Ketika bosan mulai menyerang,
apa yang akan Anda lakukan? Jawabannya tentu bermacam-macam. Mungkin ada yang akan
menjawab begini; jalan-jalan, ngumpul bersama teman, mendengarkan musik, shopping,
menonton TV, facebook-an, teleponan, masak, menulis, membaca buku, dan masih
banyak lagi jawaban lainnya. Rasa bosan memang sering menghinggapi siapa saja
dan kapan saja. Tidak tahu waktu. Ketika bosan itu mulai datang, maka tentunya kita
akan berusaha menghilangkannya dengan cara bagaimanapun. Karena bosan itu rasanya
tidak enak. Menusuk-nusuk perasaan.
Pekerjaan, aktivitas, dan
rutinitas yang kita jalani setiap hari tak jarang mengundang rasa bosan. Bahkan
tidak punya aktivitas pun bisa jadi akan menjadi pemicu bosan. Ternyata, bosan
itu hadir dalam keadaan bagaimanapun saja, tidak tentu karena kesibukan (semoga
kita tidak bosan dengan rutinitas matahari yang terbit dari timur).
Bosan memang perasaan yang
kerap mengganggu dan membikin tak enak perasaan. Ia datang mengganggu pikiran
manusia. Semua pekerjaan bisa jadi tidak selesai sesuai rencana gara-gara
bosan. Dalam hubungan persahabatan, kekeluargaan, dan hubungan-hubungan lainnya
juga bisa berakhir tidak baik gara-gara bosan. Kalau rasa bosan terus
dibiarkan, pada tahapan selanjutnya bisa mengakibatkan pikiran stress dan
depresi. Bosan benar-benar membawa petaka.
Pertanyaannya sekarang,
kenapa ada perasaan bosan? Saya yakin Anda akan sepakat dengan jawaban saya,
karena bosan itu adalah manusiawi. Dalam kitab Minahus Saniyah, buah
tangan Imam al-Ghazali, disebutkan bahwa bosan adalah fitrah manusia. Maka dari
itu, Allah sengaja menciptakan hiburan dan kesenangan-kesenangan sebagai
antisipasi menghilangkan rasa bosan itu.
Bosan itulah yang kerap
kali menghinggapi diri saya belakangan ini. Ia tak jemu menemani hari-hari
saya. Kadang saya bosan menjalani aktivitas saya sebagai tenaga pengajar dan
kadang saya juga bosan dengan kekosongan aktivitas. Bagi saya, bosan tak
ubahnya dengan penyakit akut semacam serangan jantung, stroke, ginjal, dan penyakit
berbahaya lainnya. Ia bisa saja mematikan kreativitas-kreativitas saya. Bagaimana
tidak, ketika saya akan mengoptimalkan potensi diri atau melakukan aktivitas
untuk mengembangkan diri kadang saya merasa bosan. Benar-benar mengganggu,
bukan?
Ketika bosan ini datang di
waktu senggang, maka salah satu cara yang bisa saya lakukan adalah melakukan
kegiatan yang saya minati. Dengan cara begitulah, kebosanan yang sering kali mendera
saya bisa sedikit sirna. Pagi hari, misalnya, saya mencoba menghirup udara di
luar rumah sambil menikmati terbitnya matahari di sawah. Atau kalau tidak, saya
mengajak sahabat saya untuk bermain badminton agar peluh bisa keluar
dari tubuh. Memang terkesan biasa-biasa saja, tapi kadang hal kecil dan biasa
itulah yang bisa menghibur pikiran dan hati saya. Setelah jalan-jalan pagi atau
bermain badminton pikiran saya bisa sedikit lebih segar dan cemerlang,
sehingga siap memulai aktivitas harian. Benar sekali kata Ali bin Abi Thalib, hati
dan pikiran manusia butuh hiburan.
Ketika lama saya
renungkan, ternyata bosan akan cepat datang ketika kita tidak menikmati dan
mencintai aktifitas yang kita lakukan. Saya sering mengeluh dan jenuh ketika
mengajar di sekolah bilamana saya tidak menikmati dan mencintai aktifitas
tersebut. Yang terbayang di benak saya ketika itu adalah saya hanya akan
berceramah di depan kelas dan murid-murid hanya mendengarkan. Namun, akan
berbeda ceritanya ketika saya menikmati aktivitas mengajar bersama murid-murid
tercinta. Saya bisa memunculkan inovasi-inovasi baru untuk membuat suasana
belajar tampak lebih menyenangkan. Di sana, saya akan menemukan keceriaan, lebih
enjoy, dan lebih dekat dengan jiwa anak didik saya.
Yang tak kalah penting
untuk mengusir rasa bosan adalah bersyukur dengan apa yang kita miliki. Nah,
cara ini mungkin lebih ampuh dari cara-cara yang disebut sebelumnya. Ini bukan
cara yang utopis lho. Dengan mensyukuri nikmat berarti kita telah berusaha menerima
apa pun yang ada di hadapan mata, baik itu posisi yang sangat nyaman ataupun
keadaan yang tidak nyaman sekalipun. Benar saja jika cara seperti ini bisa
menyempitkan keluhan-keluhan dan perasaan merasa kurang yang sering hinggap di
pikiran.
Saya tahu kalau rasa bosan
yang menusuk-nusuk perasaan ini tidak segera dilenyapkan, hari-hari yang saya
lalui akan terasa hambar dan tidak akan mendatangkan sesuatu yang lebih
bermanfaat. Waktu saya tentu akan terbuang sia-sia. Maka dari itulah, saya
mengambil laptop, berpikir, dan menuliskan apa yang saya rasakan sekarang.
Setidaknya, hal itu bisa memelihara keistiqamahan saya untuk menulis, meski
tulisan ini abal-abal dan terhidang ala kadarnya. Yang penting saat ini saya
terhindar dari perasaan bosan dan tetap bisa menulis.
Lenteng Barat, 14
Desember 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar