Halaman

Sabtu, 14 Desember 2013

Bosan



Ketika bosan mulai menyerang, apa yang akan Anda lakukan? Jawabannya tentu bermacam-macam. Mungkin ada yang akan menjawab begini; jalan-jalan, ngumpul bersama teman, mendengarkan musik, shopping, menonton TV, facebook-an, teleponan, masak, menulis, membaca buku, dan masih banyak lagi jawaban lainnya. Rasa bosan memang sering menghinggapi siapa saja dan kapan saja. Tidak tahu waktu. Ketika bosan itu mulai datang, maka tentunya kita akan berusaha menghilangkannya dengan cara bagaimanapun. Karena bosan itu rasanya tidak enak. Menusuk-nusuk perasaan. 

Pekerjaan, aktivitas, dan rutinitas yang kita jalani setiap hari tak jarang mengundang rasa bosan. Bahkan tidak punya aktivitas pun bisa jadi akan menjadi pemicu bosan. Ternyata, bosan itu hadir dalam keadaan bagaimanapun saja, tidak tentu karena kesibukan (semoga kita tidak bosan dengan rutinitas matahari yang terbit dari timur). 

Bosan memang perasaan yang kerap mengganggu dan membikin tak enak perasaan. Ia datang mengganggu pikiran manusia. Semua pekerjaan bisa jadi tidak selesai sesuai rencana gara-gara bosan. Dalam hubungan persahabatan, kekeluargaan, dan hubungan-hubungan lainnya juga bisa berakhir tidak baik gara-gara bosan. Kalau rasa bosan terus dibiarkan, pada tahapan selanjutnya bisa mengakibatkan pikiran stress dan depresi. Bosan benar-benar membawa petaka. 

Pertanyaannya sekarang, kenapa ada perasaan bosan? Saya yakin Anda akan sepakat dengan jawaban saya, karena bosan itu adalah manusiawi. Dalam kitab Minahus Saniyah, buah tangan Imam al-Ghazali, disebutkan bahwa bosan adalah fitrah manusia. Maka dari itu, Allah sengaja menciptakan hiburan dan kesenangan-kesenangan sebagai antisipasi menghilangkan rasa bosan itu. 

Bosan itulah yang kerap kali menghinggapi diri saya belakangan ini. Ia tak jemu menemani hari-hari saya. Kadang saya bosan menjalani aktivitas saya sebagai tenaga pengajar dan kadang saya juga bosan dengan kekosongan aktivitas. Bagi saya, bosan tak ubahnya dengan penyakit akut semacam serangan jantung, stroke, ginjal, dan penyakit berbahaya lainnya. Ia bisa saja mematikan kreativitas-kreativitas saya. Bagaimana tidak, ketika saya akan mengoptimalkan potensi diri atau melakukan aktivitas untuk mengembangkan diri kadang saya merasa bosan. Benar-benar mengganggu, bukan? 

Ketika bosan ini datang di waktu senggang, maka salah satu cara yang bisa saya lakukan adalah melakukan kegiatan yang saya minati. Dengan cara begitulah, kebosanan yang sering kali mendera saya bisa sedikit sirna. Pagi hari, misalnya, saya mencoba menghirup udara di luar rumah sambil menikmati terbitnya matahari di sawah. Atau kalau tidak, saya mengajak sahabat saya untuk bermain badminton agar peluh bisa keluar dari tubuh. Memang terkesan biasa-biasa saja, tapi kadang hal kecil dan biasa itulah yang bisa menghibur pikiran dan hati saya. Setelah jalan-jalan pagi atau bermain badminton pikiran saya bisa sedikit lebih segar dan cemerlang, sehingga siap memulai aktivitas harian. Benar sekali kata Ali bin Abi Thalib, hati dan pikiran manusia butuh hiburan. 

Ketika lama saya renungkan, ternyata bosan akan cepat datang ketika kita tidak menikmati dan mencintai aktifitas yang kita lakukan. Saya sering mengeluh dan jenuh ketika mengajar di sekolah bilamana saya tidak menikmati dan mencintai aktifitas tersebut. Yang terbayang di benak saya ketika itu adalah saya hanya akan berceramah di depan kelas dan murid-murid hanya mendengarkan. Namun, akan berbeda ceritanya ketika saya menikmati aktivitas mengajar bersama murid-murid tercinta. Saya bisa memunculkan inovasi-inovasi baru untuk membuat suasana belajar tampak lebih menyenangkan. Di sana, saya akan menemukan keceriaan, lebih enjoy, dan lebih dekat dengan jiwa anak didik saya. 

Yang tak kalah penting untuk mengusir rasa bosan adalah bersyukur dengan apa yang kita miliki. Nah, cara ini mungkin lebih ampuh dari cara-cara yang disebut sebelumnya. Ini bukan cara yang utopis lho. Dengan mensyukuri nikmat berarti kita telah berusaha menerima apa pun yang ada di hadapan mata, baik itu posisi yang sangat nyaman ataupun keadaan yang tidak nyaman sekalipun. Benar saja jika cara seperti ini bisa menyempitkan keluhan-keluhan dan perasaan merasa kurang yang sering hinggap di pikiran. 

Saya tahu kalau rasa bosan yang menusuk-nusuk perasaan ini tidak segera dilenyapkan, hari-hari yang saya lalui akan terasa hambar dan tidak akan mendatangkan sesuatu yang lebih bermanfaat. Waktu saya tentu akan terbuang sia-sia. Maka dari itulah, saya mengambil laptop, berpikir, dan menuliskan apa yang saya rasakan sekarang. Setidaknya, hal itu bisa memelihara keistiqamahan saya untuk menulis, meski tulisan ini abal-abal dan terhidang ala kadarnya. Yang penting saat ini saya terhindar dari perasaan bosan dan tetap bisa menulis.


Lenteng Barat, 14 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar