FLP, 13
November 2012
Belakangan, saya merasa malas membaca. Serasa, saya sulit
berkonsentrasi. Tiap kali memegang buku, atau paling tidak Koran Harian yang
menjadi langganan teman-teman saya, tidak ada gairah sedikitpun untuk memahami
tulisan yang terdapat dalam buku dan Koran tersebut. Aktifitas rutin yang saya
kerjakan sebagai mahasiswa dan santri juga terasa hambar dan membosankan. Dalam
kondisi begitu, saya merindukan kebebasan berekspresi dan meluapkan segala yang
mengendap di batin ini.
Saya sangat menyadari bahwa waktu yang mengiringi saya terlewati
begitu saja tanpa ada hal yang mendatangkan manfaat. Saya merasa menjadi orang
yang tidak beruntung karena menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Benar, bila
Tuhan bersumpah atas nama waktu “wa al-‘ashr” dalam kitabNya. Karena waktu
memang sangat berharga adanya.
Di sela-sela kondisi yang demikian, Tuhan menginginkan agar saya
tidak terus mendekam dalam kemalasan dan harus segera mengambil tindakan.
Akhirnya, saya putuskan mengambil buku berjudul Tuhan Maha Tahu, tapi Dia
Menunggu yang ditulis oleh Leo Tolstoy di serambi tempat saya berjibaku
dengan sepi.
Nyatanya, saya tak bergairah sama sekali membacanya. Mengingat,
covernya tidak menarik; gelap sekaligus membosankan (cover buku adalah bagian
penilian saya terhadap isi buku). Terlebih, gambar Leo Tolstoy asal Rusia itu
terlihat menyeramkan. Sesangar Fredrich Nietzsche si figur ateis itu. Akhirnya,
saya urungkan niat untuk membaca dan membiarkan buku itu tergeletak begitu
saja.
Tiada rotan akarpun jadi; malas membaca, malas beraktifitas,
akhirnya berimajinasi pun akan menjadi pilihan. Kebiasaan yang sering saya
lakukan kala senggang adalah berimajinasi dengan khayal. Memang terkesan
membuang-buang waktu. Tapi dengan berkhayal, saya mampu menembus sekat ruang
dan waktu yang selama ini membelenggu.
Dalam khayal, saya bisa melihat panjangnya sungai Nil, tingginya
menara Eiffel, atau dalamnya lautan India (eh, bener gak ya?) hanya dalam waktu
yang relatif singkat dan cepat. Bahkan melebihi cepatnya burung Buraq ketika membawa
Nabi melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj. Dalam khayal pula, saya bisa menikmati
surga dengan kekasih tercinta. J
Atau seperti sekarang, saat saya tengah merindukan seseorang, saya bebas
bertemu dengannya, menatap wajahnya, bercengkrama dengannya seraya menanyakan
kabarnya, dan melihat senyumnya, guna melepas rindu yang sedari tadi
berkelindan tanpa siapapun yang melarang. Saya bahagia dan riang. Tapi ini
dalam khayal. Nah, lho? J
Ah, ternyata dunia khayal lebih indah dari dunia riil. Saya lebih bebas
melakukan apa saja sesuai kehendak hati tanpa ada intervensi orang lain, karena
tak seorangpun bisa melarang saya sebab mewujudkan pikiran-pikiran yang saya
mau. Dunia khayal lebih mengerti apa yang saya inginkan. Menyajikan apapun yang
terlintas dalam hati untuk kemudian dikirim ke otak guna divisualisasikan.
Tak ingin berlama-lama dengan khayal, akhirnya saya paksakan diri
untuk membaca buku yang saya abaikan tadi, Tuhan Maha Tahu, tapi Dia
Menunggu karya sastrawan terkemuka pada abad ke-19 asal Rusia. Ternyata,
aktifitas membaca adakalanya harus dipaksa untuk menjadi sebuah hobi yang
menyenangkan. Kalau tidak begitu, tentu seseorang akan tetap lena dalam
kemalasan yang berkelanjutan.
Lembaran demi lembaran saya lewati. Kumpulan cerpen yang ditulis
Tolstoy ini sangat sederhana sehingga pembaca tidak perlu memeras otak untuk sekedar
memahaminya. Saking sederhananya, di setiap awal cerita selalu diawali kalimat
semisal, “di suatu ketika… suatu hari…” layaknya dongeng yang biasa dibacakan seorang
ibu pada anaknya ketika akan tidur. Kisah-kisah realis yang dia sajikan sarat
makna dan beberapa mengandung satire. Cerpen Tuhan Maha Tahu, tapi Dia
Menunggu diceritakan dengan lugas dan dikemas sederhana tanpa mengurangi hikmah
yang akan disampaikan kepada pembaca. Kurang lebih ceritanya begini:
“Suatu ketika, saudagar kaya asal Rusia akan mengadakan
perjalanan keluar kota untuk melihat pasar malam. Sang istri melarangnya karena
sebelumnya memiliki firasat yang kurang baik atas keinginan suaminya itu. Namun,
si suami hanya tertawa dan menganggap lelucon apa yang dikatakan istrinya. Akhirnya,
ia tetap berangkat bersama temannya. Di perjalanan ia terkena musibah. Temannya
dibunuh seseorang yang tidak teridentifikasi. Singkat cerita, dialah yang
akhirnya masuk penjara karena si pembunuh meletakkan pisau berdarah dalam koper
miliknya. 26 tahun ia mendekam di balik terali besi tanpa tahu kabar istri dan
anak-anaknya. Di sana, ia diasingkan, disiksa, dan dipaksa bekerja. Sampai-sampai
di sana ia mendapat julukan “Kakek” dan “Orang Saleh” karena kebijaksanaan yang
dimilikinya. Ada perasaan menyesal, kenapa dulu ia tidak mendengar nasehat
istrinya.
Suatu hari, ada tawanan baru yang ternyata
pembunuh temannya dahulu. Ada rasa empati di hati si pembunuh melihat kakek
yang begitu tak berdaya selama 26 tahun di penjara. Si kakek merasa begitu
sedih karena ia dipertemukan dengan seseorang yang telah membuatnya masuk
penjara dan merasakan kepedihan selama 26 tahun. Apalagi suatu hari si kakek
memergoki orang itu sedang menyiapkan lubang untuk jalan keluarnya dari
penjara. Orang itu lalu mengancam untuk membunuh si kakek kalau-kalau ia
memberitahu kepada penjaga apa yang dilakukannya.
Tapi, apa yang terjadi? Suatu hari lubang itu
ditemukan oleh penjaga, lalu penjaga bertanya kepada para tahanan siapa yang
bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut. Semua tahanan tidak ada yang
mengaku. Penjaga lalu bertanya kepada si kakek, karena mereka menganggap si
kakek tidak pernah berbohong dan pasti menyebutkan siapa pelakunya. Tapi,
anehnya si kakek malah bungkam. Dengan bijaknya ia menjawab bahwa ia tidak tahu
apa atau siapa yang membuat lubang tersebut. Hanya Tuhan yang tahu. Si pelaku
merasa begitu lega, dan akhirnya kasus tersebut ditutup.
Suatu malam, si pelaku mendatangi kakek tersebut.
Ia begitu berterima kasih karena telah menyelamatkannya. Ia malah merasa begitu
menyesal karena telah membuat kakek tua itu menderita selama 26 tahun. Bahkan
pelaku tersebut meneteskan air mata dan ingin mengakui kesalahannya di depan
penjaga bahwa ia-lah yang telah melakukan pembunuhan 26 tahun yang lalu.
Melihat si pelaku menangis, si kakek tua itu pun tak sanggup menahan air
matanya. Ia ingin sekali bebas, namun apalah daya. Istrinya telah lama mati dan
anak-anaknya sudah tidak tahu siapa dirinya lagi. Namun, si pelaku tetap merasa
berdosa dan ingin mengeluarkan kakek tua itu dari penjara. Singkat cerita,
ketika kakek tua itu akan dibebaskan, ia meninggal dalam damai dan telah
menemukan kebebasannya yang sesungguhnya.”
Membaca buku ini, membuat saya tenang sembari
menyadari bahwa hidup yang keras ini memang layak diperjuangkan. Perjalanan
hidup adakalanya berisi kisah-kisah pahit yang menyedihkan sebagai teguran agar
kita tidak terbuai dengan cerita-cerita euforia yang melenakan.
Bisa jadi saat ini saya menghadapi keadaan yang
membosankan, monoton, malas, tak nyaman, atau bahkan menghimpit jiwa, adalah
cara Tuhan untuk mengajari saya tentang arti kesabaran. Atau lebih jauh,
mungkin Tuhan menuntut saya agar lebih bijak memaknai hidup; melihat secara
positif setiap peristiwa, memaafkan orang lain, meninggalkan dendam, mendengarkan
nasehat baik, menolong orang lain, dan sebagainya.
Semuanya adalah kepingan puzzle yang akan tergambar sempurna bila
dipasang dengan tepat. Rencana Tuhan tentu akan berakhir dengan bahagia bila
kita mampu menyikapinya secara positif, berlapang dada menerima apa yang ada.
Karena sebenarnya, Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu…
Apa yang saya rasakan sekarang, merindu dan mencinta, harus
disikapi dengan positif pula. Tak jarang kita saksikan orang yang mencinta
menjadikan cintanya sebagai media rekreasi belaka. Atau bahkan yang lebih
parah, mencinta dijadikan pintu awal menuju kehidupan yang nista. Beberapa
orang (kebanyakan?) menganggap cinta tidak sakral. Ungkapan-ungkapan “gombal”
seperti “I Love U”, “aku sayang kamu”, “aku rindu kamu”, dan sejenisnya menjadi
sesuatu yang lumrah diungkapkan kepada siapa saja tanpa mau mempertimbangkan apakah
orang yang mendapat ungkapan seperti itu adalah orang yang tepat atau bukan.
Namun, saya menilai cinta sebagai sesuatu yang sakral, tidak mudah
melepaskan kata-kata gombal seperti tadi pada orang yang –bagi saya- kurang
tepat. Karena dengan mengatakan demikian, tentu saja konsekuensinya tidak
sederhana. Seperti kata Caputo dalam bukunya On Religion, saya berupaya
membawa cinta yang saya miliki pada tingkat cinta maksimum, meski nyatanya hal itu
tidak mudah dilakukan.
Katanya, cinta minimum adalah cinta yang biasa, cinta yang kerap
dirasakan orang pada umumnya, yakni mencintai seseorang karena kecantikannya, ketampanannya,
kepintarannya, kekayaannya, keanggunannya, kebaikannya, kejujurannya, dan
alasan-alasan positif lainnya. Beda dengan itu, cinta maksimum justru
sebaliknya. Mencintai orang lain tidak hanya alasan yang positif saja,
melainkan mencintai sekaligus dengan kekurangan dan keterbatasannya. Menyadari bahwa
tak ada manusia yang sempurna. Cinta ini tidak dimiliki semua orang, cinta yang
hanya dirasakan oleh mereka yang tulus mencintai, seperti cintanya Kahlil
Gibran kepada May Ziadah.
Mencintai berarti merindui. Dua aktifitas ini saling terkait, tidak
bisa dipisahkan. Bilamana benih-benih cinta itu ada, ketika itu pula rindu akan
tiba. Rindu itu bagaikan secangkir kopi. Meski pahit, masih ada manis yang bisa
dirasa lidah. Manis-pahit, sakit-nikmat, duka-bahagia, sedih-gembira, begitu
kira-kira yang orang rasakan ketika merindukan orang yang dicintainya. Tidak
salah ketika Ariev Syauqi dalam bukunya Karena Aku Rindu Kamu menyebut
rindu sebagai risalah “derita” yang “nikmat”. Ah, dasar rindu, membuat orang
jadi ambigu. J
Dari kerinduan saya banyak belajar. Rindu adalah guru. Mengajari
tentang arti penting keberadaan seseorang setelah ia tiada. Seperti orang yang
penglihatannya terganggu atau bahkan buta, mereka akan menyadari kala itu
betapa berharganya penglihatan mata. Mampunya melihat sering tidak dirasakan
arti pentingnya ketika mata masih normal. Sepertinya biasa-biasa saja, karena
memang lumrahnya kebanyakan orang melihat. Tapi, apa yang akan dirasakan
selanjutnya ketika tiba-tiba penglihatan itu tidak ada? Begitu pula dengan
rindu.
