai berada di sisinya. Semoga saja!
FLP PP Annuqayah
Latee II, 27 November 2012
haha... khatim mengingatkan sy ke proses awal sy mengenali diri sendiri dan orang lain. tengkyu tim mash menyimpan memori kita d MAK. :)
BalasHapus