Kalau tidak karena rindu, bagaimana mungkin penyair sekaliber
Kahlil Gibran menghasilkan berjibun puisi yang dikenang sampai sekarang?
Ternyata adakalanya rindu menyimpan power yang luar biasa. Tergantung
bagaimana masing-masing orang menyikapinya. Kerinduan yang produktif dan
membuat orang lebih dewasa tentu itulah yang diharapkan. Tidak sekedar
mengingat seseorang lalu tumbuh hasrat yang kuat untuk bertemu dengannya. Rindu
yang minimum itu namanya. Karena, sebenarnya rindu tidak terikat keadaan dan
waktu. Tidak bertemu beberapa menit
saja, kadang ingin sekali mengatakan I Miss You. J
Lalu banyak orang bertanya, apa obatnya rindu? Bertemu? Bisa jadi.
Tapi itu bukan jawaban satu-satunya. Karena, pertemuan justru kadang menjadi
perantara untuk mencipta rindu-rindu yang frekuensinya lebih tinggi. Ada lagi
yang bertanya begini, kenapa merindu? Apa karena lama tidak bertemu? Tidak
juga. Karena terkadang ditinggal beberapa detik saja, kadang rindu ini muncul
tiba-tiba (hah rindu, apa sih yang kamu inginkan?) atau tidak bertemu
setahun pun kadang tidak tercipta rindu. Jadi, tidak salah saya mengatakan,
rindu itu tidak terikat waktu. Datang kapan saja ia mau. Bagaimana lalu
menyikapi rindu? Ya rasakan saja….
Kerinduan adalah bagian hidup yang mesti dihayati dan direnungkan
untuk mencapai taraf yang lebih arif dan bijaksana. Kata Socrates, hidup yang
tak dihayati tak layak dijalani. Saya hanya berusaha agar rindu ini membuat
saya lebih produktif. Mengarahkan kepada hal-hal yang positif agar tidak
mengganggu. Menjadi inspirasi dalam segala hal untuk menjadikan hari-hari
kedepan lebih baik dan bermanfaat. Saya yakin, menghayati rindu dan
menjadikannya sebagai sumber inspirasi membuat hari-hari yang tadinya hambar menjadi
lebih bermakna.
Beda lagi bila rindu disikapi dengan cara yang tidak konstruktif. Banyak
memang orang yang merindu hanya membuang-buang waktu dengan banyak berhayal dan
berimajinasi, sehingga hal demikian kadang mengganggu aktifitas-aktifitas lain
yang lebih bermanfaat. Atau seperti kebanyakan remaja yang seringkali
menjadikan rindunya sebagai pintu masuk bagi setan untuk menggoda; ingin ketemuan,
janjian, berduaan, berdekatan, berpegangan, ciuman, dan akhirnya….. Setan
tertawa kegirangan.
Setiap orang pasti memiliki pengalaman yang berbeda ketika merindukan
orang yang dicintainya. Cara menyikapinya pun juga tidak akan sama. Seperti
saat ini, rindu tiba-tiba menggerakkan jemari saya untuk menulis catatan harian
yang serampangan macam ini. Tujuannya jelas, saya hanya menginginkan rindu yang
produktif. Dan suatu saat, rindu ini pasti akan bertemu dengan yang
dirindukannya. Bermuara dalam biduk cinta. Tuhan Maha Tahu, tapi Dia Menunggu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar